12 Oktober, 2015

Tuhan Tak Menghendaki Prabowo Jadi Presiden


Ketika pemilihan presiden tahun 2014 yang lalu banyak yang mengatakan Calon Presiden Joko Widodo maupun Prabowo Subianto sebagai titisan Soekarno. Bahkan ramalan mitos Notonegoro pun masih tetap diyakini walaupun akhiran nama seorang tokoh sebenarnya tidak sesuai (tidak cocok) dengan mitos tersebut.

Lalu bagaimana dengan ramalan Jongko Joyoboyo? Menurut Permadi SH, orang yang sering dimintai pendapat soal hasil terawangannya, masa jabatan Presiden Joko Widodo paling lama sampai awal 2016. Hal itu bukan tanpa sebab, menurut Permadi sebelum Jokowi jatuh akan ada goro-goro lebih besar dibanding tahun 1965.

Lalu bagaimana ramalannya jika kursi Presiden saat ini diduduki oleh Prabowo Subianto? Kepada Laurel Benny Sharon Silalahi dan Arbi Sumandoyo dari merdeka.com, Permadi mengatakan bahwa Prabowo belum mendapat restu untuk menjadi presiden. Apalagi jika dia maju dalam Pemilihan Presiden tahun 2019 nanti, Prabowo diyakini juga bakal kalah lagi.

Peluang Prabowo menjadi presiden hanya pada tahun 2016, dimana setelah Jokowi lengser oleh rakyat, bekas Danjen Kopassus itu bisa duduk sebagai presiden. “Tidak akan bisa, tidak bisa Prabowo menang. Tuhan tidak menghendaki itu,” kata Permadi saat berbincang dengan merdeka.com di kediamannya, Jumat pekan lalu.


Berikut kutipan Wawancara Permadi SH soal ramalannya yang dia percaya akan terjadi.

Ada yang menyebut Prabowo dan Jokowi itu titisan Soekarno?

Prabowo dan Jokowi kita hitung, seharusnya Prabowo menang, karena Prabowo lebih dahulu terkenal dibanding Jokowi. Dan juga banyak yang suka dan banyak yang membenci Prabowo. Apalagi Amerika, pada saat (pemilu) itu Prabowo harus kalah, karena dia dituding pelanggar HAM. China juga mengatakan prabowo harus kalah karena dituding dalang pembunuhan orang China pada kerusuhan Mei 1998. Nah itu sebenarnya kalau mau jujur Prabowo itu menang tipis tapi di balik angkanya sedemikian rupa. Apa yang diproteskan oleh Prabowo (di MK) tidak ada yang menang.

Bagaimana Jokowi yang (saat itu) belum dikenal bisa menang? Orang Ambon, Papua, Sulawesi, banyak sekali yang belum tahu Jokowi. Bagaimana bisa? Saya merasa ada kecurangan yang disponsori oleh China dan Amerika. Karena China dan Amerika itu sekarang ini rebutan rejeki di Indonesia, jadi mereka bagi dua. China bagian timur, Amerika bagian barat. Perdagangan (bisnis) kita sekarang ini betul-betul dikuasai China dan Amerika. Kembali neolib berkuasa, nah kalau neolib berkuasa arwah tanah leluhur termasuk Bung Karno tidak mengikhlaskan. Inilah yang mendorong rakyat untuk berontak, apalagi karena Bung Karno mengatakan revolusi belum selesai.

Siapa kawan, siapa lawan. Kawan siapa, lawan siapa?

Kalau misalkan pemilihan presiden kemarin Prabowo yang menang, ramalan anda seperti apa?

Tidak akan bisa, tidak bisa Prabowo menang, Tuhan tidak menghendaki itu. Kalau Prabowo menang masih akan lama Indonesia rusak porak porandanya, karena dia punya ketegasan. Oleh karena itu harus dipimpin oleh orang yang memble, yang nggak ngerti apa-apa, yang kalau membuat keputusan belum dijalankan sudah dicabut.

Ada kepercayaan bahwa pemimpin Indonesia harus dari orang Jawa?

Saya sebenarnya menyatakan kalau toh presiden itu orang Jawa, itu bisa dimengerti karena orang Jawa itu tinggal di pulau dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia. Pak Harto, Bung Karno itu memang benar orang Jawa. Tetapi kalau kita pikir, Pak Habibie sendiri bukan orang Jawa, beliau orang Makassar, orangtuanya. Jadi sulit yah mengatakan apakah Bung Karno itu orang Jawa Asli, Pak Harto juga tidak menyebut nama ayahnya. Kalau lihat kulitnya kuning cakep, Pak Harto itu sepertinya bukan orang desa di Jawa.

Jadi ramalan Notonegoro itu menurut bapak seperti apa?

Notonegoro itu bukan ramalan Jongko Joyoboyo. Itu ramalan Profesor Doktor, guru besar di Yogyakarta. Dia mengatakan lihat saja nanti presiden di Indonesia itu mengikuti nama saya Notonegoro. Itu akal-akalan profesor saja. Joyoboyo mengatakan satrio piningit.

Tokoh besar diukur dari kebesaran jiwa dan kebesaran hatinya untuk menerima kenyataan dengan ikhlas dan lego lilo lillahi ta'ala.

Apakah satria piningit ini masih masuk keturunan raja Majapahit?
Memang ada kaitannya, dan inilah saat kebangkitan kerajaan Majapahit. Majapahit kan jatuh di tangan Brawijaya Pamungkas, lalu dijatuhkan lagi oleh anaknya. Setelah itu Brawijaya bersumpah, memang saat ini jatuhnya Majapahit tetapi ingat sekian ratus tahun yang akan datang akan saya tagih kembali. Nah pada saat Majapahit jatuh akhirnya itu Sirno Ilang Kertaning Bumi, hilang lah kesejahteraan dan kemakmuran di Nusantara. Nah sekarang ini tidak hanya Sirno Ilang Kertaning Bumi, namun hilang jugalah angkara murka kemudian akan muncul kejayaan bumi kembali, kembalilah kejayaan Majapahit .

Jadi memang satria piningit keturunan Majapahit?

Betul, tapi kan sudah ribuan tahun, jadi bisa orang Batak, Makassar, bisa juga di luar Jawa.

Bagaimana jika Prabowo maju 2019 apakah akan menang?

Saya menyatakan pada Prabowo, kalau kamu maju lagi 2019 habis kamu. Tak ada yang tersisa. Kamu tunggu saja Jokowi jatuh paling lama tahun 2016, kalau berani kamu lakukan revolusi sekarang, kalau nggak tidak ada lagi nama kamu.

Menurut Anda Prabowo bisa maju mengambil alih kursi kepresidenan tahun 2016?

Terserah dia berani atau tidak? Tinggal nunggu berjuangnya saja. Kalau tidak akan terlambat, buat apa nunggu pemilu akan datang.

Siapa mirip siapa tidaklah penting, yang lebih penting adalah karakter pribadi yang lebih bisa diterima dan diharapkan oleh lebih banyak orang.

Anda mengatakan bahwa anda penyambung lidah Bung Karno, bisa dijelaskan?

Kalau itu saya sadar. Saya sangat bangga dibilang penyambung lidah Bung Karno. Mengapa? Bung Karno bagi saya adalah manusia dewa, pikirannya tak bisa dicerna, cemerlang sekali, 100 tahun baru bisa dijangkau. Dia menjongkokan (meramalkan) kemerdekaan tahun 45. Dan dari tahun 20 dia sudah mengatakan, kalau kita dijajah Jepang nanti kita pasti merdeka. Dia menjalankan trisakti itu benar semua, Pancasila itu benar semua, Undang-Undang Dasar itu benar semua.

Ketika dia dijatuhkan Pak Harto, di mana-mana terjadi de-Soekarnoisasi. Kalau ada orang yang memasang gambar Bung Karno ditangkap, dipenjara. Saya tidak takut, malah memasang gambar banyak foto Bung Karno di rumah saya dan ketika Bung Karno meninggal pada saat gawat-gawatnya tahun 1970, saya menyatakan bahwa saya penyambung lidah Bung Karno, saya bangga dengan itu. Saat itu saya sumpah di makam Bung Karno.

Resikonya tidak kecil saat saya mengatakan itu. Pada saat itu Pak Harto memburu saya. Tahun 70-an saya dikejar-kejar, saya dipenjara, saya ditangkap polisi belasan kali. Di penjara satu kali, dihukum mati dalam BAP dua kali. Itu pada saat peristiwa 27 Juli dan pada saat peristiwa Semanggi. Saya ketangkep di lapangan, saya di BAP polisi hukuman mati, tapi saya lolos yang menyelamatkan saya Pak Harto. Pak Harto sebenarnya sayang sama saya, sekalipun dia tahu saya penyambung lidah Bung Karno.

Ketika beliau tahu saya mau dihukum mati, Pak Harto panggil Pak Benny Moerdani, Permadi dalam kesulitan kamu urus. Benny yang mengambil BAP di kantor polisi. Ketika saya dihukum di Yogya, Pak Benny memasukkan 11 orang personel militer melindungi saya karena saya mau dibunuh, dan itu bukti. Nah pada waktu saya di Gerindra, Prabowo berpidato kepada kader Gerindra semua, dia bilang saya pernah mendapat perintah membunuh Permadi. Tapi saya (Permadi) hormat sama dia karena dia tidak melakukannya, karena yang memerintah bukan Pak Harto, waktu itu yang memerintah Pangab.


Bung Karno pernah berkata “kutitipkan negeri ini”. Lalu ada yang memahaminya bahwa Bung Karno akan balik lagi. Apakah Anda percaya?

Bukan. Bukan itu maksudnya. Itu maksudnya kan hanya menjadi pendamping. Bung Karno menurut keyakinan saya tidak meninggal tapi mukso, seperti Yesus Kristus, di salib mati, tiga hari hidup lagi. Karena itu banyak orang yang melihat Bung Karno di Bogor, di Blitar, di pantai selatan, yah bisa saja, penglihatan orang kan beda-beda. Kalau saya ikut yakin Bung Karno tidak mati.

Bagaimana Anda melihat UUD 45 yang Anda percayai sudah dibuat oleh Bung Karno namun diubah oleh Megawati?

Bung karno adalah arsitek undang-undang dasar. Banyak sekali masterpiece buatan Bung Karno. Dan kalau kita lihat sebenarnya undang-undang dasar itu mencerminkan Indonesia sebagai negara kerajaan. Raja yang harus berkuasa karena itu presiden sangat berkuasa menjadi mandataris MPR. Itu yang bisa menjadikan dia diktator. Tapi Bung Karno tidak mau seperti itu. Rakyat yang dipentingkan.

Kemudian diamandemen. Saya anggota MPR waktu itu. Saya menolak, sekalipun Megawati tidak bisa terima. Permadi menolak catatan amandemen undang-undang. Karena menurut saya itu adalah pengkhianatan terhadap undang-undang dasar yang asli, terhadap Pancasila yang asli. Termasuk SBY saya beri tahu, Anda mengkhianati Pancasila sehingga dia tidak mau bergaul dengan saya.


Bayangkan sila ke-4, “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat, kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.” Jadi kalau mau memutuskan, yang penting harus melalui permusyawaratan perwakilan. Itu yang penting. Pemilihan presiden, pemilihan kepala daerah itu harus permusyawaratan perwakilan, tidak boleh langsung, (bila dipilih langsung) itu pengkhianatan terhadap Pancasila.

Jadi Bung Karno itu ada sejarahnya mengapa dia merumuskan Pancasila. Pada waktu itu rakyat (penduduk) Indonesia sekitar 100-an juta, tinggal di 17.000 pulau dan masih banyak yang telanjang, masih banyak yang nomaden. Tidak ada televisi, tidak ada BH, jadi bagaimana mereka bisa kenal siapa Bung Hatta, siapa Syahrir, oleh karena itu harus ada perwakilan. Perwakilannya kan ada di antara mereka yang sekolah sarjana, itulah yang diangkat sebagai DPR-MPR. Itulah permusyawaratan perwakilan, jadi tidak ada pemilihan langsung. Nah alasan (kenapa diadakan pemilihan langsung), zaman SBY waktu itu DPR-MPR bisa disuap.

Jadi ini harus kembali ke UUD 45. Makanya itu saya keluar dari PDI.

Wawancara dengan Paranormal Permadi SH
Merdeka.com, Jakarta, 11 September 2015
Reporter: Arbi Sumandoyo, Laurel Benny Sharon Silalahi
http://www.merdeka.com/khas/tuhan-tidak-menghendaki-prabowo-jadi-presiden-wawancara-permadi.html

Tidak ada komentar: