07 Juli, 2014

Rekam Jejak Prabowo Subianto menurut Bondan Winarno


Manteman tentu mengetahui, saya adalah seorang jurnalis dan kolumnis. Artikel opini saya telah dimuat di Kompas, Tempo, Wall Street Journal, dll. Saya juga pernah menjadi pemimpin redaksi di 3 media nasional, serta diakui sebagai wartawan investigatif yang andal.

Sebelum saya gabung dan berjuang dengan Partai Gerindra, tentu saja saya teliti dulu rekam jejak Gerindra dan juga Prabowo. Pada akhir tahun 1998 saya juga pernah mendampingi pejabat dari Washington DC untuk mewawancarai Prabowo selama 3 jam.

Berbagai tuduhan dan fitnah kepada Prabowo saya teliti satu per satu. Mulai dari tuduhan penculikan, kerusuhan 1998, sampai masalah keluarga Prabowo. Saya mulai twitseri ini dari awal: Saat Prabowo memilih untuk menjadi tentara, walaupun sebenarnya beliau bisa kuliah di Universitas terbaik di Amerika Serikat.

Prabowo masuk AKABRI, karena terinspirasi oleh kisah kedua pamannya yang gugur pada tahun 1946 bersama Mayor Daan Mogot. Prabowo juga ingin melanjutkan perjuangan ayahnya dan kakeknya: jiwa dan raganya 100% untuk Merah-Putih.


Saat memimpin Kopassus, kualitas kepemimpinan Prabowo legendaris. Bahkan sampai sekarang anak buahnya masih loyal. Saat itu, Prabowo pastikan kesejahteraan semua prajuritnya. Di medan perang, Prabowo selalu memimpin di garis terdepan. Bahkan, ada tiga momen di Timor Timur ketika Prabowo diduga gugur karena putus kontak radio dengan teman-teman lain di pasukannya. Beliau sangat berani. Keberanian dan dedikasi Prabowo menjadikan Kopassus salah satu pasukan elit terbaik dunia. Dihormati dan disegani.

Prestasi Prabowo sebagai Danjen Kopassus, antara lain: pembebasan sandera di Pegunungan Mapenduma, Papua. Prabowo juga memimpin pendakian tim Indonesia ke puncak gunung Everest. Ia tidak mau kita dikalahkan Malaysia.

Sekarang kita bicara 1998. Saat itu, keberpihakan Prabowo pada proses demokrasi dan reformasi mengagetkan. Mungkin karena Prabowo pernah sekolah di luar negeri, kala itu beliau termasuk perwira yang mendukung reformasi.

Titiek Soeharto dan Prabowo Subianto.

Tuduhan pertama: Prabowo cerai karena tidak becus mengurus keluarga. Padahal yang sebenarnya adalah, beliau diusir oleh keluarga Cendana. Prabowo dianggap mengkhianati keluarga Cendana karena dua hal, pertama, beliau berani menganjurkan Presiden Suharto untuk mundur. Dan kedua, Prabowo tidak mau menggunakan senjata dan malah membiarkan demonstran masuk ke kompleks gedung DPR/MPR.

Tuduhan kedua: Prabowo menculik dan membunuh aktivis demokrasi. Yang sebenarnya adalah Tim Mawar Kopassus bergerak untuk mencegah terorisme. Sebelum Tim Mawar dapat perintah untuk mengamankan terduga teroris, telah terjadi peledakan bom di Jakarta, pada bulan Januari 1998. Peledakan bom ini, salah satunya di Tanah Tinggi, ditujukan untuk mengganggu pelaksanaan agenda nasional, yakni Sidang Umum MPR pada bulan Maret 1998.

Pada saat itu, perintah “mengamankan” bisa diartikan “menghabisi”. Tapi faktanya, Tim Mawar tidak menghabisi mereka yang diamankan. Malahan, mereka yang diamankan dan telah dilepas dengan selamat oleh Tim Mawar, sebagian dari mereka sekarang bergabung di Partai Gerindra. Apakah mereka mau bergabung dengan Gerindra jika Prabowo benar-benar kejam seperti yang dituduhkan?

Nah, bagaimana dengan mereka yang masih hilang? Silakan manteman cek hasil investigasi TEMPO edisi Widji Thukul. Hasil investigasi TEMPO menyimpulkan, ada tim lain yang bergerak! Bukan hanya Tim Mawar-nya Prabowo.

Apakah Prabowo tahu siapa yang mengamankan mereka? Kalaupun ia tahu, Prabowo terikat pada sumpah prajurit. Prabowo adalah prajurit sejati yang setia. Baginya sumpah prajurit adalah harga mati. Nama baik TNI harus tetap ia jaga. Bagi Prabowo, lebih baik ia jadi tertuduh selamanya daripada nama baik TNI tercoreng karena ia buka mulut.


Tuduhan ketiga: Prabowo adalah dalang kerusuhan Mei 1998. Namun yang terjadi sebenarnya adalah bahwa, Prabowo telah dijadikan kambing hitam. Kerusuhan Mei 1998 dipicu oleh naiknya harga BBM pada tanggal 4 Mei karena tekanan IMF untuk mencabut subsidi.

Sudah menjadi rahasia publik, bagaimana Prabowo membujuk Panglima ABRI saat itu untuk turun tangan mengendalikan situasi. Namun pada saat-saat genting, Panglima ABRI malah meninggalkan Jakarta untuk upacara seremonial di Malang.

Tuduhan keempat: Prabowo dicopot dari militer karena mau meng-kudeta Habibie. Fakta sebenarnya adalah, bahwa Prabowo justru bergerak untuk mengamankan Presiden Habibie. Sebagai Pangkostrad, Prabowo mengikuti protap untuk mengamankan Ring-1 saat ibukota kembali memanas.

Prosedur tetap ini dijalankan Prabowo tanpa sepengetahuan Panglima ABRI. Sehingga Panglima ABRI keliru analisa situasi. Panglima ABRI berasumsi, pergerakan pasukan ke Ring-1 harus atas perintah beliau. Lantas beliau lapor kepada Presiden Habibie. Karena informasi ini, Presiden Habibie berasumsi Prabowo ingin melakukan kudeta. Lantas Prabowo dipanggil menghadap. Jika Prabowo benar-benar ingin melakukan kudeta, apakah mungkin ia mau datang menghadap Presiden ke Istana dan datang sendirian tanpa membawa pasukan?

Mendengar perintah Presiden Habibie untuk melepas jabatan sebagai Pangkostrad, Prabowo kaget. Namun sebagai prajurit yang taat dan setia, ia ikuti perintah Presiden Habibie untuk melepaskan jabatan sebagai Pangkostrad dan kemudian menjadi Dansesko ABRI.


Lanjut lagi. Tuduhan kelima: Prabowo ke Yordania untuk menghindari hukuman. Kenyataaannya adalah, beliau pergi ke Yordania untuk menghindari fitnah. Karena Prabowo adalah mantan Danjen Kopassus. Beliau sangat terlatih di bidang intelijen dan kontra-intelijen. Kondisinya saat itu, ada pihak-pihak tertentu yang sedang membutuhkan kambing hitam. Malah kalau bisa semua masalah dituduhkan kepada Prabowo.

Prabowo sadar, risikonya terlalu besar jika ia tetap di Jakarta. Misalnya, rumahnya bisa “diisi” senjata, dan sebagainya. Oleh karena itu beliau memilih untuk pergi ke luar negeri. Ke Yordania dan Malaysia, untuk menghindari fitnah.

Tuduhan keenam: Prabowo kaya karena korupsi di masa Orba. Padahal yang sebenarnya adalah, pada tahun 1998 Prabowo jatuh miskin. Rumah di Indonesia tidak punya, tabungan hanya cukup untuk hidup beberapa bulan saja di pengasingan. Sehingga Prabowo harus bekerja keras sebagai pengusaha di luar negeri untuk dapat hidup dengan layak, mengikuti jejak adiknya (Hashim Djojohadikusumo).

Karena pengalaman sebagai pengusaha di luar negeri, Prabowo jadi tahu benar bagaimana orang dan negara asing telah mengeksploitasi sumber daya alam Indonesia.

Prabowo Subianto bersama mitra bisnis luar negeri.

Tuduhan ketujuh: Prabowo tidak memberikan sumbangsih untuk Indonesia pasca reformasi 1998. Namun sebenarnya, sumbangsih Prabowo luar biasa.

Sumbangsihnya yang terbesar adalah, beliau mendirikan Partai Gerindra, partai politik moderen yang terbuka dan jelas visi-misinya. Gerindra tidak meminta mahar politik untuk mereka yang ingin maju sebagai bupati, walikota, gubernur dan anggota legislatif.

Gerindra juga membuat rekomendasi berdasarkan kompetensi. Contoh: Ridwan Kamil didorong menjadi Walikota Bandung. Contoh yang lain, Saya (Bondan Winarno) masuk ke Gerindra, karena ikut seleksi terbuka. Dan biaya formulir hanya Rp. 50.000 saja. Yang lain juga sama.

Selain Gerindra, Prabowo juga fokus untuk meningkatkan prestasi olahraga kita. Khususnya pencak silat dan berkuda. Dalam masa kepemimpinan Prabowo, timnas pencak silat kita tidak pernah kalah di turnamen internasional.

Tahun 2014 ini, Prabowo juga berhasil menjadikan tim polo berkuda kita menjadi yang terbaik di Asia. Mampu mengalahkan Cina, India, dan Korsel!

Di bidang pertanian, Prabowo sebagai Ketua HKTI telah mengembangkan bibit-bibit unggul untuk meningkatkan hasil panen per hektar.

Di bidang pendidikan, sudah tidak terhitung lagi berapa banyak beasiswa sekolah dan beasiswa kuliah yang telah diberikan oleh Prabowo. Baru-baru ini, Yayasan Pendidikan Kebangsaan yang didirikan Prabowo sedang menjalin kerjasama beasiswa S1 dengan Kerajaan Yordania.

Bondan Haryo Winarno
http://faktasebenarnya.com/twitseri-oleh-pakbondan/