30 Mei, 2013

Fenomena Langkah Pertama


Semua orang ingin sukses. Tapi tidak semua orang akan sukses. Ada yang bilang bahwa sukses adalah hak setiap orang. Tapi, kalau memang benar demikian, kenapa tidak semua orang lantas mengklaim hak untuk suksesnya? Aneh kan?

Jadi, apakah benar sukses itu adalah hak setiap orang? Kenapa banyak orang yang ingin sukses, tetapi tidak berhasil? Ada banyak alasannya, diantaranya faktor keberuntungan yang belum menghampirinya, kurang gigih alias mudah menyerah, berusaha berkali-kali dengan cara yang sama padahal sudah tahu bahwa cara itu kurang tepat, dan masih ada “jutaan” alasan lainnya.

Namun, yang paling banyak kita jumpai adalah ketidakberanian seseorang untuk mengambil langkah pertama. Ada ungkapan yang mengatakan bahwa semua berawal dari langkah pertama. Inilah kenapa saya menuliskan judul “Fenomena Langkah Pertama” untuk tulisan kali ini. Kalau dipikir-pikir, aneh kan, mau sukses tapi nggak berani mengambil langkah pertama? Secara psikologis, merupakan hal yang wajar dan manusiawi apabila kita memiliki rasa takut.

Ada orang yang takut apabila berada di ketinggian, ada yang takut apabila berada di ruang tertutup atau di ruang gelap, ada yang takut ketika harus berbicara di depan publik, dan seterusnya. Bagaimana mengalahkan rasa takut yang kita miliki? Yang pertama harus dijawab adalah apakah kita benar-benar mau mengalahkan rasa takut tersebut dan kenapa?


Apa alasannya? Kalau Anda hanya ingin mengalahkan rasa takut tersebut tanpa memiliki alasan (reason) yang jelas, saya rasa kemungkinan Anda akan menyerah di dalam prosesnya lebih besar dibandingkan apabila Anda memiliki alasan yang jelas kenapa Anda ingin sekali mengalahkan rasa takut tersebut. Nah, balik ke fenomena langkah pertama di dalam pencapaian sebuah kesuksesan.

Pertama, sadarilah bahwa kalau Anda tidak mengambil langkah pertama ini, ya jelas Anda tidak akan mencapai tujuan yang ingin Anda capai, yaitu kesuksesan (apa pun itu). Kalau Anda sekarang berada di rumah dan ingin pergi ke kantor, tapi nggak berani keluar rumah, ya gimana Anda bisa sampai di kantor? Nggak mungkin kan? Kenapa sih banyak orang yang nggak berani mengambil langkah pertama? Pada umumnya sih karena mereka takut gagal di tengah jalan.

Benar! Mereka takut kalau di tengah jalan, apa yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang direncanakan. Mereka takut menghadapi rintangan yang tahu-tahu muncul di depan mereka tanpa mereka prediksi sebelumnya. Mereka takut tidak siap menghadapi rintangan yang ada di depan. Memang, sehebat apa pun kita merencanakan suatu perjalanan, kita tidak akan mampu memprediksi 100% apa yang akan terjadi di perjalanan yang akan kita tempuh.

Ketika hal ini yang Anda hadapi, ya Anda nggak boleh give up. Di detik Anda menyerah, ya tujuan yang ingin Anda capai tidak akan pernah tercapai. Balik ke ketakutan di awal, coba pikir deh, kalau Anda tidak berani mengambil langkah pertama, ya Anda sudah pasti gagal alias tidak akan berhasil mencapai tempat yang ingin Anda tuju. Menurut saya, masih lebih baik mencoba dan di tengah jalan gagal daripada sama sekali tidak mencoba.

Kenapa? Kalau sudah dicoba, tetapi misalnya kapasitas diri kita ternyata tidak mampu untuk menghadapi rintangan yang ada, setidaknya ada yang bisa kita pelajari. Kita akan bisa menganalisis rintangan tersebut dan setidaknya kita sudah tahu bahwa kalau kita akan mencobanya di lain kesempatan, kita harus mempersiapkan diri andai rintangan tersebut kembali muncul di hadapan kita.


Nah, kalau kita tidak mencoba sama sekali, ya kita masih tetap tidak akan tahu bahwa akan ada kemungkinan rintangan tersebut muncul ketika suatu hari kita mencoba melakukannya. Sekarang ini, teman-teman saya masih sering bingung dengan kegiatan saya sehari-hari memimpin beberapa perusahaan milik saya dan mitra bisnis saya.

Jangankan teman-teman saya, personal assistant dan beberapa orang di tim saya aja bingung, “Banyak banget yang Mas Billy jalanin!” Terkadang, saya sendiri juga bingung, kok bisa ya? Di bawah PT Jakarta International Management (JIM), ada beberapa lini bisnis yang beberapa diantaranya modeling agency (JIM Models), artist management (JIM Artists), fashion event organizer (JIM Events), modeling school (JIM-f Modeling Academy), dan professional speaker management (JIM Executive).

Ini adalah lini bisnis yang masih jalan dan berkembang. Tapi bukan berarti sejak JIM berdiri pada akhir 2006, semua lini bisnis yang dimulai berkembang. Ada beberapa yang saat ini sedang “mati sementara”, diantaranya bidang fotografi (JIM Photography), kids talent management (JIM Kids), talent management (JIM Talent), dan creative digital agency (JIM Digital).

Kenapa saya bilang keempat lini bisnis ini mati sementara? Karena meskipun pernah dicoba dan gagal, saya tidak menganggap bahwa keempat bisnis ini lantas tidak akan pernah bisa dimulai kembali dan berhasil. Dengan kata lain, suatu saat, ketika saya mampu mendapatkan mitra bisnis yang sesuai, saya akan kembali membuka keempat lini bisnis ini lagi. Saat ini, saya masih sebagai salah satu pemegang saham Rolling Stone Cafe Jakarta yang ada di Ampera Raya, Jakarta Selatan.


Yang banyak orang tidak tahu adalah bahwa saya juga sempat bermitra dengan teman SMP saya membuka sebuah warung nasi goreng di Kelapa Gading pada akhir 2009 lalu. Warung ini hanya bertahan sekitar lima bulan dan akhirnya kami berdua memutuskan untuk menutupnya. Saya juga pernah menginvestasikan uang saya puluhan juta ketika seorang teman SD mengajak saya untuk membuka sebuah perusahaan digital printing.

Perusahaan ini sempat bertahan selama 2 tahun, tetapi kemudian bangkrut. Masih ada beberapa pelajaran lain yang telah saya dapatkan. Saya tidak menganggap kegagalan yang saya ceritakan tadi adalah sebuah kegagalan, tapi lebih sebagai sebuah pembelajaran. Kenapa? Karena saya yakin, ketika suatu hari saya akan mencoba kembali bisnis-bisnis tersebut, saya sudah menjadi lebih siap jika dibandingkan kala itu. Satu hal yang saya tahu, saya nggak pernah takut untuk mencoba.

Saya sadar bahwa ketika saya hanya “ingin, ingin, dan ingin” dan hanya berucap (baca: ngomong doang), saya tidak akan mencapai apa pun yang ingin saya capai. Anda harus berani mengambil langkah pertama alias mencoba. Kalau ternyata di tengah jalan gagal, so what? Life goes on, analisis apa yang terjadi, belajar, dan coba lagi! See you ON TOP!

Billy Boen;
CEO PT YOT Nusantara;
Director PT Jakarta International Management;
Shareholder, Rolling Stone Café

KORAN SINDO, 24 Mei 2013