13 Juli, 2018

Cerita tentang Orang Mati yang Tidak Mau Masuk Kubur


Hampir selama 30 tahun, sepasang mata yang seakan memancarkan api kebencian itu selalu mengikuti aku pergi. Selama itu pula membuatku nyaris menjadi gila. Dengan mengikuti bimbingan seorang kiai, akhirnya aku bisa menganggap tidak ada kehadiran sepasang mata itu, meskipun masih selalu mengikuti aku.

Adanya lintang kemukus yang muncul di langit dini hari adalah benar-benar pertanda alam akan adanya pageblug. Dan 40 hari kemudian, ternyata perang saudara meledak. Tidak hanya di daerah kami, malahan di seluruh negeri, sejak terdengar berita terbantainya para jenderal di sebuah lubang sumur di pinggiran kota Jakarta.

Setahun kemudian, suatu malam, aku dan Mulyono, sahabat karibku, bersama regu ronda dengan komandan Mas Parman, seorang pimpinan gerakan pemuda, mendapat tugas rutin dari aparat yang sungguh tidak kami harapkan. Yakni tugas sebagai tukang kubur. Berpuluh-puluh orang diturunkan dari truk di tengah kebun jati, dengan kedua ibu jarinya diikat kawat. Setelah ikatannya dilepas, di bawah ancaman tendangan dan pukulan pistol, setiap empat orang diharapkan menggali sebuah lubang selebar dua meter. Akhirnya mereka diharuskan berjongkok menghadap lubang, dan dentuman-dentuman pistol bergema. Kami memejamkan mata atau melengos ke samping. Hanya Mas Parman yang tampak tegar melihat eksekusi ini.


Tugas kami berikutnya adalah mengubur mereka, meratakan gundukan tanah dengan sekop dan cangkul yang sudah tersedia. Satu lubang untuk empat jenazah. Kami kerjakan dengan mulut rapat dan memang harus bungkam meskipun mayat-mayat itu kami ketahui adalah tetangga atau kerabat kami. Kalau tidak, mungkin kami bernasib seperti mereka.

“Kalian harus jadi orang tangguh dalam keadaan seperti ini. Bayangkan! Kalau mereka menang, akan jadi apa kita?! Kita pun akan disembelih seperti para jenderal itu,” nasihat Mas Parman kepada kami.

Malam-malam seterusnya adalah malam kematian. Kehidupan hanya sebatas jangkauan lampu minyak yang tergantung di gardu ronda. Selebihnya adalah gelap semata. Di gardu jaga, kami lebih banyak diam berselimut sarung, meringkuk dan merapat ke dinding. Binatang malam pun tak terdengar suaranya. Warga kampung juga lebih menyukai mematikan lampu dan bersembunyi dari ketakutan ke dalam kegelapan. Hanya Mas Parman yang selalu siaga mondar-mandir di depan gardu.

Monumen Lubang Buaya, Jakarta.

Suatu kali, kata sandi yang kami terima dari kelurahan adalah rokok-kelembak. Adalah tugas kami para pemuda yang memperoleh giliran jaga untuk mencegat siapa saja yang keluar malam hari dan menegurnya dengan kata sandi rokok. Bila tidak menyahut dengan kata kelembak, kami berhak memukulinya dan menyerahkan ke aparat setempat.

Menjelang tengah malam, terlihat seorang berjalan terbungkuk-bungkuk melintas di depan gardu kami sambil membawa upet sebagai penerang jalan.

“Stop! Rokok!” teriak Mas Parman.

Ternyata orang itu adalah Mbah Warso yang kami kenal sebagai penggali sumur di kampung kami. Dia kaget dan tergagap. Dia keluarkan sebungkus rokok keretek dari sakunya, sambil katanya: “Rokok Man? Nih!” Tapi uluran tangannya ditepis oleh Mas Parman hingga rokoknya terpental.

“Dari mana kamu!” tanya Mas Parman garang.

“Dari jagong bayen, Man …” jawab Mbah Warso terheran-heran.

Tiba-tiba, plak! Mas Parman menampar muka Mbah Warso dan perintahnya kepada kami: “Tangkap! Bawa ke markas!”


Kami tidak berani membantah, meskipun kami tahu bahwa mungkin Mbah Warso lupa atau tidak tahu sandi kampung kami. Kami yang tidak tega dengan nasib Mbah Warso, segera meninggalkannya di markas, sementara Mas Parman tampaknya senang menikmati raungan orang kesakitan dan rintihan menyayat orang minta ampun.

Beberapa hari kemudian, setengahnya aku protes kepada Mas Parman, terhadap penangkapan Mbah Warso itu, tapi ujarnya dengan keras, “Dia adalah salah satu saksi mata dan mungkin antek mereka! Berapa banyak dia menerima pesanan menggali sumur dari siapa-siapa yang menggunakan galiannya seperti di Lubang Buaya.”

Hatiku berdesir, saya mengetahui bahwa ternyata Pak Hardi, tetangga saya, aktivis partai, juga membuat galian sumur di belakang rumahnya, meskipun sudah memiliki sumur di samping rumah. Bukan tidak mungkin aku pun akan menghuni galian itu apabila mereka menang seperti kata Mas Parman.


Malaikat maut tampaknya semakin menebarkan sayapnya. Perlawanan dari pihak yang terburu bermunculan pula, mungkin lantaran terdesak. Suatu malam, rumah Pak Karto, warga desa sebelah, terbakar. Pak Karto adalah seorang aktivis sebuah partai yang gencar memburu dan mendata siapa saja anggota partai terlarang yang harus ditangkap. Dia diketemukan, ya Allah, hangus di bawah reruntuhan rumahnya dengan dua paku besar menancap di kiri kanan pelipisnya seperti tanduk! Konon yang melakukan adalah anaknya sendiri. Hatiku ngilu!

“Kamu lihat!” kata Mas Parman kepada kami. “Mereka mau menantang. Darah harus dibayar darah! Utang nyawa dibayar nyawa.” Kemudian dia mengeluarkan secarik kertas dari sakunya. “Dan ini mereka-mereka yang harus diciduk malam ini!”

Dari mana Mas Parman mendapatkan daftar itu, kami tidak pernah tahu. Bersama jagabaya, Mas Parman bagaikan panglima perang, bersenjatakan pedang, memimpin kami menggedor pintu rumah dan menyeret para lelakinya. Kalau orang yang dicari sudah terlanjur kabur, maka yang ada di rumah adalah sebagai gantinya. Para istri atau para kakek pun diciduk pula tanpa ampun. Termasuk Mbak Sri yang sedang hamil tua.

“Mereka sangat diperlukan untuk interogasi, ke mana mereka yang masih jadi buronan?!” ujar Mas Parman, sebelum aku berniat protes.


Di markas, dalam ruang pemeriksaan yang sempit, tampak di dinding dan di beberapa tempat, ada bekas-bekas cipratan darah. Dengan lampu remang-remang, tempat ini lebih meniupkan aroma ruang siksa daripada ruang pemeriksaan. Mas Parman sibuk menyiapkan alat pembangkit listrik yang kabelnya semrawut dengan ujung telanjang. Bayangan menyeramkan membuat kepalaku berkunang-kunang.

Ketika kemudian para tawanan bergiliran dipanggil ke dalam, kemudian terdengar bentakan suara Mas Parman dan kemudian terdengar raungan menyayat orang kesakitan, perutku jadi terasa mual dan aku pun muntah-muntah. (Kudengar beberapa waktu kemudian, Mbak Sri meninggal di tahanan dengan benjolan-benjolan memar di sekujur tubuhnya).

Semakin lama tugas kami semakin berat. Kecuali siap siaga siang malam, hampir setiap tengah malam kami harus mengubur berpuluh-puluh mayat. Bahkan kamilah yang menggali kubur apabila yang datang sudah menjadi mayat. Bila sudah begini, kepalaku semakin berkunang-kunang, peluh dingin membuatku menggigil, perut mual, muntah-muntah, dan tidak jarang jatuh tak sadarkan diri. Juga Mulyono, kalau bertugas mengubur mayat, peluh dingin membasahi dahinya, tangannya gemetar, serta suka menggigit bibirnya sampai berdarah-darah. Oleh karena itu, Mas Parman menyuruh aku dan Mulyono istirahat cuti beberapa hari di rumah.


Tinggal seharian di rumah inilah, kusempatkan untuk menyadap berita bisik-bisik dari para tetangga bahwa banyak korban tidak bersalah dan tidak tahu apa-apa. Betapa murahnya nyawa, ujar Mulyono. Hanya dengan dendam pribadi, kecemburuan, terlibat utang, atau ingin merebut istri orang, seseorang bisa menjadi korban hanya dengan bisikan fitnah. (Jangan-jangan Mbak Sri juga termasuk korban, karena setahuku dia pernah menolak cinta Mas Parman).

Rupanya api dendam telah membakar seluruh rakyat. Penangkapan warga terhadap warga sendiri yang dicurigai mempunyai indikasi, mulai merebak. Yang kusaksikan kemudian adalah keadaan tak terkendali. Baku curiga, baku tuduh, baku fitnah, dan baku bantai antara warga sendiri. Rupanya Mulyono juga mempunyai perasaan seperti aku. Kerap kali kami menghindar dari tugas itu dengan berbagai alasan. Bahkan kami pernah sembunyi di dalam hutan beberapa lama karena mencoba berpikir waras untuk melawan kengerian yang juga bisa membuat kami sekarat. Karena itu, aku sempat digelandang Mas Parman ke balai desa.

Di depan warga ia berucap dengan berang, “Jangan jadi orang banci! Dasar anak yatim, kalau bukan sepupuku sendiri, sudah aku ciak kamu!” Kutahan perasaan untuk tidak menangis mendengar caciannya.


Kulihat Mas Parman semakin garang dengan seragam kesatuan pemuda loreng-loreng seperti tentara dengan sepucuk pistol terselip di pinggang. Rupanya selama kami absen, teman-teman lain mendapat latihan menembak. Sulit kubayangkan bahwa kami juga ditambahi tugas semakin berat sebagai eksekutor, mengingat semakin gawatnya perang saudara. Kemarin ditemukan banyak mayat ditenggelamkan di sebuah rawa sehingga beberapa waktu hasil pertanian kangkung di rawa tersebut tidak laku dijual. Peristiwa itu menyusul setelah adanya penangkapan besar-besaran oleh aparat terhadap ratusan pemuda yang ingin menjarah persenjataan di gudang senjata di pusat pendidikan prajurit di kota kami.

Dan malapetaka itu pun terjadi. Setiap malam, berpuluh tahanan dibawa ke sungai pasir di lereng gunung merapi. Mas Parman memaksaku untuk menghabisi Marjo, pemuda tetanggaku yang selalu berseragam hitam dengan sapu tangan merah di lehernya. Dengan tangan terikat, dia harus menghadap lubang galian pasir. Aku siap dengan pistol di belakangnya. Terdengar aba-aba siap. Peluh membasahi telapak tanganku. Badanku menggigil. Kepalaku berkunang-kunang. Perutku mual, mau muntah .…

“Tembaaak!” teriak aba Mas Parman. Tiba-tiba Marjo berbalik menghadapku bersamaan dengan tekanan pelatuk pistolku. Matanya menatapku tajam. Tepat di dadanya muncrat darah mengenai mukaku. Jantungku seperti terhenti, kemudian hanya kegelapan menerpa pandanganku .… Dan kemudian yang tersisa hingga sekian lama adalah tatapan mata Marjo yang selalu mengikutiku.


Kartu lebaran yang kuterima dari sahabatku, Mulyono, membuatku menghabiskan masa liburan ini di kota kelahiran bersama keluargaku, setelah hampir tiga puluh tahun ingin kulupakan. Mulyono yang sudah jadi dokter dan baru pulang haji menyambutku dengan pelukan dan tangis. Pengalaman masa lalunya juga tak jauh berbeda denganku. Jiwanya juga pernah terguncang sewaktu menghabisi seorang tawanan. Tidak dengan pistol melainkan dengan parang.

“Kamu tahu, Aryo,” ceritanya. “Setelah aku lulus dan mulai praktik, beberapa kali aku kedatangan pasien yang sama. Lelaki kurus, pucat, dan bermata cekung. Setiap kutanya sakit apa, dia buka bajunya dan tampak perutnya robek menganga dengan usus yang terburai. Sesudah itu aku tak tahu dia pergi karena aku pingsan. Hingga aku pun juga hampir jadi gila. Tapi sekarang aku tenang, setelah bisa aku atasi dengan tekun beribadah.”

“Sekarang Mas Parman di mana ya?” tanyaku. Cepat dia jawab dengan pandangan aneh seperti mengandung rahasia. “Oh ya, kau harus tengok dia. Dia sempat diangkat jadi camat. Sekarang dia sakit. Beberapa kali dia dibawa kemari. Dia sekarang tinggal di desa kelahirannya sana!”


Mas Parman masih segar ingatannya saat kutemui. Dia merangkulku sambil menepuk-nepuk punggungku. Kami mengobrol ke sana kemari tentang Jakarta dan tentang jabatan camat yang dia peroleh setelah kekacauan usai. Ketika aku berbasa-basi mengucapkan terima kasih bagaimana dia dulu telah menggemblengku jadi orang tegar, tiba-tiba dia meringkuk sambil merintih kesakitan. Seluruh tubuhnya mendadak penuh benjolan-benjolan memar seperti habis disengat listrik. Aku pun panik. Akan kugotong dan kubawa ke dokter, tetapi istrinya tampak tenang saja.

“Tidak apa-apa, biar saja Mas,” ujarnya, “sejak jadi camat, penyakit aneh ini selalu timbul ketika diingatkan tentang masa lalunya. Tapi saat hendak dibawa ke dokter, penyakitnya selalu hilang dengan sendirinya.”

Ah, masa, pikirku. Dengan setengah memaksa, kubawa dia dengan mobil ke tempat Mulyono. Begitu sampai di depan pintu ruang praktiknya, mendadak penyakit Mas Parman hilang dengan sendirinya. Rintihannya berhenti dan wajahnya penuh ketidakmengertian.

Mulyono keluar. Senyumannya aneh menyambut kami .…

Catatan:
Lintang kemukus: meteor berekor asap
Pageblug: musim kematian manusia
Upet: tali bambu kering yang dibakar ujungnya
Jagong bayen: menghadiri selamatan kelahiran bayi
Jagabaya: aparat keamanan kelurahan
Diciduk: ditangkap
Ciak: makan
Rokok kelembak: rokok berbumbu menyan

GM Sudarta
Klaten, 2003
https://cerpenkompas.wordpress.com/2006/10/01/cerita-tentang-orang-mati-yang-tidak-mau-masuk-kubur/

20 Juni, 2018

Malumologi Sorakan Terhadap Anies


Masih terhanyut suasana saling memaafkan nan indah permai pada hari kedua Idul Fitri, saya terhenyak ketika menyimak dua naskah yang dimuat sebuah media online.

Dua naskah menghenyakkan itu yang satu berjudul “Dimensi Politik Menjijikkan di Istana Bogor, pada Hari Raya” tulisan Pradipa Yoedhanegara dan yang satunya lagi berjudul “Self Defeating Disorder” tulisan Zeng Wei Jian.

Kedua naskah tersebut merupakan ulasan terhadap suatu peristiwa yang terjadi pada acara Open House Idul Fitri di Istana Kepresidenan di Bogor.

Pada saat itu ada sekelompok (tidak semua) masyarakat yang sedang antri mengucapkan Selamat Lebaran kepada Presiden Jokowi, menyoraki Gubernur Anies Baswedan yang juga datang ke Istana Bogor untuk mengucapkan Selamat Lebaran kepada Presiden Jokowi.


Kelas Langitan
Kedua penulis naskah sama-sama mengulas sorakan terhadap Gubernur Anies pada acara Open House Idul Fitri di Istana Bogor. Meski sama sasaran, namun ulasan mereka berdua tak serupa gaya dan sisi. Pradipa mengulas masalah secara lembut dan membelai dari sisi kultural sementara Zeng mengulas masalah secara tajam dan menusuk dari sisi psikologi gangguan mental.

Pradipa menyayangkan peristiwa yang disebutnya dimensi politik menjijikkan sebagai suatu peristiwa yang memalukan sebab merusak keindahan suasana saling memaafkan lahir-batin pada masa Lebaran.

Zeng mengasihani para pendukung Ahok yang menderita gangguan mental sehingga tidak mampu beranjak move on akibat terjebak dendam kesumat akibat junjungan mereka telak dikalahkan Anies pada Pilkada Jakarta gara-gara mayoritas warga Jakarta lebih suka Anies ketimbang Ahok.

Sementara Pradipa mendambakan “Das Sollen” , Zeng menertawakan “Das Sein”. Namun terlepas gaya dan sisi ulasan mereka berdua, saya menghormati dan menghargai Pradipa Yoedhanegara dan Zeng Wei Jian sebagai para penulis kritik sosial kaliber sakti mandraguna kelas langitan.

Pradipa Yoedhanegara (kiri), Anies Rasyid Baswedan (tengah), Zeng Wei Jian (kanan).

Memalukan
Ada dua jenis sorakan yaitu yang melecehkan dan yang memuja. Saya tidak hadir pada saat peristiwa Anies disoraki terjadi di Istana Bogor maka saya tidak mengetahui jenis sorakan tersebut.

Apabila ternyata sorakan terhadap Anies di Istana Bogor bersifat memuja maka berarti Pradipa dan Zen sama-sama keliru tafsir.

Namun andaikata ternyata sorakan terhadap Anies tergolong jenis sorakan yang melecehkan maka saya pribadi sangat berterima kasih kepada para pesorak yang seirama-senada dengan pe-walk out ketika Gubernur Anies pidato atas permintaan panitia perayaan 90 tahun Kolese Kanisius.

Mereka telah berkenan memberikan contoh nyata perilaku memalukan akibat tidak tahu malu. Contoh-contoh perilaku memalukan akibat tidak tahu malu itu sangat berharga demi melengkapi isi buku Malumologi yang sedang saya susun.

Jika ada yang tidak berkenan, maka pada hari kedua Idul Fitri ini saya memberanikan diri untuk memohon maaf lahir dan batin.

Jaya Suprana
Penulis adalah peneliti perasaan yang disebut sebagai malu yang hasilnya akan dimuat di dalam buku MALUMOLOGI
Acara “Menuju Peradaban”
Sabtu, 16 Juni 2018
http://rmol.co/read/2018/06/16/344277/Malumologi-Sorakan-Terhadap-Anies-



Dimensi Politik Menjijikkan di Istana Bogor pada Hari Raya

Open House yang dilakukan oleh Presiden Jokowi pada hari pertama perayaan Idul Fitri 1439 H yang dilaksanankan di Istana Bogor tercoreng, oleh perilaku memalukan dan tidak terpuji para pendukung rezim yang menyoraki kedatangan Gubernur DKI, Anies Rasyid Baswedan yang datang bersilaturahmi kepada Presiden Jokowi.

Momentum Hari Raya seharusnya dijadikan sebagai ajang untuk saling bermaaf-maafan oleh semua pihak karena dengan perayaan Idul Fitri tersebut seluruh umat manusia di muka bumi ini kembali kepada kesucian dirinya yaitu menjadi fitrah kembali seperti bayi yang baru dilahirkan di dunia ini.

Sorakan yang dilakukan oleh para pendukung Presiden Jokowi di Istana Bogor, terhadap Gubernur DKI Anies Rasyid Baswedan, pada Hari Raya Idul Fitri adalah suatu tindakan yang tidak terpuji, sangat memalukan dan mempermalukan kita semua sebagai sebuah bangsa, yang sedang merayakan Hari Kemenangan bagi umat Islam.


Jadi jelaslah kini, perilaku memalukan tersebut sepertinya sudah menjadi budaya bagi para pendukung rezim, sebagai akibat dari kekalahan Ahok pada Pilkada tahun lalu (2017). Dan mungkin juga merupakan bentuk ketakutan para pendukung rezim apabila kelak Anies Rasyid Baswedan berpasangan dengan Prabowo Subianto untuk maju sebagai penantang Presiden Jokowi pada Pilpres tahun 2019.

Perilaku memalukan yang terjadi di Istana Negara tersebut, seharusnya dapat dicegah oleh pihak Paspampres atau pun pihak keamanan lainnya dengan memberikan teguran keras terhadap orang ataupun kelompok yang meneriaki Gubernur Anies. Karena dampak dari cemoohan mereka terhadap Gubernur Anies pada akhirnya semakin membuat Tuan Presiden tergerus citranya di hadapan publik.

Di era digital society seperti saat ini, perilaku seperti itu seharusnya dapat dihindari. Sebab pada akhirnya publik akan menilai para pendukung rezim saat ini bukanlah orang-orang terpuji yang memiliki jiwa dan karakter kenegarawanan. Mereka akan dianggap sebagai manusia pembenci yang selalu menyimpan dendam serta permusuhan. Bahkan di saat umat Muslim di seluruh dunia saling bersilaturahmi dan saling bermaaf-maafan.

Miris sekali perilaku para pendukung rezim yang mengaku paling Pancasilais dan paling mencintai Indonesia, serta merasa paling Bhinneka, tapi ternyata itu semua bohong belaka. Karena jelas sudah perilaku yang mereka pertontonkan di hadapan publik saat Idul Fitri, bukanlah cermin dari sikap seorang Pancasilais yang mencintai NKRI, dan sama sekali tidak menghargai kebhinekaan yang sering mereka suarakan.


Secara pribadi saya ingin menyatakan, perilaku intoleran yang dilakukan oleh pendukung rezim terhadap Gubernur Anies Rasyid Baswedan saat perayaan Hari Kemenangan tersebut, adalah hal paling menjijikkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini. Para pendukung rezim sepertinya tidak tahu bagaimana memaknai Idul Fitri dan menjalin silaturahmi di hari yang dipenuhi rahmat dan karunia dari Sang Khaliq.

Untuk itu sudah selayaknya bila pihak istana membuat pernyataan kepada publik dengan meminta maaf kepada Gubernur Anies, atas sikap konyol yang dilakukan oleh para pendukung Tuan Presiden Jokowi, yang sudah sangat keterlaluan dan berlebihan tersebut. Dan juga telah sangat mencoreng Lembaga Kepresidenan, karena hal tersebut dilakukan di dalam Istana Bogor.

Sebagai pesan penutup, semoga saja agenda open house di acara Hari Raya pada tahun yang akan datang tidak terjadi lagi hal yang memalukan seperti ini. Dan berharap para pendukung maupun relawan #2019GantiPresiden agar tidak mengikuti perilaku tidak terpuji seperti yang dilakukan oleh para pendukung rezim saat ini.

Wallahul Muwaffiq ila aqwami-thoriq,
Wassalamu ‘alaikum Wr, Wb.

Pradipa Yoedhanegara
Sepinggan, 15 Juni 2018
https://pribuminews.co.id/2018/06/15/dimensi-politik-menjijikan-di-istana-bogor-pada-hari-raya/
http://www.swamedium.com/2018/06/15/dimensi-politik-memalukan-di-istana-bogor-pada-hari-raya/2/


Self Defeating Disorder

“Revolusi Mental” itu sukses; soraki Anies-Sandi di Istana Bogor. Clair et distinct (bahasa Prancis, jelas dan terperinci) Tadinya, saya kira “Revolusi Mental” itu berarti makan keong, cabut meteran listrik, tanam cabe sendiri, cacing itu bergizi dan “tawar dong”, sewaktu harga beras meroket.

Tak ubahnya segerombolan simpanse di musim kawin, in tropical jungle, mereka bersuara gaduh. Mereka berbunyi nyaring saat melihat Anies-Sandi memasuki Istana Bogor.

Anies-Sandi datang menghadap Presiden. Bersilaturrahmi kepada Kepala Negara. Sebuah etika pemerintahan. Sebuah adab orang-orang beragama.

Pola tingkah-laku gerombolan “Revolusi Mental” itu persis digambarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-III-R) tahun 1987. Presisi dan akurasinya amazing.

Pola tingkah-laku itu disebut “Self-defeating personality disorder”. Kurang-lebih artinya “kerusakan mental orang-orang yang kalah”.


Ya, mereka kalah dua digit dalam Pilkada Jakarta. Sakitnya tuh di sini. Riset menyatakan amarah menstimulasi bagian-bagian otak. Amygdala mengaktivasi hypothalamus. Akhirnya, pituitary triger sekresi hormon-hormon cortisol, adrenaline dan noradrenaline.

Bila terus-terusan marah, mereka bisa gila permanen. Semuanya bermula dari “Self-defeating personality disorder” itu.

Ada beberapa indikasi; mereka “chooses people and situations that lead to disappointment, failure, or mistreatment” dan “rejects opportunities for pleasure, or is reluctant to acknowledge enjoying themselves (despite having adequate social skills and the capacity for pleasure)”.

Mereka pilih Anies-Sandi sebagai sumber frustrasi kalah di Pilkada. Proyek-proyek dan mimpi mereka musnah.

Gerombolan ini tolak bantuan sosial dan medis. Anies-Sandi merilis Program Rumah DP 0 (Nol) Rupiah. Tapi mereka lebih memilih hidup dalam kegelapan dendam dan amarah. Kasihan sekali orang-orang ini.

The End

by Zeng Wei Jian
https://www.facebook.com/search/top/?q=Zeng%20Wei%20Jian


Terbuat dari Apa Hatimu, Bang Anies?

Kalau yang menghina pejabat di medsos bisa ditangkap, dipenjarakan. Bagaimana kalau yang menghina secara langsung? Tak terbayangkan.

Tapi Anies Baswedan masih bisa tersenyum ramah saat disoraki oleh relawan lawan politiknya. Kalau saja saya yang “dibegitukan”, apakah saya masih bisa tersenyum lepas? Kayanya nggak mungkin. Begitulah kelakuan norak “sejumlah warga” saat Anies ikut hadir dalam open house yang diadakan oleh Presiden Jokowi di Istana Bogor.

Terbuat dari apa hatimu Bang Anies?

Kejadian ini bukan kali pertama. Anies juga disoraki oleh “kaum tempurung” yang norak permanen saat menghadiri pernikahan putri Jokowi, Kahiyang Ayu di Solo. Namun, Anies masih tetap bisa menebar senyum lepas.


Terbuat dari apa hatimu Bang Anies?

Anies juga dipermalukan saat ditahan oleh Paspampres, nggak boleh ikut rombongan pejabat dalam acara Piala Presiden (ketika itu Persija-Jakarta, juara). Tidak nampak ada kemarahan dalam wajahnya, juga tak ada ucapan bernada marah setelahnya.

Terbuat dari apa hatimu Bang Anies?

Ini indikasi permusuhan, yang menjelaskan sebenarnya keterbelahan warga itu bermula dari kelompok sebelah mana!? Nggak heran kalau belakangan ini kelompok “bani sorak” berencana bikin acara Rembuk Nasional sambil memaki, dan menantang kelompok lainnya. Cuma bisa bilang, rembuk ndasmu!

Balya Nur
Penulis adalah pegiat media sosial
http://www.swamedium.com/2018/06/16/terbuat-dari-apa-hatimu-bang-anies/

11 Mei, 2018

Meme Pembubaran HTI


Baru-baru ini meme yang memuat foto dan komentar saya soal pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) telah viral di medsos. Sebagai PNS, Selasa malam (8/5) saya telah dipanggil pimpinan ITS untuk menjelaskan posisi saya soal meme tersebut. Meme poster itu memuat komentar pendek saya soal kasus pembubaran HTI seminggu sebelumnya. Dalam meme itu saya disebut sebagai guru besar ITS dengan berbagai tagar yang mudah memersepsi saya sebagai pendukung HTI atau bahkan anggota HTI, lalu ITS adalah sarang HTI. Luar biasa!


Selama setahun terakhir ini saya kerap berinteraksi dengan pegiat HTI dalam beberapa diskusi. Di rumah, saya punya beberapa “buku wajib” HTI. Terakhir bahkan saya undang kawan-kawan saya untuk membedah sebuah disertasi pada 2000-an di London School of Economics dengan judul “The Inevitable Caliphate”. Seorang kawan dari JPIP ikut membedah disertasi tersebut secara kritis.

Teman-teman HTI berusaha keras meyakinkan saya dan istri saya tentang peran penting khilafah. Saya dan istri saya sudah sejak lama percaya khilafah, tapi dengan pemahaman yang berbeda dari versi HTI. Bagi saya, khilafah baru yang disebut Imam Mahdi hanya bisa hadir di atas reruntuhan Kerajaan Arab Saudi. Sebagian pemahaman saya itu telah saya tulis dalam sebuah artikel di Jawa Pos serta dalam beberapa portal berita.


Bagi saya, saat ini umat manusia berada dalam khilafah Pax Americana dengan Obama lalu Trump sebagai khalifah. Khilafah adalah suatu bentuk tata dunia (world order) dengan berbagai instrumen teknokratiknya seperti PBB beserta lembaga-lembaga di bawahnya semacam Bank Dunia dan International Monetary Fund (IMF).

Bagi saya, dunia saat ini berada di bawah khilafah yang zalim, yang sewenang-wenang atas kebanyakan umat manusia. Pancasila tidak mungkin hidup subur dalam ekosistem tata dunia semacam itu. Itulah yang menjelaskan mengapa Pancasila telah dipaksakan secara semu saat Orde Baru dan hampir saja dibuang ketika reformasi. Seperti peringatan Bung Karno, saat ini praktis kita sudah mengalami penjajahan baru. Penjajahan remote controlled melalui sistem ekonomi dan keuangan global ribawi. Oleh Bung Karno, itu disebut nekolim.


Saya menolak Perppu Ormas karena menilainya sebagai titik masuk bagi otoritarianisme yang akan dipakai untuk mengontrol pikiran orang. Setelah sistem persekolahan banyak membuat warga muda dungu, Perppu Ormas tersebut akan memperparah kedunguan itu. Kampus bagi saya adalah a market place of ideas. Mahasiswa perlu berlatih memahami berbagai macam pikiran mendasar mengenai realitas kehidupan berbangsa dan bernegara agar pantas menjadi pemimpin bangsa di masa depan. Menentang Perppu Ormas tersebut adalah perang melawan kedunguan.

Sebagai dosen PNS saya sudah lama tidak memosisikan diri sebagai pegawai, tapi sebagai profesional. Sebagai profesor saya juga diberi tunjangan kehormatan. Saya tidak tahu persis alasan mengapa profesor berhak atas tunjangan kehormatan itu. Saya juga pernah menjadi ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Cabang Surabaya. Saat ini saya duduk sebagai anggota Majelis Kehormatan Etik PII pusat. Setahu saya, para profesional bukan bekerja bagi siapa yang membayarnya. Dia melayani publik untuk kebajikan publik. Tadi malam oleh manajemen puncak ITS saya telah diposisikan sebagai pegawai.

Prof Daniel M Rosyid (memakai syal), bersama para koleganya.

Saya sudah lama berkeyakinan bahwa universitas adalah lembaga yang istimewa karena berhak memberikan gelar sarjana, bahkan doktor. Lembaga lain tidak punya hak semacam itu. Gelar itu disebutkan dalam ijazah. Ijazah ini kosakata Arab yang memiliki akar kata yang sama dengan kata mukjizat.*(Lihat koreksi saya di bawah tulisan ini) Setiap sarjana yang kami didik di ITS diharapkan dapat membuat banyak mukjizat bagi masyarakatnya. Mukjizat itu perkara istimewa bagi yang tidak berilmu, tetapi perkara biasa bagi sarjana.

Tadi malam, saat sebagai profesional diminta mencabut komentar yang viral itu, saya menolak karena saya tidak mampu untuk tidak konsisten dengan hati nurani yang telah saya tuliskan dalam beberapa media. Saya segera ingat, suatu ketika (1983), sebagai ketua Mushala ITS, saya diminta menarik buletin Mushala ITS oleh pimpinan ITS saat itu. Saya menolak permintaan tersebut karena buletin itu sudah telanjur beredar bagi pengunjung pada saat pameran buku dan busana muslim di sekitar Perpustakaan ITS. Dalam buletin tersebut ada foto “Masjid ITS” yang telantar pembangunannya. Juga foto seorang mahasiswi berjilbab serta wawancara wartawan buletin mushala dengan seorang mantan ketua Dewan Mahasiswa ITS.


Saya jadi teringat almarhum ayah saya, Ibrahim Ibnu Djamhuri, seorang pengacara alumnus UGM sekaligus pedagang yang telah wafat 25 tahun silam. Semula beliau adalah jaksa. Lalu diasingkan untuk mengurusi sebuah pabrik minyak kelapa yang bangkrut di dekat Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang. Diasingkan karena secara terbuka beliau menolak untuk memuja Soekarno di puncak kekuasaannya.

Di ruang tamu rumah kami di Semarang terpampang sebuah lukisan cat minyak Abraham Lincoln. Ayah saya itu –seorang Masyumian– adalah pengagum berat Abraham Lincoln, seorang Yahudi. Keduanya (Bung Karno dan Lincoln) adalah sarjana hukum. Anehnya, ayah saya berpesan, “Kelak jadilah dokter atau tentara. Jangan kuliah di fakultas hukum bengkok.

Prof. Ir. Daniel M. Rosyid Ph.D, M.RINA
Guru Besar Teknologi Kelautan ITS
Jawa Pos, 9 Mei 2018

*(Koreksi dari saya, pemilik Blog ini)
Ijazah dan mukjizat memang berasal dari kosakata bahasa Arab, tapi dua kata itu tidak memiliki akar kata yang sama.

Kata mu’jizat (معجزة), berasal dari akar kata ‘a-j-z (عجز), yang memiliki makna: tidak mampu, tidak dapat, tidak kuasa; lemah; dan menjadi tua. Jadi, kata mu’jizat (معجزة) merupakan bentuk turunan dari a’jaza (أعجز) yang berarti ‘melemahkan’.

Sedangkan kata ijazah (إجازة), berasal dari akar kata j-w-z (جوز), yang memiliki makna: melalui, melewati; lulus (ujian); telah terlaksana, telah berlangsung; boleh, diperkenankan. Dan kata ijāzah (إجازة) merupakan bentuk turunan dari ajāza (أجاز) yang berarti surat izin, surat keterangan atau syahadah.

Wallahu a'lamu ....