10 September, 2017

Politik Paranoid


Orator dan demagog ulung Joseph Goebbels, menteri propaganda rezim Adolf Hitler, percaya bahwa kebohongan yang terus diulang-ulang dalam waktu lama akan menjadi fakta bagi kalangan yang picik dan tidak berpikir. Bahkan pembohongnya bisa jadi percaya pada kebohongannya sendiri.

Dia juga mengatakan bahwa untuk mengendalikan massa dengan mudah, kita hanya perlu menciptakan ketakutan. Dukungan publik akan dapat diraih apabila kemudian kita memproyeksikan diri sebagai orang kuat yang mampu memberi perlindungan. Contoh yang relatif baru ialah unggulnya Donald Trump dalam pencalonan dirinya oleh Partai Republik kemudian menang dengan mengejutkan sebagai presiden ke-45 Amerika Serikat.

Kemenangannya disebabkan oleh keberhasilannya dalam kampanye terencana dengan cara menciptakan, mengakomodasi, dan memanfaatkan rasa takut masyarakat terhadap imigran gelap, teroris "Islam", perdagangan bebas, dan hilangnya lapangan kerja yang disebabkan oleh barang murah China. Trump kemudian berjanji mengatasi dengan cara sederhana, yakni akan mengusir 11 juta imigran gelap, melarang Muslim masuk Amerika, dan akan memaksa China untuk tunduk pada tuntutan-tuntutan Amerika guna menjadikan Amerika Hebat Kembali (America Great Again).


Musuh bayangan Inilah jenis politik yang diberi nama politik paranoid. Istilah politik paranoid pertama kali diperkenalkan dalam sebuah esai oleh sejarawan Amerika, Richard J Hofstadter, pada 1964 saat politisi Republiken ekstrem kanan, Barry Goldwater, mencalonkan diri sebagai presiden Amerika. Dia menyebut politik paranoid bukan hal baru. Politik seperti ini telah berulang kali dilakukan oleh politisi pada masa lalu dalam rangka meraih kekuasaan.

Dalam istilah lain sering juga disebut sebagai politik rasa takut (politics of fear). Politik paranoid berbeda dengan politik populis. Yang belakang ini lebih memfokuskan kepada isu-isu nyata jangka pendek yang populer di masyarakat, tetapi belum tentu bermanfaat untuk kepentingan nasional jangka panjang. Sementara politik paranoid menciptakan musuh-musuh bayangan (imagined enemies) sambilmengeksploitasi status dan frustrasi sebagian masyarakat pemilih yang merasa terpinggirkan.


Apa sebenarnya yang dimaksud dengan paranoid atau paranoia? Paranoia adalah suatu jenis penyakit jiwa ketika penderitanya merasa atau berdelusi bahwa hidupnya terancam oleh berbagai hal di luar dirinya. Curiga kepada pihak lain tanpa memiliki alasan dan bukti yang jelas. Cenderung menciptakan teori konspirasi. Diliputi rasa takut bahwa dirinya akan disakiti atau menjadi korban dari perlakuan orang lain. Penderitanya disebut mengidap paranoid.

Berbeda dengan fobia yang juga perasaan rasa takut dan benci yang tak rasional, paranoia biasanya menyertakan tuduhan palsu kepada pihak lain sehingga suatu kejadian biasa yang kebetulan dan tak disengaja akan dianalisis menjadi sesuatu yang serius dan mengancam. Dalam kasus klinis yang akut, penderita akan mendengar bisikan di telinganya tentang berbagai ancaman yang datang dari luar terhadap dirinya.

Penyakit paranoia klinis menjangkiti orang per orang. Namun, kelompok atau masyarakat apabila terus-menerus dihujani dengan kebohongan secara sengaja agar mengikuti tujuan yang ingin dicapai pembohong, dapat pula terjangkit paranoid secara bersama. Ketika dia menjadi penyakit masyarakat, penderita merasa bangsanya atau budayanya atau agama yang diyakininya sedang dalam bahaya.


Paranoia ala Indonesia
Di negeri kita belakangan ini ada sejenis paranoia di kalangan tertentu bahwa Partai Komunis Indonesia (PKI) sedang bangkit kembali. Belum lama ini seorang petinggi Partai Gerindra menuduh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) sebagai partai berideologi komunis. Bahkan, Presiden kita tidak jarang menjadi korban fitnah sebagai orang dari keluarga PKI meski telah berkali-kali dibantah.

Apabila kepada mereka diminta membawa bukti-bukti bangkitnya PKI di negeri ini, mereka hanya akan menunjukkan beberapa foto orang berbaju kaus dengan gambar palu arit atau sekelompok keluarga korban pembasmian PKI pada tahun 1965 yang menuntut keadilan. Mereka lupa atau pura-pura lupa bahwa ideologi komunis di dunia sudah habis riwayatnya.

Satu-satunya negeri di dunia yang masih mempraktikkan ideologi itu dalam sistem pemerintahannya hanyalah Korea Utara. China, meski masih mempertahankan nama partainya yang berkuasa sebagai Partai Komunis, dalam praktiknya saat ini sistem ekonomi China sudah jauh dari ideologi komunis, bahkan bisa dibilang sebagai sistem kapitalis tingkat tinggi.

Akankah hubungan Indonesia dan China bermuara pada entitas baru IndoChina ???

Atau paranoid terhadap investasi China di sini yang dianggap sebagai bagian dari rancangan China untuk melakukan kolonisasi terhadap Indonesia. Ada video yang beredar yang menyatakan bahwa 200 juta warga Tiongkok akan berimigrasi kesini. Konon, proyek reklamasi Jakarta disiapkan untuk menampung 20 juta warga China. Dan, masih banyak lagi klaim yang sulit diterima oleh akal sehat.

Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) Nomor 2 Tahun 2017 tentang Organisasi Kemasyarakatan juga menjadi sasaran tembak dengan menganggapnya sebagai rancangan pemerintah untuk menyudutkan umat Islam. Padahal Perppu itu tidak menyebut agama apa pun dan ditujukan untuk menjaga persatuan dan keselamatan bangsa dari rongrongan kelompok radikal.

Begitu pula ada paranoia tentang keadaan negara yang katanya hampir bangkrut karena terus bertambahnya utang pemerintah. Padahal pemerintah belum melewati batas yang dibolehkan dalam undang-undang dan rasio utang pemerintah terhadap produk domestik bruto masih jauh di bawah banyak negeri lain.


Yang sangat memprihatinkan, mereka yang termakan oleh isu-isu paranoid ini bukan sekadar orang awam, melainkan juga mereka yang bergelar sarjana, bahkan petinggi beberapa universitas dan akademi. Para sarjana ini pada umumnya spesialis yang wawasannya sangat sempit.

Internet dan media sosial juga memainkan peran yang besar dalam menggelembungkan isu-isu khayalan ini. Namun, yang lebih mengkhawatirkan adalah adanya gejala yang mulai muncul kembali di permukaan yang memberi sinyal bahwa politik paranoid yang berpotensi memecah belah bangsa itu akan dihidupkan kembali untuk menghadapi persaingan pada pemilihan kepala daerah dan pemilihan presiden mendatang.

Partai-partai politik tertentu merasa bahwa sebagai taktik kampanye, politik paranoid telah terbukti sukses meraih kemenangan pada Pilkada DKI yang lalu. Sebuah pilkada yang menyisakan luka-luka sampai sekarang. Semoga kedepan tidak terjadi lagi.

Abdillah Toha,
Pemerhati Politik,
KOMPAS, 23 Agustus 2017

25 Agustus, 2017

Sardjito dan Jejak yang Hilang


Prof. Dr. dr. RM. Sardjito, M.D., M.P.H. (1889-1970), yang namanya diabadikan sebagai nama rumah sakit umum pusat di Yogyakarta, adalah perintis, pendiri, sekaligus menjadi rektor (dulu disebut presiden universiteit) pertama Universitas Gadjah Mada (UGM).

Dari tulisan-tulisannya yang berhasil saya kumpulkan sejak masih di bangku kuliah dulu, ia bukan hanya seorang ilmuwan, namun juga seorang begawan. Lulusan terbaik STOVIA tahun 1915 ini bisa menulis perihal kebudayaan dan filsafat sama baiknya dengan ketika ia menulis tentang penyakit-penyakit tropis.

Dulu, setiap kali membaca tulisan atau mendengarkan ceramah Profesor Teuku Jacob, mantan Rektor UGM (1981-1986) yang juga berasal dari Fakultas Kedokteran, saya selalu membayangkan pastilah Profesor Sardjito secemerlang ––atau bahkan lebih dari–– muridnya itu. Tapi, ke mana lagi orang bisa mencari jejak pemikiran manusia Sardjito pada hari ini ?!


Atau, coba ganti nama Sardjito dengan nama lain. Misalnya saja Herman Johannes, ahli fisika nuklir yang juga menekuni teknologi madya atau teknologi pedesaan; atau Iman Soetiknjo, yang bersama Notonagoro telah menghidupkan dan menghidupi kajian agraria paling awal di Bulaksumur (baca kampus UGM), apakah kesulitannya menjadi lebih mudah?! Ternyata tidak! Dan ini adalah sebuah persoalan yang tak bisa disepelekan.

Saya mendengar UGM saat ini sedang membuat film dokumenter mengenai Profesor Notonagoro, salah satu begawannya yang tercatat dalam lembaran sejarah sebagai orang pertama yang telah membawa Pancasila ke wilayah kajian ilmu pengetahuan. Dan kesulitan pertama pembuatan film dokumenter itu adalah UGM kini tak lagi memiliki arsip-arsip otentik karya-karya Notonagoro. Nah!

Sejauh yang bisa saya catat, komitmen untuk melakukan riset dan pengarsipan yang serius atas karya-karya para sarjana terkemuka di Bulaksumur memang lemah sekali. Pejabat universitas ataupun fakultas di UGM hampir semuanya lebih menyukai membangun gedung atau sarana fisik di kampus daripada membangun kultur akademik atau hal-hal lainnya yang lebih sublim tapi mendasar.


Waktu Pak Pratikno awal menjadi rektor, dalam sebuah perbincangan saya pernah mengingatkan pentingnya UGM memulai kerja serius dan sistematis untuk menyusun karya lengkap para begawannya, mulai dari generasi Sardjito, Herman Johanes, Notonagoro, hingga ke generasi Umar Kayam, Mubyarto, dan Kuntowijoyo. Jika berhasil dilakukan, itu akan menjadi batu loncatan penting UGM menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan yang sebenar-benarnya, terutama di lapangan ilmu sosial dan humaniora, dan bukan hanya menjadi pabrik sarjana belaka.
Sebab, untuk apa riset, dan apa yang mau diriset, jika kita tak mempelajari dan gampang sekali kehilangan jejak atas riset-riset yang telah dilakukan oleh para sarjana sebelum kita?!

Sayangnya, meski antusias dalam perbincangan, obrolan itu tak pernah ditindaklanjuti. Sewaktu buku saya mengenai pemikiran Mubyarto mendapat hibah dari LPPM-UGM dan kemudian diterbitkan oleh Gadjah Mada University Press, Pak Tikno bahkan mengaku tak punya waktu untuk sekadar menulis kata sambutan sebagai rektor di buku tersebut. Sayapun segera tahu, ia tak akan punya waktu untuk hal yang lebih dari itu.


UGM boleh bangga menjadi perguruan tinggi nomor wahid. Tapi jika UGM sendiri gagal merawat dan memelihara karya dari putera-puteri terbaiknya, sebagai institusi UGM sebenarnya baru sekadar menjadi pabrik sarjana belaka, atau pabrik laporan ilmiah, belum menjadi sebuah akademia bahkan dalam pengertiannya yang paling klasik.

Tak heran, pada akhirnya Sardjito, atau nama-nama besar lainnya, hanya akan tinggal nama belaka, tanpa bekas dan tanpa jejak imajinasi apapun bagi generasi terkini atau generasi yang lebih kemudian.

Sumber:
Tarli Nugroho
https://www.facebook.com/tarli.nugroho/posts/10155808153703606?ref=notif&notif_t=close_friend_activity&notif_id=1503410872790421


Biografi Prof Dr Sardjito

Prof. Dr. dr. RM. Sardjito, M.D., M.P.H. adalah seorang dokter yang menjadi Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Beliau merupakan Rektor –kala itu disebut sebagai Presiden Universiteit– Universitas Gadjah Mada yang pertama kali sejak awal berdirinya UGM pada tahun 1949 hingga tahun 1961.

Sardjito lahir di Desa Purwodadi, Kec. Barat (dulu Kec. Karangmojo), Kab. Magetan, Jawa Timur, pada tanggal 13 Agustus 1889 dan meninggal di Yogyakarta pada tanggal 5 Mei 1970 pada umur 80 tahun. Atas jasa-jasa dan perjuangannya, beliau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara, Yogyakarta.

Sebagai anak sulung dari lima bersaudara, Sardjito memiliki ayah yang berprofesi sebagai guru. Sardjito mengawali jenjang pendidikan dasarnya pada usia 6 tahun di Sekolah Rakyat (SR), sekaligus mulai belajar mengaji di desanya tersebut. Namun pada tahun 1901, Sardjito menyelesaikan pendidikan dasarnya di Lumajang.

Tidak jelas benar setelah lulus SR, apakah Sardjito melanjutkan pendidikannya di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) dan kemudian AMS (Algemene Middelbare School), yang pasti sejak tahun 1907 Sardjito melanjutkan jejang pendidikannya ke pendidikan tinggi kedokteran STOVIA (School Toot Opleiding Voor Indische Artsen). Beliau lulus pada tahun 1915, serta meraih gelar dokter dengan predikat sebagai lulusan terbaik pada saat itu.

RSUP Dr Sardjito, Yogyakarta.

Tanggal 20 Mei tahun 1908, Dr. Wahidin Sudirohusodo memotori lahirnya organisasi Boedi Oetomo. Sejak didirikannya organisasi itu, Sardjito masuk menjadi anggota karena minatnya di bidang pendidikan dan juga sambil belajar berpolitik dalam organisasi. Masuknya Sardjito sebagai anggota Boedi Oetomo menjadikannya memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi. Namun demikian, walaupun telah menjadi anggota organisasi Boedi Oetomo, Sardjito tidak meninggalkan tekadnya untuk selalu berkecimpung di dunia kesehatan.

Setelah lulus dari STOVIA, Sardjito bekerja di rumah sakit di Jakarta sebagai dokter hingga sekitar tahun 1920. Tetapi menjadi dokter biasa saja tak cukup bagi Sardjito. Beliau tetap mengembangkan kemampuan ilmu kedokterannya dengan sebuah penelitian. Penelitian pertamanya adalah tentang penyakit influenza.

Pada tahun 1922, Sardjito memperdalam ilmunya di fakultas kedokteran Universitas Amsterdam, Belanda. Setahun kemudian, Sardjito belajar lebih intens lagi tentang penyaki-penyakit tropis, karena hal ini, Sardjito harus pindah ke Universitas Leiden yang letaknya tidak jauh dari Amsterdam. Di Universitas Leiden, Sardjito memperoleh gelar Doctor pada tahun 1923. Setelah memperoleh gelar Doctor di Belanda, Sardjito pergi ke Amerika Serikat untuk mengukuti kursus hygiene di Baltimore, Maryland. Di sinilah, Sardjito memperoleh gelar M.P.H. dari John Hopkins University.

Sepulang dari Amerika, Sardjito mendapat kepercayaan untuk menjadi dokter di Laboratorium Pusat Jakarta pada tahun 1924. Setahun kemudian, Sardjito dipercaya untuk menjadi ketua Boedi Oetomo cabang Jakarta. Pada akhir masa jabatannya di Laboratorium Pusat Jakarta (1929), dia merangkap jabatan sebagai asisten kepala Sekolah Tinggi Kedokteran di Jakarta. Dari Jakarta, Sardjito pindah ke Makassar untuk memegang jabatan kepala Laboratorium Makassar pada tahun 1930.


Kesempatan kedua datang bagi Sardjito untuk pergi ke luar negeri pada tahun 1931. Kali ini Sardjito pergi ke Berlin, Jerman, untuk memperdalam pengetahuannya tentang laboratorium. Sepulang dari Jerman, Sardjito kembali mengepalai sebuah laboratorium, kali ini laboratorium di Semarang selama 13 tahun hingga tahun 1945. Selama di Semarang ini pula, Sardjito membantu mengadakan penelitian tentang penyakit lepra di Indonesia kurang lebih selama sepuluh tahun. Di saat yang sama, Sardjito harus membagi tugasnya untuk memegang jabatan sebagai pemimpin redaksi Medische Bricthen (Berita Kesehatan), sebagai ketua Mardi Walujo Semarang serta ketua Izi Hokokai Semarang.

Antara tahun 1945-1946, Sardjito sempat memimpin perusahaan “Lembaga Pasteur” di Bandung, yang merupakan pemimpin Indonesia pertama. Pada saat kepemimpinan Sardjito inilah lokasi perusahaan sempat dipindahkan ke daerah Klaten.

Karier Sardjito terus menanjak, ketika pada tahun 1949 terpilih untuk menjadi rektor pertama Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, yang ketika itu disebut Presiden Universiteit Negeri Gadjah Mada. Pemegang penghargaan Bintang Mahaputera Tingkat III tahun 1960 ini, menjabat sebagai rektor UGM selama 12 tahun 9 bulan. Bahkan seusai menjabat sebagai rektor UGM, Sardjito terpilih sebagai rektor di UII (Universitas Islam Indonesia), Yogyakarta, menggantikan Prof. RHA. Kasmat Bahoewinangoen pada tahun 1963.

Pada saat di pimpim oleh Sardjito, UII membuka cabangnya di daerah-daerah, diantaranya Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi, Fakultas Tarbiyah di Gorontalo, Fakultas Hukum dan Fakultas Ekonomi di Cirebon, Fakultas Hukum dan Fakultas Syariah di Madiun, Fakultas Syariah di Bangil dan Fakultas Hukum dan Fakultas Ekonomi di Klaten.


Mantan rektor UGM ini berperan besar dalam menjalin kerjasama antara UGM dan UII. Pada masa kepemimpinan beliau inilah terwujud kerja sama antara UGM dan UII dengan ditandatanganinya piagam kerjasama pada tanggal 23 Mei 1967 oleh Rektor UII, Prof. Dr. dr. Sardjito dan Rektor UGM drg. Nazir Alwi yang berisi:
1. Dalam bidang pendidikan dan pengajaran, UGM bersedia membimbing UII dalam hal-hal yang diperlukan.
2. Dalam bidang penelitian, UGM bersedia membimbing UII akan hal-hal yang diperlukannya dan biaya yang berhubungan dengan keperluan tersebut akan ditanggung oleh UII.

Pada masa kepimpinan Sardjito pula UII mendirikan Organisasi Pers Mahasiswa UII, tepatnya pada tanggal 11 Maret 1967. Profesor Sardjito mendukung penuh akan berdirinya Organisasi Pers mahasiswa UII. Hal ini ditandai dengan kata sambutan menjelang kehadiran majalah pertama Organisasi Pers Mahasiswa UII yaitu majalah Muhibbah.

Sardjito wafat ketika masih menjabat sebagai rektor UII pada tanggal 5 Mei 1970. Wafatnya beliau yang mendadak saat itu, sempat membuat pihak UII kesulitan untuk mencari seorang figur yang mampu menggantikan Sardjito sebagai rektor yang mumpuni.

Saat ini nama Prof. Dr. dr. RM Sardjito, M.D., M.P.H., diabadikan sebagai salah satu nama Gedung Kuliah Umum (GKU) yang berada di kampus terpadu Universitas Islam Indonesia, Sleman, Yogyakarta, serta sebagai nama Rumah Sakit Umum Pusat yang berada di dekat kampus UGM, Yogyakarta.

Sumber:
Wikipedia bahasa Indonesia: https://id.wikipedia.org/wiki/Sardjito
http://www.catatansibay.web.id/2010/01/biografi-singkat-prof-dr-sardjito.html

23 Juli, 2017

Mudik sebagai Perjalanan Suci


Tiap kali mendekati pekan mudik nasional, istri saya selalu bercerita tentang sahabatnya. Si sahabat asli Jogja, punya suami orang Lombok. Pasangan tersebut sama-sama kerja di Jogja, dan tiap Lebaran harus mudik ke Lombok. Nah, buat mudik sejauh itu bersama dua anak mereka, ongkos minimal 15 jutaan harus selalu mereka alokasikan. Untuk empat biji tiket pesawat PP, oleh-oleh, juga angpao Lebaran buat para keponakan.

Cerita semacam itu tentu lazim belaka. Namun ia selalu muncul sebagai dalil, sebelum kami memungkasi obrolan dengan mengucap syukur sembari meletakkan keluarga kami sendiri sebagai prototipe keluarga paling beruntung di muka bumi. “Alhamdulillah, kita nggak pernah perlu keluar duit sebanyak itu tiap Lebaran ....”

Kami memang nggak pernah mudik. Buat apa mudik? Lha wong dari kecil sampai beranak satu kami tinggal di udik terus, kok. Rumah kami di Bantul. Kalau mau ke rumah orangtua cukup naik motor 10 menit, mau ke rumah mertua cukup 25 menit. Peknggo saja, kalau istilah Jawa-nya. Ngepek tonggo, alias menikahi anak tetangga. (Tentu saja bukan tetangga beneran. Toh kami dulu kenal di kampus, bukan di pekarangan rumah waktu dia sedang menjemuri sarung bapaknya.)

Dengan situasi geografis seperti itu, momen Lebaran selalu sangat simpel buat kami sekeluarga. Ringkas, dan yang paling penting di atas segalanya: ekonomis.


Namun setelah saya pikir-pikir sambil nyeruput kopi selepas buka puasa, saya jadi malu sendiri. Betapa materialistisnya cara kami memandang sebuah prosesi akbar bernama pulang kampung. Suatu kemudahan hidup yang kami anggap sebagai berkah semata-mata karena kami merasa lebih irit dibanding orang-orang lain.

Padahal, hanya karena kami tak pernah repot mudik, apa lantas artinya tabungan kami tiba-tiba jadi menggelembung bertambah 15 juta? Duh, ternyata enggak hahaha ….

Saya jadi ingat peristiwa dua tahun silam, ketika seorang so-called intelektual melontarkan pandangan yang luar biasa cerdas tentang ibadah haji dan umroh. Dia mengatakan, “Biaya haji dan umroh yang 30 triliun per tahun itu bisa dipakai bikin 600 ribu rumah untuk orang miskin. Makanya mending nggak usah ke Mekah, tapi buat sosial saja.”

Gagasan itu jelas mulia, karena muatannya adalah keinginan untuk menolong fakir miskin. Di titik itu saya sendiri mendukungnya. Sayangnya, ada konstruksi logika yang terlalu matematis di situ. Akibatnya, sang intelektual malah jadi lupa bahwa yang sedang ia bicarakan bukan semata uang, melainkan juga manusia-manusia yang menggerakkan uang.


Begini maksud saya. Pernyataan tersebut mengandaikan bahwa di setiap dompet calon jamaah haji sudah teronggok duit, katakanlah masing-masing 40 juta rupiah. Maka, biar lebih bermanfaat, ibadah haji dihapus saja, sehingga untuk seterusnya setiap onggokan duit 40 juta per orang itu bisa disumbangkan untuk aksi sosial. Begitu, bukan?

Pertanyaan saya, memangnya dari mana datangnya duit 40 juta itu? Apakah waktu bangun tidur tahu-tahu mereka nemu buntelan di bawah bantal, yang isinya duit semua? Atau karena sejenis mukjizat tertentu, 168.000 orang itu (sesuai kuota tahun 2015) mendadak mendapati rekening mereka masing-masing menggembung dengan tambahan 40 juta entah dari mana?

Nah, sisi itu yang dilupakan oleh penggagas ide. Ia lupa bahwa ritual, dalam keyakinan apa pun, bukan sekadar tindakan fisik, namun juga aktivitas batin. Ritual bukan cuma memeras tenaga dan menyerap anggaran, namun juga menyalakan motivasi. Ritual bukan hanya melibatkan nota-nota pembayaran dan barang-barang belanjaan, melainkan juga spirit dan emosi.

Maka tak perlu heran ketika mendapati banyak orang menjadikan haji sebagai cita-cita ultimate mereka dalam hidup. Baju boleh kumal, rumah boleh reyot, tapi kepuasan hidup mereka diraih saat berhasil sowan ke Tanah Suci.

Naif? Irasional? Dari kacamata sekolahan mungkin iya. Tapi andai orang-orang itu tidak punya orientasi hidup untuk berhaji, apa lantas duit 40 juta bisa mereka dapatkan dari hasil kerja? Wo ya belum tentu …. Sebab sangat mungkin pembakar semangat mereka untuk bekerja keras ya impian haji itu!


Pendek kata, logika penghapusan ibadah haji seperti tergambar di atas adalah logika orang yang kepalanya hanya berisi kalkulator. Si so-called intelektual menafikan bahwa dalam hidup yang penuh misteri ini ada banyak sisi di luar kalkulasi rasional-mentahan yang mampu menggerakkan etos manusia.

Malang sekali, ternyata saya sendiri pun tak beda. Otak saya hanya berisi untaian biji-biji sempoa saat memahami ribuan orang yang berbondong-bondong pulang ke kampung halaman mereka. Padahal, mudik tak bedanya dengan haji.

Tunggu, tunggu. Jangan marah dulu dengan kalimat saya barusan. Tentu saya nyeletuk “mudik tak bedanya dengan haji” bukan dalam kerangka menyetarakan keduanya pada dimensi ibadah. Ini semata karena melihat kesamaan karakter pada dua ritual tersebut.

Dalam mudik, citra yang kasat mata adalah orang-orang pulang ke kampung, bertemu ayah-bunda dan sanak saudara. Namun di balik tampilan visual, yang bergerak adalah gairah untuk kembali ke akar, kerinduan, air mata, dan cinta.

Dalam mudik, tersedia momentum. Kita semestinya ingat Tuhan setiap saat, tapi agama menyediakan momentum sembahyang pada waktu-waktu khusus. Kita seharusnya senantiasa mengontrol naluri hewani kita agar menegaskan diri sebagai manusia, tapi agama menyediakan momentum bulan puasa. Begitu pula, kita sepantasnya tak henti mengasihi keluarga dan orang-orang tercinta, tapi ritual mudik menyediakan momentum agung untuk merayakan kerinduan kita.


Dalam mudik, biaya dihamburkan. Namun, tidak sempatkah terpikir bahwa sangat mungkin etos para lebah pekerja di kota-kota besar itu meluap-luap memang karena orientasi mudik? Mereka ingin pulang kampung setahun sekali sambil membawa kelimpahan kejayaan, membuat bangga orangtua mereka, membuat berdecak kagum kawan-kawan masa kecil mereka.

“Itu riya! Tradisi show off berpadu dengan konsumtivisme!”

Hoahmm, saya tidak sedang ingin pusing dengan hal-hal begituan. Memangnya kritik atas itu ngaruh seberapa jauh sih selama ini?

Biarlah soal-soal demikian diurus para ustaz dan pengamat sosial saja. Saya sendiri lebih suka melihat bahwa dalam pemborosan akibat mudik ada berkah bagi banyak orang. Ada anak-anak yang bahagia mendapat uang saku lebih, ada ibu-ibu yang dagangan kue nastar dan kastangelnya laris manis, ada sista-sista olshoper yang stok baju muslimnya ludes, dan entah ada berapa ribu orang lagi yang bahagia dengan perayaan pulang kampung nasional ini.

Akhir kata, selamat siap-siap mudik bagi yang merayakan. Sadari bahwa prosesi mudik Anda adalah rangkaian perjalanan suci. Maka, karena mudik ini sakral adanya, ada satu pesan penting dari saya: waktu syawalan di kampung, jangan merusak suasana dengan mengungkit keributan lama terkait perdebatan politik di grup-grup Whatsapp Anda. Itu.

Iqbal Aji Daryono,
Tinggal sementara di Perth, Australia,
Kadang-kadang mudik ke Bantul, Yogyakarta,
Sehari-hari bekerja sebagai sopir merangkap kurir
di sebuah perusahaan jasa pengiriman
DETIKNEWS, 20 Juni 2017