23 Juli, 2017

Mudik sebagai Perjalanan Suci


Tiap kali mendekati pekan mudik nasional, istri saya selalu bercerita tentang sahabatnya. Si sahabat asli Jogja, punya suami orang Lombok. Pasangan tersebut sama-sama kerja di Jogja, dan tiap Lebaran harus mudik ke Lombok. Nah, buat mudik sejauh itu bersama dua anak mereka, ongkos minimal 15 jutaan harus selalu mereka alokasikan. Untuk empat biji tiket pesawat PP, oleh-oleh, juga angpao Lebaran buat para keponakan.

Cerita semacam itu tentu lazim belaka. Namun ia selalu muncul sebagai dalil, sebelum kami memungkasi obrolan dengan mengucap syukur sembari meletakkan keluarga kami sendiri sebagai prototipe keluarga paling beruntung di muka bumi. “Alhamdulillah, kita nggak pernah perlu keluar duit sebanyak itu tiap Lebaran ....”

Kami memang nggak pernah mudik. Buat apa mudik? Lha wong dari kecil sampai beranak satu kami tinggal di udik terus, kok. Rumah kami di Bantul. Kalau mau ke rumah orangtua cukup naik motor 10 menit, mau ke rumah mertua cukup 25 menit. Peknggo saja, kalau istilah Jawa-nya. Ngepek tonggo, alias menikahi anak tetangga. (Tentu saja bukan tetangga beneran. Toh kami dulu kenal di kampus, bukan di pekarangan rumah waktu dia sedang menjemuri sarung bapaknya.)

Dengan situasi geografis seperti itu, momen Lebaran selalu sangat simpel buat kami sekeluarga. Ringkas, dan yang paling penting di atas segalanya: ekonomis.


Namun setelah saya pikir-pikir sambil nyeruput kopi selepas buka puasa, saya jadi malu sendiri. Betapa materialistisnya cara kami memandang sebuah prosesi akbar bernama pulang kampung. Suatu kemudahan hidup yang kami anggap sebagai berkah semata-mata karena kami merasa lebih irit dibanding orang-orang lain.

Padahal, hanya karena kami tak pernah repot mudik, apa lantas artinya tabungan kami tiba-tiba jadi menggelembung bertambah 15 juta? Duh, ternyata enggak hahaha ….

Saya jadi ingat peristiwa dua tahun silam, ketika seorang so-called intelektual melontarkan pandangan yang luar biasa cerdas tentang ibadah haji dan umroh. Dia mengatakan, “Biaya haji dan umroh yang 30 triliun per tahun itu bisa dipakai bikin 600 ribu rumah untuk orang miskin. Makanya mending nggak usah ke Mekah, tapi buat sosial saja.”

Gagasan itu jelas mulia, karena muatannya adalah keinginan untuk menolong fakir miskin. Di titik itu saya sendiri mendukungnya. Sayangnya, ada konstruksi logika yang terlalu matematis di situ. Akibatnya, sang intelektual malah jadi lupa bahwa yang sedang ia bicarakan bukan semata uang, melainkan juga manusia-manusia yang menggerakkan uang.


Begini maksud saya. Pernyataan tersebut mengandaikan bahwa di setiap dompet calon jamaah haji sudah teronggok duit, katakanlah masing-masing 40 juta rupiah. Maka, biar lebih bermanfaat, ibadah haji dihapus saja, sehingga untuk seterusnya setiap onggokan duit 40 juta per orang itu bisa disumbangkan untuk aksi sosial. Begitu, bukan?

Pertanyaan saya, memangnya dari mana datangnya duit 40 juta itu? Apakah waktu bangun tidur tahu-tahu mereka nemu buntelan di bawah bantal, yang isinya duit semua? Atau karena sejenis mukjizat tertentu, 168.000 orang itu (sesuai kuota tahun 2015) mendadak mendapati rekening mereka masing-masing menggembung dengan tambahan 40 juta entah dari mana?

Nah, sisi itu yang dilupakan oleh penggagas ide. Ia lupa bahwa ritual, dalam keyakinan apa pun, bukan sekadar tindakan fisik, namun juga aktivitas batin. Ritual bukan cuma memeras tenaga dan menyerap anggaran, namun juga menyalakan motivasi. Ritual bukan hanya melibatkan nota-nota pembayaran dan barang-barang belanjaan, melainkan juga spirit dan emosi.

Maka tak perlu heran ketika mendapati banyak orang menjadikan haji sebagai cita-cita ultimate mereka dalam hidup. Baju boleh kumal, rumah boleh reyot, tapi kepuasan hidup mereka diraih saat berhasil sowan ke Tanah Suci.

Naif? Irasional? Dari kacamata sekolahan mungkin iya. Tapi andai orang-orang itu tidak punya orientasi hidup untuk berhaji, apa lantas duit 40 juta bisa mereka dapatkan dari hasil kerja? Wo ya belum tentu …. Sebab sangat mungkin pembakar semangat mereka untuk bekerja keras ya impian haji itu!


Pendek kata, logika penghapusan ibadah haji seperti tergambar di atas adalah logika orang yang kepalanya hanya berisi kalkulator. Si so-called intelektual menafikan bahwa dalam hidup yang penuh misteri ini ada banyak sisi di luar kalkulasi rasional-mentahan yang mampu menggerakkan etos manusia.

Malang sekali, ternyata saya sendiri pun tak beda. Otak saya hanya berisi untaian biji-biji sempoa saat memahami ribuan orang yang berbondong-bondong pulang ke kampung halaman mereka. Padahal, mudik tak bedanya dengan haji.

Tunggu, tunggu. Jangan marah dulu dengan kalimat saya barusan. Tentu saya nyeletuk “mudik tak bedanya dengan haji” bukan dalam kerangka menyetarakan keduanya pada dimensi ibadah. Ini semata karena melihat kesamaan karakter pada dua ritual tersebut.

Dalam mudik, citra yang kasat mata adalah orang-orang pulang ke kampung, bertemu ayah-bunda dan sanak saudara. Namun di balik tampilan visual, yang bergerak adalah gairah untuk kembali ke akar, kerinduan, air mata, dan cinta.

Dalam mudik, tersedia momentum. Kita semestinya ingat Tuhan setiap saat, tapi agama menyediakan momentum sembahyang pada waktu-waktu khusus. Kita seharusnya senantiasa mengontrol naluri hewani kita agar menegaskan diri sebagai manusia, tapi agama menyediakan momentum bulan puasa. Begitu pula, kita sepantasnya tak henti mengasihi keluarga dan orang-orang tercinta, tapi ritual mudik menyediakan momentum agung untuk merayakan kerinduan kita.


Dalam mudik, biaya dihamburkan. Namun, tidak sempatkah terpikir bahwa sangat mungkin etos para lebah pekerja di kota-kota besar itu meluap-luap memang karena orientasi mudik? Mereka ingin pulang kampung setahun sekali sambil membawa kelimpahan kejayaan, membuat bangga orangtua mereka, membuat berdecak kagum kawan-kawan masa kecil mereka.

“Itu riya! Tradisi show off berpadu dengan konsumtivisme!”

Hoahmm, saya tidak sedang ingin pusing dengan hal-hal begituan. Memangnya kritik atas itu ngaruh seberapa jauh sih selama ini?

Biarlah soal-soal demikian diurus para ustaz dan pengamat sosial saja. Saya sendiri lebih suka melihat bahwa dalam pemborosan akibat mudik ada berkah bagi banyak orang. Ada anak-anak yang bahagia mendapat uang saku lebih, ada ibu-ibu yang dagangan kue nastar dan kastangelnya laris manis, ada sista-sista olshoper yang stok baju muslimnya ludes, dan entah ada berapa ribu orang lagi yang bahagia dengan perayaan pulang kampung nasional ini.

Akhir kata, selamat siap-siap mudik bagi yang merayakan. Sadari bahwa prosesi mudik Anda adalah rangkaian perjalanan suci. Maka, karena mudik ini sakral adanya, ada satu pesan penting dari saya: waktu syawalan di kampung, jangan merusak suasana dengan mengungkit keributan lama terkait perdebatan politik di grup-grup Whatsapp Anda. Itu.

Iqbal Aji Daryono,
Tinggal sementara di Perth, Australia,
Kadang-kadang mudik ke Bantul, Yogyakarta,
Sehari-hari bekerja sebagai sopir merangkap kurir
di sebuah perusahaan jasa pengiriman
DETIKNEWS, 20 Juni 2017

20 Juni, 2017

Islam Madzhab Medsos


Dalam diskusi teologi Islam muncul perdebatan klasik terhadap sebuah pertanyaan, apakah manusia memiliki kebebasan memilih dan menentukan tindakannya sendiri, ataukah nasib manusia hanya seperti halnya wayang yang digerakkan Sang Dalang yaitu Tuhan semata? Kedua kutub itu masing-masing memiliki rujukan teks Al-Quran.

Lalu muncul pendapat di antara keduanya bahwa manusia memiliki kebebasan, tapi tetap dalam keterbatasan di bawah kekuasaan dan kehendak Tuhan. Ketiga madzhab teologi itu produk tafsir dan penalaran manusia atas teks Al-Quran yang kemudian berkembang dalam sejarah dan masing-masing madzhab memiliki pengikut. Berjilid-jilid kitab klasik membahas perdebatan itu. Dan akhirnya menjadi masalah sosial ketika perbedaan tafsir itu berkembang menjadi ideologi yang mematikan tradisi dialog kritis sehingga menimbulkan perpecahan serta percekcokan sesama umat Islam.


Perbedaan tafsir yang melahirkan perbedaan madzhab itu juga terjadi dalam pemikiran hukum Islam (fikih) dan pemikiran politik. Misalnya, adakah Islam mewajibkan untuk membentuk negara Islam ataukah tidak? Karena yang primer (paling pokok dan penting) itu bergerak pada tataran sosial-kemasyarakatan? Adakah umat harus membentuk sistem demokrasi yang sejalan dengan Islam, ataukah Islam mewajibkan sistem kekhalifahan? Itu semua tafsir dan produk sejarah sepeninggal Rasulullah. Karena merupakan hasil ijtihad para ulama dan sarjana Islam, maka sulit ditemukan kata sepakat mengingat tiap-tiap pemikir punya argumen serta tumbuh dalam konteks sosial yang berbeda.

Tantangannya berbeda, bacaan buku-bukunya berbeda, dan lingkungan sosial, politik, dan ekonominya juga berbeda. Namun, umumnya para pemikir kenegaraan memandang bahwa model kekhalifahan itu sudah berakhir. Sebatas wacana sah saja, tetapi pada tataran implementasi sangat sulit dilaksanakan. Kecuali ketika jumlah ummat Islam sedikit dan belum muncul negara bangsa.


Ustadz Google
Madzhab artinya jalan yang mengantarkan pada tujuan. Dalam konteks pemikiran keagamaan, madzhab berarti sebuah metode yang dirumuskan ulama atau pemikir ahli dalam rangka membantu umat beragama untuk mendekati dan meraih pemahaman Islam yang benar dan mudah yang bersumber pada Al-Quran dan Sunnah Rasul. Ibarat Al-Quran dan Sunnah Rasul itu mata air, maka madzhab adalah jalan menuju ke sana, untuk membantu umat mendekati ajaran agama secara benar. Ulama dan para ahli itu merumuskan metodenya setelah mendalami isi Al-Quran dan Hadits secara mendalam, disertai argumen yang sistematis untuk mendukung pemikirannya. Dengan demikian, orang yang setuju ataupun yang menolak bisa mengikuti argumen yang dibangun dengan jalan membaca karya-karya tulis mereka.

Madzhab itu sangat diperlukan agar orang awam yang tidak ahli agama mendapatkan bimbingan dan jalan yang mudah untuk memahami Islam. Bayangkan saja, bagi masyarakat awam, begitu membuka Al-Quran dan tafsirnya, pasti tidak mudah menangkap pesan Al-Quran yang kadang terkesan paradoksal antara statement ayat yang satu dan yang lain, misalnya mengenai kebebasan manusia.

Misalnya untuk menentukan awal Ramadhan, terdapat madzhab hisab dan rukyat. Bahkan sekarang ini muncul madzhab baru dalam memahami Islam, yaitu madzhab medsos. Sebuah jalan dan pembelajaran agama yang didapat dengan mudah, tanpa harus membaca kitab tebal-tebal serta berguru lama-lama pada kyai. Melainkan cukup memiliki handphone yang memiliki aplikasi Facebook (FB), Whatsapp (WA), Twitter, Instagram, Google, dan aplikasi lain yang berbasis internet.


Muncul sebuah jargon baru; Anda bertanya, ustadz Google menjawab. Baik untuk berdakwah maupun untuk mempelajari agama, cukup lewat WA atau FB, di sana bertebaran informasi agama. Bahkan mereka sering terlibat perdebatan dengan modal pengetahuan yang diperoleh melalui copas (copy-paste) dan forward yang beredar di medos, terutama WA.

Apakah kelebihan dan kelemahan madzhab medsos? Pertama, istilah madzhab medsos sendiri pasti mengundang pro-kontra. Kedua, bagi yang serius ingin melakukan riset kepustakaan, medsos menyediakan fasilitas untuk mengakses sumber informasi keilmuan yang amat kaya, seperti e-book atau e-journal sehingga perangkat handphone bisa berfungsi sebagai mobile-library. Ratusan ribu judul buku agama yang klasik dan kontemporer tersedia semuanya.

Ketiga, bagi mereka yang tidak sempat atau malas membaca buku, medsos menyajikan sekian banyak penggalan informasi keagamaan ibarat makanan cepat saji yang siap disantap. Keempat, wacana keagamaan di medsos bersifat sangat egaliter, siapa pun bisa memberi taushiyah, berbantahan, bahkan sampai pada sikap mencaci dan mengafirkan jika tidak sependapat.


Pembaca tidak tahu kualifikasi dan orisinalitas pendapat keagamaan yang di-posting, apakah itu sekadar forward dan copas, hasil baca buku, atau sekadar iseng. Atau sengaja ingin menciptakan perdebatan kontroversial.

Kelima, perdebatan emosional, sampai pada taraf caci maki, mudah muncul ketika paham keagamaan dikaitkan dengan sikap dan pilihan politik serta menyangkut isu madzhab dan keyakinan di luar mainstream, misalnya Syiah dan Ahmadiyah. Peristiwa pilkada DKI yang belum lama berlalu memberikan contoh dan temuan nyata bahwa paham keagamaan dan sikap politik saling berkaitan.

Namun, yang menonjol ialah sikap emosional yang didasari oleh like or dislike, bukan perdebatan argumentatif ilmiah layaknya perdebatan dalam madzhab tradisional. Sikap emosional ini cenderung menolak berpikir panjang dan detail, melainkan langsung pada kesimpulan setuju atau tidak setuju. Jadi, siapa pun yang bergabung dalam komunitas madzhab medsos sebaiknya bisa mengendalikan emosinya.


Eklektik dan Fragmentatif
Lontaran pemikiran dalam medsos biasanya fragmentatif karena keterbatasan ruang. Kalaupun panjang, orang enggan membacanya. Terlebih lagi, kebanyakan mereka adalah orang sibuk, tidak tertarik mengikuti argumen yang njelimet dan detail. Makanya madzhab medsos pemikirannya bersifat eklektik, campuran dari berbagai tulisan orang, sambung-menyambung, tidak solid, dan kadang tidak sistematis. Terserah pembaca untuk memilih, menimbang dan memutuskan sendiri, tak ada hubungan guru-murid secara langsung. Tak ada tokoh utama yang memimpin wacana publik dalam medsos. Yang muncul adalah tokoh fiktif semacam Mukidi.

Bahkan, orang pun bisa memalsukan identitas aslinya. Atau namanya dibajak. Makanya, setiap netizen yang bergabung dalam pemikiran Islam madzhab medsos, dalam waktu yang sama bisa berperan sebagai guru atau murid. Jika tidak setuju, bebas keluar dari jemaah netizen atau membantahnya, apakah dengan kalimat yang cerdas, halus, sopan, maupun dengan kalimat yang terkesan sarkastik, keras bahkan kasar.

Perkembangan sosial ke depan, komunitas Islam madzhab medsos diperkirakan semakin membesar terutama ketika bulan pilkada atau pemilu tiba. Lebih seru serta heboh manakala para politikus mengkapitalisasi isu agama untuk mendukung salah satu paslonnya dengan menggunakan sarana medsos sebagai ajang promosi dan kampanye, apakah kampanye putih, abu-abu, atau hitam. Kita lihat saja nanti, apakah prediksi ini sahih atau meleset. Namun saya kira, dan berharap, semakin cerdas dan dewasa masyarakat, ke depan Islam madzhab medsos kualitasnya akan semakin meningkat dan otomatis akan terjadi seleksi alamiah. Yang tidak bermutu tidak akan laku dalam pasar bebas.

Komaruddin Hidayat,
Yayasan Pendidikan Madania Indonesia
MEDIA INDONESIA, 31 Mei 2017

20 Mei, 2017

Seribu Lilin Cinta Persembahan Buat Bangsa


1. Lega hatiku Pilkada Jakarta berlalu tanpa tetesan darah, meskipun masih tetap berlumur kebencian, dendam dan permusuhan. Rumahtangga Bangsa Indonesia sedang penuh hawa panas, demam dan amarah. Begitulah memang yang harus dilewati oleh semua keluarga yang sedang berproses memperbarui nikahnya, agar naik tingkat ke derajat kematangan baru dan kedewasaan yang lebih tangguh.

2. Aku ucapkan selamat kepada rakyat Jakarta yang memiliki Ahok dan Anies, juga kepada bangsa Indonesia yang memiliki Jokowi, Prabowo, Habib Rizieq, Gatot Nurmantyo, Ibu Begawan Megawati dan banyak lagi. Saudara-saudaraku hidup dengan pikiran mantap, hati tenang, mental tangguh dan tekad baja —karena serasa dipimpin langsung oleh “Nabi” mereka, dalam mengabdi kepada Ibu Pertiwi dan Bangsa Indonesia.


3. Saudara-saudaraku berhimpun di belakang idolanya masing-masing, tangan mengacung tinggi dengan teriakan “Merdeka!”. Mereka meyakini Kebenaran masing-masing. Sementara aku tidak berani dan dilarang menyatakan kebenaranku. Sebab Kebenaran adalah bekal masakanku yang letaknya di dapur. Sedangkan hidangan yang harus kusuguhkan adalah Kasih Sayang, Kebaikan, Keamanan dan Pengamanan, Kenyamanan dan Penggembiraan, serta ketepatan Nada dan Irama dalam Keseimbangan hidup bersama.

4. Tetapi aku bergembira saudara-saudaraku punya idola yang dikagumi dan tokoh yang ditakdzimi. Betapa bersinar hati bangsaku yang berpegangan pada Latta hari ini dan Uzza di masa depan. Siapapun pemimpin mereka hari ini, kemarin atau esok lusa, semua adalah representasi kuasa Tuhan buat rakyat Indonesia. Sebab tak ada yang ber-tajalli dan memanifestasi kecuali Dia. Itulah sebabnya hakekat itu dipasang sebagai Sila Pertama, meskipun tak perlu dipersoalkan dari mana pencipta Pancasila dulu kok bisa tahu bahwa Tuhan itu Maha Esa.


5. Sementara aku masih sibuk karena belum merdeka dari diriku sendiri. Aku sedih tidak memiliki mereka semua idola-idola itu. Aku juga punya Tuhan dan Nabi, tapi alamatnya nun jauh di seberang kerinduanku. Habis waktuku utuk bertengkar melawan kebenaran di dalam diriku sendiri, sebab kami berdua sama-sama tidak mutlak. Tuhan Yang Maha Absolut bilang “Sampaikan kebenaran dari-Ku, biarkan yang mau percaya, silahkan yang mau membangkang!” Sesekali aku menyampaikan Kebenaran dari Tuhan, tetapi tak kuat hatiku untuk dipercaya, dan masih muncul amarah di batinku jika aku diingkari dan dinista.

6. Aku turut berbahagia karena saudara-saudaraku aman sandaran dan harapan masa depannya. Aman hartanya dari korupsi, aman martabatnya dari penghinaan, dan aman nyawanya dari pembunuhan. Bahkan sinar cakrawala Demokrasi membuat siapa saja bisa menjadi apa saja. Setiap warga bisa menyiapkan biaya, persiapan jenis mental tertentu, serta mengemis kendaraan (politik), untuk berjuang menjadi Presiden, Menteri, Gubernur, Penguasa atau apapun. Sementara aku adalah penakut yang berjuang menjadi diri sendiripun belum pernah jelas hasilnya. Nabiku bilang “kalau engkau yang berinisiatif menjadi pemimpin, Allah tidak akan melindungimu dan tidak akan membantu mempertanggungjawabkan langkah-langkahmu”.


7. Puji Tuhan bangsaku bergelimang modernisme dan kemerdekaan, berlaga dalam kompetisi karier, persaingan jabatan, lomba kekayaan, turnamen pencitraan dan pertandingan keunggulan. Bangsaku sangat mampu menikmati kemegahan dunia, mengenyam kesementaraan dari hologram-hologram kemewahan. Sedangkan hidupku dirundung rasa takut untuk kalah, sekaligus tidak berani untuk menang, sebab diriku sendiri yang sangat rewel ini belum benar-benar mampu kukalahkan. Kami belum pernah benar-benar siap untuk memasuki babak berikut sesudah kehidupan yang ini. Kami sangat sibuk berlatih dan mensimulasi untuk bersiaga menjalani hidup kekal abadi, yang kami yakini tidak mungkin mengelak sama sekali.

8. Maha Esa Tuhan yang telah memperkenalkan bangsaku meneguhkan Bhinneka Tunggal Ika, pengakuan dan penerimaan bersama atas siapa saja penghuni Negeri Nusantara. Aku merasa aman, karena pasti termasuk di dalamnya, meskipun andaikan aku memeluk Agama yang tidak begitu disukai. Atau aku tidak sama dengan siapapun. Atau tidak bertempat tinggal di koordinat nilai manapun. Bahkan aku dilindungi oleh Bhinneka Tunggal Ika meskipun andaikan aku hanya seonggok batu, sehelai daun, setetes embun, Jin, Setan, Hantu, air ataupun angin.


9. Aku bersyukur saudara-saudaraku berjaya dengan kariernya masing-masing, duduk di kursi-kursi sejarah. Mereka adalah pejuang-pejuang nasional dan patriot-patriot bangsa. Sementara skala perjuanganku sangat sempit dan di dataran yang rendah, hanya berkaitan dengan sejumlah orang di seputarku. Aku mewajibkan diriku sekedar untuk mampu membesarkan hati siapapun di sekitarku, menjadi ruang kemerdekaan dari mereka, menyebarkan rasa nyaman dan teduh, dan bersama-sama berlatih untuk memiliki mental, akal dan batin yang tidak keder atau guncang ditimpa oleh keadaan macam apapun.

10. Hatiku berbinar-benar menyaksikan saudara-saudaraku hidup kokoh dengan kebenarannya masing-masing. Sementara aku mengalami Bumi adalah suatu tempat di mana kebenaran kabur wajahnya. Dunia adalah suatu bangunan kimia nilai-nilai di mana kebenaran bisa berwajah kebatilan, dan kebatilan sangat mudah menyamar tampil sebagai kebenaran. Di Dunia ini Sorga seseorang adalah Neraka bagi lainnya, sehingga batal fungsinya sebagai Sorga. Maka tak pernah berani aku mensorgakan diriku, karena khawatir menerakakan orang lainnya. Yang berani kulakukan hanyalah sedikit mencipratkan komponen-komponen kecil yang membuat orang di sekitarku merasakan Sorga Dunia dan bergerak menuju Sorga Sejati.


11. Lega hatiku saudara-saudaraku meneguhkan keyakinan bahwa “Ini Negara Pancasila, bukan Negara Agama”, “Ini Indonesia, bukan Jawa, Batak, Bugis, Sunda atau Madura.” Berdebar hatiku menantikan jalannya zaman di mana Indonesia akan menguburkan Agama, menumpas Jawa dan bukan-bukan yang lainnya. Kusimpan di lubuk hati kebenaran yang kudapatkan, bahwa Indonesia itu ya Bugis ya Tolaki ya Dayak dan semua kandungan sejarah yang membuat Indonesia ada. Bahwa Pancasila itu ya Hindu ya Budha ya Gatholoco ya Darmogandhul ya Islam ya Kristen dan semua yang menjadi sumber nilai sehingga Pancasila menjadi wujud nyata.

12. Aku persembahkan seribu lilin cinta kepada bangsa Indonesia di seluruh Nusantara. Aku sangat mencintai kalian, bukan sekedar cinta. Cinta hanya kondisi batin, tetapi Mencintai adalah komitmen, pembuktian dalam kerja, serta ketulusan dan kesetiaan. Jika kalian bergembira, aku meneteskan airmata bahagia. Apabila kalian menderita, sangat berat menusuk hatiku dan seluruh jiwaku dipenuhi rasa tidak tega. Sedemikian tunainya cintaku kepadamu, sehingga jika kalian sakit, aku tak berani mengemukakannya, sebab khawatir membuatmu lebih terluka.

Muhammad Ainun Nadjib
Tajuk CakNun.com
Yogyakarta, 19 Mei 2017