13 Oktober, 2019

Muslim United, Gelaran Super “Radikal”


Diawali di Masjid Gedhe Kauman. Rencana dipindah ke UAD. Hingga berlabuh di Masjid Jogokariyan. Inilah lika-liku perjalanan Muslim United #2 (MU kedua). Yang berlangsung 11, 12, 13 Oktober 2019 di Yogyakarta.

Beberapa hari sebelum digelar pun, batu sandungan telah datang.

Tersebar kabar jika Ngarso Dalem selaku pemilik Masjid Gedhe tidak berkenan apabila Masjid Kagungan Dalem tersebut dipergunakan. Meski takmir dan masyarakat sekitar tidak mempermasalahkan.

Bahkan putri bungsu Raja dalam akun Instagram beliau, menghimbau warga Jogja agar tidak hadir di MU karena “kelihatannya ada unsur kesengajaan dan provokasi.” Di bawahnya diberi tagar #jogjacintadamai #jogjatoleran.


Meski tidak clear alasan pihak keraton tidak mengizinkan penggunaan masjid, namun menurut panitia pelaksana dari presidium Forum Ukhuwah Islamiyah (FUI) DIY, bapak Syukri Fadholi menduga penolakan itu karena pihak keraton menerima informasi salah.

Sebab banyak beredar informasi yang menyebutkan bahwa kegiatan MU diisi oleh orang-orang berpaham radikal. Bahkan ada beberapa ustadz yang diminta untuk tidak tampil karena dianggap radikal.

Hmm .... Radikal lagi. Lagi-lagi radikal. Ada kelompok Islam radikal. Ustadz radikal. Masjid radikal. Dosen radikal. Guru besar radikal. Mahasiswa radikal. Universitas radikal. Opo maneh?


Tapi, okelah. Jika dipandang radikal, gelaran MU memang super "radikal" kok. Gimana nggak "radikal" coba?

1. Peserta hadir dari berbagai penjuru Nusantara.

Ada yang jauh hari sudah booking hotel. Ada yang menginap di tempat saudara, dll. Perjalanan jauh lewat darat dan udara tak mengapa demi bersua saudara.

Sedulur saklawase. Saudara selamanya. Seperti judul taushiyah Ustadz Oemar Mita: Bertemu di Dunia, Bertetangga di Surga. Maa syaa Allah.

2. Kajian nonstop dari ba'da Subuh hingga malam pukul sepuluh.

Ada sekitar sepuluh forum kajian berturut-turut digelar setiap harinya. Bagi pecinta ilmu, gimana nggak serasa dimanjakan coba? Asyiknya, bisa bersua lama dengan taman surga.


3. Panitia yang tangguh dan solid.

Gimana nggak tangguh? Beberapa waktu sebelum hari H, isu MU batal kian santer. Izin masih menggantung. Panitia berupaya terus meyakinkan masyarakat, bahwa apapun yang terjadi, MU tetap berlangsung. Silakan tetap hadir. Takbir !!!

Di hari pertama MU, sejumlah insiden terjadi. Travo meledak, air wudlu menipis, tekanan aparat kian kritis. Tapi, the show must go on, Gaes! Demi satu tujuan, tegaknya syiar Islam dan hukum Allah. Apapun diupayakan.

4. Peserta pecah! Tumplek bleg. Tumpah ruah!

Di hari pertama, membludak dari Masjid Gedhe hingga Alun-alun Utara. Dan hebatnya, jamaah putra terus diupayakan terpisah dengan putri. Agar tidak terjadi campur-baur.

Pindah ke Masjid Jogokariyan ternyata tak memadamkan hasrat untuk hadir. Bahkan antusiasme peserta lebih tinggi. Ratusan meter sebelum masjid, jalan dari berbagai arah penuh peserta. Hingga masuk ke gang-gang dan halaman rumah penduduk sekitar masjid. Maa syaa Allah, terharuuu ....


5. Apapun harokahmu, kau tetap saudaraku.

Adeemm! Seluruh elemen umat bersatu. Bahu-membahu saling membantu. Petugas keamanan saja dari berbagai kelompok: Kokam, Harokah Islamiyah, FUI, FPI, FJI, hingga santri Hidayatullah.

Panitia bidang lain juga gabungan dari berbagai lembaga, komunitas, dan kelompok Islam. Tanpa melihat latar belakang dan perbedaan masing-masing. Pokoknya, Islam bersatu tak bisa dikalahkan, bukan sekadar slogan deh!

6. Manis dan kentalnya nuansa ukhuwah ngalahin teh nasgithelmu (panas, legi, kenthel) wis.

Berbagi senyum, berbagi tempat duduk, memberi akses jalan. Jamaah mudah sekali diarahkan panitia. Para pedagang juga legawa, lapaknya berhimpit dengan tempat duduk peserta.


Yah, gimana nggak radikal coba, suasana romantisme ukhuwah kayak gini nih. Nggak salah, jika umat Islam sebagai umat terbaik, memiliki karakter “Radikal” (RAmah, terdiDIk, dan beraKAL). Atau radikalis. Ada manis-manISnya gituh.

Jika RADIKAL bermakna amelioratif (positif) ini ditanyakan ke Antum. Siapa pengin jadi Muslim radikal? Pasti Antum sambil tunjuk satu jari ke atas akan katakan, "Saya!"

So, lawan narasi radikal yang bermakna peyoratif (buruk) ala rezim dan segenap kroninya dengan lisan kita. Sampaikan bahwa itu hanyalah narasi basi dan ngapusi, untuk membasmi kalangan Islam (politik) yang amat mereka takuti.

Pun, perlawanan secara efektif kita lakukan dengan pembuktian melalui tindakan. Terselenggaranya MU dengan indah tanpa kekerasan, sejatinya telah menjadi bukti bahwa Islam bukanlah ajaran radikal bermakna kekerasan. Umat Islam pun bukanlah kelompok radikal bermakna kekerasan.


Alhamdulillah ‘alaa kulli haal. Allah telah beri ujian untuk kita, agar kita mau dan bisa untuk saling menguatkan. Berbagai tekanan dari sana-sini, justru kian menyulut bara semangat umat. Pun, umat kian paham di mana dia akan berdiri dan memberikan dukungan.

Akhir kata, selamat untuk seluruh panitia dan peserta Muslim United #2. Baarokallaahu fii kum. Kalian juara!

Puspita Satyawati
https://www.facebook.com/puspita.satyawati/posts/2939084756105904