27 September, 2018

Mengenal Sandiaga Salahuddin Uno (Bagian II)


Dengan cara pembayaran diakhir inilah akhirnya banyak perusahaan yang memilih menjadi klien PT Recapital Advisor. Namun, ternyata cara pembayaran diakhir ini ada efek sampingnya, yaitu ada juga perusahaan klien yang sudah sukses direstrukturisasi oleh Recapital tapi menolak membayar jasa Sandiaga Uno. Mereka maunya dihutang lagi dan minta didiskon separuh (50%), atau dibayar dengan saham yang saat itu nilainya sedang turun tajam. Bahkan sebagian lagi ada yang dibayar dengan stationery bekas dan mobil bekas.

Namun daripada tidak dibayar akhirnya Sandi pun mau menerima saja pembayaran dengan saham yang nilainya sedang turun tersebut, lalu ditambah mobil bekas dan stationery bekas. Tentu saja Sandi mau menerima ini tapi dengan perasaan dongkol.

Mobil bekas itupun dijualnya, stationery bekas ia gunakan untuk menyimpan dokumen perusahaan, dan saham yang tidak bernilai itu ia simpan di loker.

Seminggu, dua minggu, tiga minggu, saham yang tadinya dianggap tak berguna itu ternyata meningkat nilainya. Bahkan melebihi total invoice yang harusnya dulu dibayar cash. Begitu girangnya Sandi kemudian ia memutuskan untuk menjual saham tersebut.

Setelah Jawa Pos Group sebagai klien pertama Sandi, mereka dapat klien dari Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI). Namun, Sandi dan Rosan tidak menerima bayaran dalam bentuk uang dari GKBI tetapi mendapatkan ruangan kantor di wisma GKBI.

Sandi Uno mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan keluarga William Soeryadjaya.

Private Equity dan Saratoga
Sejak kembali ke Jakarta, Sandi meminta kesediaan William Soeryadjaya untuk jadi mentor bisnisnya. William Soeryadjaya menyediakan waktu satu jam setiap minggunya saat makan siang hari Sabtu. Intensitas pertemuan dengan William Soeryadjaya di kantornya Jalan Teluk Betung membuat Sandi juga banyak bertukar pikiran dengan putra William, Edwin Soeryadjaya.

Dipicu oleh jebolan Astra bernama Kiki Sutantyo yang kemudian sukses membangun bisnis sendiri, Edwin mulai “menggoda” Sandi untuk menggarap bisnis bersama. Pertengahan tahun 1998, Sandi mulai terlibat bersama Edwin dalam rencana pengambilalihan Astra Microtronics.

Selama enam bulan berikutnya Sandi menyiapkan skema pembiayaan dengan investor-investor asing untuk mendapatkan dana yang cukup. Sandi mengingat dengan jelas tanggal 2 Desember saat putri keduanya, Amyra Atheefa Uno lahir di rumah sakit Medistra. Dari rumah sakit itu Sandi terhubung dengan investor-investor luar negeri via teleconference dan berhasil mengunci “deal” untuk pendanaan.

Walaupun kemudian pengambilalihan itu gagal membesarkan Astra Microtronics, tetapi Sandi mendapatkan pengalaman dan ilmu yang sangat berharga tentang apa yang kemudian dikenal sebagai Private Equity.


Memasuki Januari tahun 1999, Recapital mulai bisa berjalan dengan bisnis konsultannya. Edwin menawarkan Sandi untuk bergabung dengan Saratoga. Tidak terlalu sulit bagi Sandi membagi waktu antara Saratoga dan Recapital, apalagi saat itu kedua perusahaan tersebut bergerak dalam bisnis yang berbeda tetapi tetap dalam satu kerangka ilmu yang sangat dikuasai Sandi, finansial. Saratoga adalah perusahaan private equity sementara Recapital, konsultan keuangan.

Pada tahun 1999, pemerintah membentuk Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) dalam upaya penyehatan perbankan, penyelesaian aset bermasalah dan mengembalikan uang negara yang tersalurkan ke sektor perbankan. Setelah melewati proses panjang, aset-aset yang diambil alih itu kemudian dilepas lagi oleh BPPN. Momentum ini dimanfaatkan dengan baik oleh Saratoga. Termasuk pada saat BPPN melego kepemilikan Astra, Saratoga seperti mendapatkan kesempatan emas untuk kembali menguasai perusahaan yang dulu sempat lepas dari tangan keluarga Soeryadjaya. Sayang upaya itu kandas, karena lelang dimenangkan oleh Jardine Group dari Singapura.

Namun demikian, Saratoga terus berkembang jadi salah satu perusahaan private equity terbesar di Indonesia. Pembelian Adaro Energy dan banyak perusahaan lainnya yang kemudian dikelola dengan baik membuktikan kapasitas Saratoga dalam dunia bisnis nasional. Sementara Recapital pun ketika berhasil mendapatkan akses modal dan investasi juga berevolusi dari konsultan keuangan jadi private equity dengan banyak bidang usaha di bawahnya.

Sampai saat ini ada lebih dari 10 perusahaan dibawah naungan PT Saratoga Investama dan semuanya itu perusahaan besar semua. Di antara perusahaan yang sahamnya dimiliki oleh Sandiaga Uno, baik itu sebagai pribadi ataupun dibawah PT Saratoga Investama, adalah: PT Adaro Indonesia, PT Indonesia Bulk Terminal, PT Mitra Global Telekomunikasi Indonesia, Interra Resources Limited, PT. iFORTE Solusi Infotek, PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk, PT Gilang Agung Persada, PT Lintas Marga Sedaya, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. Dan lain-lain.


Memperdalam Islam
Sandi dibesarkan dalam lingkungan keluarga Islam “formal”. Orang tuanya melaksanakan kewajiban shalat lima waktu dan Sandi belajar mengaji di luar. Walaupun kemudian Sandi sekolah di SD Kristen dan kemudian di SMA Katholik, Sandi tetap masih rutin melaksanakan kewajiban shalat. Tetapi upaya memperdalam agama belum muncul pada saat itu bahkan dia belum terlalu lancar baca Al-Qurān.

Upaya memperdalam agama muncul ketika dia kembali dari studi di WSU (Wichita State University). Nur Asiah mengajak Sandi untuk mulai ikut dalam acara pengajian dan tadarusan. Sayangnya pada saat itu, Sandi lebih banyak memanfaatkan pengajian itu sebagai ajang untuk bisa lebih sering bertemu dengan Nur Asiah. Haji Azis, orang tua Nur sebenarnya punya keinginan besar untuk mendorong pacar anaknya itu untuk lebih serius mendalami agama. Harapannya itu lebih banyak disampaikan lewat Nur.

Kemudian ketika sudah kuliah S2 di GWU (George Washington University), Sandi ikut mendirikan pengajian di kalangan mahasiswa S2 di DC. Pengajian itu dimulai dari 5 orang, berkembang jadi 10 orang, dan ketika Sandi meninggalkan DC, pengajian itu sudah berkembang hingga diikuti oleh 300 orang peserta. Kedutaan dan Islamic Center memfasilitasi kebutuhan ustad dan pengisi ceramah. Bahkan saat itu Sandi bersama teman-temannya ikut jadi pengurus ICMI cabang DC.

Sandi mulai serius mempelajari Al-Qurān pada tahun 1999, bersama dengan Rosan. Guru ngaji mereka berasal dari Lombok. Sandi belajar membaca Al-Qurān dengan tajwid hingga pada tahun yang sama itu dia bisa khatam Al-Qurān untuk pertama kalinya. Setelah itu minimal satu kali dalam setahun dia khatam membaca Al-Qurān. Ibadah Sandi pun tidak lagi sekedar shalat 5 waktu tetapi juga sholat sunnah dan puasa sunnah Senin – Kamis. Jadi penampilan relijius Sandi yang dilihat oleh publik saat ini sebenarnya berasal dari perjalanan panjang dalam hidupnya. Sama sekali bukan sekedar pencitraan.

Muhammad Lutfi, salah seorang sobat dekat Sandi Uno.

Kenal Politik Lewat HIPMI
Kalau ditanyakan pada Sandi Uno, siapa orang yang berperan besar dalam karir organisasinya di HIPMI maka jawabannya adalah Muhammad Lutfi. Sebaliknya apabila diajukan pertanyaan pada Lutfi tentang siapa orang yang berhasil menjadikan HIPMI jadi organisasi sebagaimana impiannya maka jawabannya pasti Sandiaga Uno.

Pada tahun 1999, HIPMI yang merupakan wadah para pengusaha muda Indonesia yang didirikan pada tahun 1972 itu, kondisinya nyaris hancur lebur. Tahun 1998, Lutfi ditunjuk jadi ketua HIPMI Jaya. Saat itu Sandi baru mulai lagi membangun bisnis bersama Rosan di Recapital dan juga bersama Edwin di Saratoga.

Lutfi berusaha menarik Sandi untuk ikut membantunya di HIPMI. Sandi skeptis dengan HIPMI dan dirinya sendiri. Pertama HIPMI nyaris sudah tidak terdengar lagi eksistensinya. Dan kedua, Sandi merasa pengalamannya di organisasi kemasyarakatan sangat minim. Tetapi Lutfi berhasil “memaksa” Sandi untuk ikut bergabung.

Sandi mengenang pelantikan anggota HIPMI Jaya waktu itu sangat “mengenaskan”. Anggota yang dilantik hanya 9 orang dan dilakukan di sekretariat HIPMI. Bahkan dia masih ingat betul ketika Rosan dilantik pada saat itu hanya mengenakan celana pendek. Setelah pelantikan itu Sandi mengakui tidak banyak yang dilakukannya sebagai anggota HIPMI Jaya periode 1998-2001.

Kemudian, pada tahun 2001 itu juga, Lutfi mencalonkan diri sebagai Ketua Umum HIPMI Pusat, lalu dia kembali mendorong Sandi untuk terlibat sebagai tim sukses. Sadar bahwa dia tidak berkontribusi terlalu banyak di HIPMI Jaya, Sandi enggan menerima tawaran itu. Tetapi seperti biasa, Lutfi berhasil memaksanya. Tetapi justru keterlibatannya dalam tim sukses Lutfi lah yang pertama kali memberikan kesadaran politik pada Sandi.


Bagaimana kampanye darat, udara hingga door to door campaign. Termasuk bagaimana cara menyentuh elit tanpa meninggalkan grass root. Belum lagi deal-deal di belakang layar. Sandi diminta untuk jadi LO HIPMI Gorontalo yang baru terbentuk. Lewat cara ini Sandi kembali terhubung dengan tanah kelahiran ayahnya. Hingga akhirnya di hotel Grand Melia Jogja, Lutfi terpilih jadi Ketua Umum HIPMI. Sandi diminta untuk jadi ketua kompartemen jasa dan keuangan.

Penunjukan langsung oleh Lutfi itu menimbulkan gosip tidak sedap. Ada yang beranggapan Sandi tidak pantas masuk jajaran pimpinan karena belum pernah jadi pengurus HIPMI daerah. Disitulah Sandi melihat bahwa di dalam organisasi seperti HIPMI, politik tidak akan pernah selesai walaupun pemilihan sudah terjadi. Di dalam AD/ART HIPMI memang tercantum syarat untuk jadi pengurus pusat harus terlebih dahulu pernah jadi pengurus di daerah. Lutfi berusaha mempertahankan posisi Sandi dengan menggunakan legitimasi sebagai Ketua Umum terpilih, tetapi suara tidak puas terus bermunculan. Hingga kemudian Arifin Akuba, Ketua HIPMI Gorontalo, pasang badan dengan menyatakan bahwa Sandi adalah pengurus HIPMI Gorontalo. Dari peristiwa inilah, Sandi banyak belajar tentang pentingnya membina jaringan hingga tingkat daerah.

Selama jadi pengurus pusat HIPMI pada masa Lutfi, Sandi mengakui keterlibatannya masih sebatas kewajiban formal organisasi. Tidak saja karena HIPMI adalah dunia yang baru tetapi juga karena pada saat itu bisnisnya sedang mendaki puncak. Itu sebabnya ketika jelang akhir kepengurusannya Lutfi bertanya pada Sandi mengenai masa depan HIPMI. Dia agak heran, suara dukungan untuk Sandi maju menggantikan Lutfi pada pengurusan berikutnya bermunculan, dimulai dari HIPMI Gorontalo yang menyatakan kebulatan tekad mendukung Sandi. Awalnya Sandi benar-benar enggan dan tidak mau untuk maju jadi calon Ketua Umum HIPMI. Jadi pengurus saja dia tidak begitu antusias, apalagi ketua. Lutfi pun mulai meng-endorse Sandi dengan menyebut Sandi sebagai salah satu kader terbaik yang berpeluang meneruskan kepemimpinannya di HIPMI.

Munas HIPMI tertunda dua kali pada tahun 2004, pertama karena pemilu presiden dan kedua karena bencana tsunami yang melanda Aceh. Memasuki tahun 2005 Sandi sudah merasa settle di bisnis dan jadi pengurus KADIN, tidak ada rencana melanjutkan kiprah di HIPMI. Tetapi Lutfi terus mendorong Sandi untuk maju. Hingga Sandi akhirnya menanyakan pendapat istrinya. Dengan intuisinya Nur Asiah mengatakan bahwa Sandi perlu suasana baru dan HIPMI bisa jadi salah satu solusinya. Sandi kemudian balik bertanya pada Lutfi berapa waktu yang dihabiskannya untuk mengurus HIPMI. Lutfi menjawab santai, hanya 30% waktunya habis untuk HIPMI sementara 70% lainnya tetap untuk bisnis. Dengan dalih itu, Sandi meminta izin pada Rosan partnernya di Recapital dan Edwin partner di Saratoga untuk bisa menyisihkan waktu 30% nantinya bila terpilih jadi Ketua Umum HIPMI. Keduanya memberikan dukungan pada Sandi.


Ketum HIPMI dan Inspirator Generasi Baru
Kampanye Ketum HIPMI membuka jalan bagi Sandi untuk mengenal Indonesia. Saat berkampanye di Sumatera, dia fasih menyatakan diri sebagai putra kelahiran Rumbai Sumatera. Begitu berkampanye di Kalimantan, dia menjelaskan tentang Adaro sebagai salah satu pilar ekonomi di pulau itu. Sementara untuk Sulawesi, dia pilih Manado yang terletak tidak jauh dari daerah kelahiran ayahnya, Gorontalo. Tidak lupa Sandi mengumpulkan segenap pengurus HIPMI Indonesia Timur di Bali. Dari tiga kandidat yang maju, akhirnya Sandi memenangkan voting secara mutlak dengan capaian suara 138 banding 9 dan 3.

Terpilihnya Sandi sebagai Ketua Umum HIPMI, tidak hanya melambungkan namanya tetapi juga memberi nilai lebih pada HIPMI. Setelah memimpin HIPMI, Sandi baru sadar bahwa dia telah “dikelabui” oleh Lutfi. Waktu yang dihabiskan untuk organisasi ternyata 70% sementara 30% sisanya untuk bisnis.

Penyelesaian masalah Aceh, stabilitas nasional yang semakin kukuh dan pembangunan ekonomi yang gencar dilakukan oleh Presiden SBY dan Wapres JK membuat peran HIPMI jauh lebih besar dibandingkan periode sebelumnya. Dan sejak upaya pembelian Astra dan BCA, Sandi yang masih berusia awal 30-an jadi fenomena baru di dunia usaha Indonesia. Tak pelak lagi, Sandi yang tidak pernah memproyeksikan dirinya memimpin organisasi di luar bisnis, justru muncul sebagai figur muda yang penting di Indonesia.

Kalau Lutfi bisa “memaksa” orang lain untuk menerima gagasannya, maka Sandi adalah figur yang mudah diterima oleh semua kalangan. Lutfi berhasil meletakkan pondasi yang kuat untuk HIPMI tetapi Sandi-lah kemudian yang menjadikan organisasi ini penting dan jauh lebih prestisius dibanding kepengurusan di organisasi lain mana pun. HIPMI telah memberikan ruang yang cukup bagi pemikiran-pemikiran Sandi untuk publik.

Jurus Bangau dari Sandi Uno yang terkenal.

Berkaca pada krisis ekonomi 1997, Sandi melihat bahwa sektor UMKM yang sebagian besar bergerak di sektor informal justru mampu bertahan terhadap krisis. Maka Sandi mulai menggaungkan pentingnya peran UMKM dalam menghasilkan pengusaha-pengusaha baru di Indonesia. Dia rajin datang ke kampus-kampus menginspirasi para mahasiswa untuk jadi pengusaha. Munculnya anak-anak muda pengusaha dalam 10 tahun terakhir di Indonesia adalah buah dari inspirasi tiada henti yang dilakukan Sandi.

Sandi bukanlah seorang orator yang ulung tetapi seorang pekerja keras yang setiap tindakannya memberikan inspirasi dan implikasi luas. Saat pengusaha generasinya masih bangga menggunakan jas dan dasi, Sandi memulai trend baru pemakaian batik. Dampaknya batik jadi baju wajib untuk acara-acara resmi hingga saat ini.

Kecintaannya pada lari kemudian melahirkan komunitas berlari untuk berbagi dan beragam komunitas lari lainnya di Jakarta dan Indonesia. Sementara gagasannya tentang entrepreneurship melahirkan begitu banyak pengusaha baru dan komunitas-komunitas yang memayunginya. Selama tiga tahun memimpin HIPMI, Sandi tidak hanya membesarkan organisasi itu tetapi juga mampu menjadikan dirinya sebagai panutan generasi baru di Indonesia.


KADIN dan Pelajaran Kegagalan
Sandi memulai kiprah dalam KADIN saat kepengurusan MS Hidayat pada tahun 2003. Ketika itu Sandi ditunjuk menjadi Ketua Komite Tetap Bidang UKM. Pada periode kedua kepemimpinan MS Hidayat tahun 2008, Sandi naik jadi Wakil Ketua Umum KADIN bidang UKM. Pada kabinet SBY Boediono tahun 2009, MS Hidayat ditunjuk menjadi menteri perindustrian. Kekosongan sementara jabatan Ketum KADIN saat itu diisi oleh pejabat sementara Adi Tahir. Dan pada tahun 2010 diselenggarakan kongres KADIN untuk memilih Ketua Umum baru.

Dua tahun setelah lengser dari jabatan Ketua HIPMI, nama Sandi masih terhitung fenomenal di Indonesia. Nama Sandi sering disandingkan dengan Anas Urbaningrum di politik dan Anies Baswedan dari dunia intelektual sebagai calon pemimpin masa depan Indonesia. Undangan untuk menghadiri forum nasional dan internasional pun masih banyak diterima. Malah pada April 2010, Sandi mewakili Indonesia dalam The Presidential Summit on Entrepreneurship dimana Presiden Barack Obama bertemu dengan para pemimpin dan pengusaha muslim seluruh dunia. Tetapi di sisi lain, Sandi juga memendam sedikit kekecewaan karena namanya tidak masuk dalam anggota kabinet SBY Boediono. Padahal namanya banyak digadang-gadang untuk mengisi posisi Menteri Koperasi dan UKM.

Kombinasi antara optimisme karena keberhasilannya memimpin HIPMI dan perannya yang semakin besar dalam dunia usaha nasional dengan sedikit kekecewaan di atas membuat Sandi memutuskan maju dalam kontestasi Ketua Umum KADIN. Apalagi dia sudah berkiprah cukup lama di KADIN. Pada awalnya sepertinya Sandi akan melenggang mulus untuk meraih kursi Ketum KADIN. Sandi kemudian muncul mengusung kampanye Indonesia Setara. Sandi menjabarkannya sebagai gerakan untuk membangun mindset percaya diri bahwa rakyat Indonesia mampu berprestasi untuk mendorong kemajuan bangsa terutama di bidang ekonomi. Sayangnya pada saat pemilihan, justru Suryo Bambang Sulisto yang terpilih menjadi Ketua Umum KADIN.


Kegagalan Sandi untuk memimpin KADIN dipengaruhi oleh banyak faktor. Pertama, KADIN adalah organisasi status quo yang sejak zaman Orde Baru erat kaitannya dengan Golkar. Sementara, Sandi tidak pernah secara terbuka menyatakan dukungannya pada Golkar. Kedua, pengaruh Aburizal Bakrie sangat kuat di KADIN dan ditambah lagi dengan posisinya sebagai Ketua Umum Partai Golkar, sehingga “restu” Ical sangat diperlukan dalam kontestasi ini. Dalam hal ini, sepertinya Ical lebih merestui Bambang Sulisto. Ketiga, permainan uang sangat dominan dalam percaturan politik KADIN. Sandi tidak mau masuk dalam permainan itu. Akibatnya banyak daerah-daerah yang mengalihkan dukungannya dari Sandi.

Saat voting dilakukan, Sandi hanya menempati peringkat ketiga dari lima kandidat dengan 22 suara. Sementara Suryo Bambang Sulisto dapat 51 suara dan Wisnu Wardhana 30 suara, sehingga berhak maju pada putaran kedua yang kemudian dimenangkan oleh Suryo Bambang Sulisto. Kegagalan Sandi ini mengejutkan publik yang tidak begitu mengerti “permainan politik” di KADIN. Beberapa pihak mengatakan sejak kegagalan kontestasi itu, Sandi mulai menarik diri dari kegiatan organisasi dan kembali ke habitat awalnya di dunia bisnis.

Sulaiman Saladdin Uno, putra bungsu keluarga Sandiaga Salahuddin Uno.

Menuju Politik Praktis
Pada tanggal 2 Desember 2011, Nur Asiah Uno melahirkan anak ketiga dan merupakan anak lelaki satu-satunya hingga saat ini, bernama Sulaiman Saladdin Uno. Kelahiran Sulaiman menumbuhkan gairah baru bagi Sandi yang usianya sudah menanjak 43 tahun. Di dunia bisnis, baik Saratoga maupun Recapital masih terus berkibar. Ada beberapa kegagalan bisnis seperti Dipasena, Mandala dan terakhir Bloomberg TV Indonesia, tetapi tidak sebesar keberhasilan yang telah dicapai oleh puluhan perusahaan di bawah dua bendera itu.

Sejak tahun 2007 sebenarnya Sandi sudah menarik diri secara aktif dari Recapital. Tetapi dia masih rutin meluangkan waktu di Recapital, minimal setiap hari Jumat. Dan di tahun 2013, tepatnya pada tanggal 27 Juni, tepat sehari sebelum dirinya menginjak usia ke 44 tahun, Sandi berhasil membawa Saratoga untuk melantai di Bursa. Saratoga adalah perusahaan private equity pertama di Indonesia yang melakukan IPO setelah lima belas tahun beroperasi. Ketika itu IPO yang dilakukan oleh Saratoga mencatat transaksi terbesar di bursa Indonesia pada tahun 2013 itu, yakni senilai $ 150 milyar. Pada tahun 2015 yang lalu, Saratoga mengumumkan laba bersih usaha senilai Rp 803 milyar.

Atas dorongan Edwin dan Rosan, Sandi mulai memikirkan terjun ke politik praktis secara full time di awal tahun 2014. Atas perbincangan Rosan dan Onny Hardjanto serta Edwin dan Hashim, Sandi mulai serius berdiskusi dengan Prabowo yang berujung permintaan kesediaan bergabung dengan Partai Gerindra.


Sebelum Sandi menjatuhkan pilihan, beberapa partai telah melakukan pendekatan jelang pemilihan gubernur DKI Jakarta tahun 2012. Salah satu tawaran yang diberikan pada Sandi adalah untuk mendampingi walikota Solo Joko Widodo sebagai calon wakil gubernur DKI Jakarta. Dengan berbagai pertimbangan, Sandi menolak tawaran tersebut. Pada awalnya sebelum tawaran itu datang, Sandi pernah coba menjajaki peluang dirinya untuk maju sebagai calon gubernur DKI Jakarta dengan bantuan konsultan Aditya C Wardhana yang membawa Hasan Nasbi. Tetapi tidak ada follow up dari hasil riset tersebut.

Secara luas publik baru mulai membaca arah politik Sandi pada saat pemilihan presiden tahun 2014. Sandi muncul sebagai juru bicara pasangan Prabowo-Hatta Rajasa. Awalnya publik cukup terkejut dengan kemunculan Sandi di kubu Koalisi Merah Putih yang mengusung pasangan tersebut. Publik memandang Sandi sebagai tokoh muda pembaharu yang sukses karena kerja keras dan bukan karena KKN. Di sisi lain, persepsi publik masih menilai Prabowo sebagai tokoh status quo yang belum bersih betul dari dosa-dosa masa lalu (Pak Harto dan Orde Baru). Pemilihan presiden akhirnya dimenangkan oleh pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla, jalan untuk partisipasi politik melalui kabinet tertutup rapat untuk Sandi. Pilihan yang tersedia hanyalah dengan benar-benar masuk ke Partai Politik.

Munas Partai Gerindra pada bulan April 2015 akhirnya menjawab tanda tanya soal arah politik Sandiaga Uno. Tanggal 8 April 2015, Sandi ditetapkan sebagai Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra mendampingi Letjen. TNI (Purn.) Prabowo Subianto. Satu bulan kemudian, Rapat Umum Pemegang Saham PT Saratoga Investama Sedaya pada 10 Juni 2015 memutuskan menerima pengunduran diri Sandiaga Uno sebagai Direktur Utama. Secara otomatis Sandi juga melepas 16 jabatan Direktur lainnya di bawah Saratoga termasuk di Adaro Energy. Sandi menyatakan pengunduran diri itu dilakukan karena dirinya ingin fokus terjun ke dunia politik.


Gagasan Ekonomi
William Soeryadjaya adalah mentor bisnis Sandi. Penyelesaian masalah bank Summa dengan cara melepas kepemilikannya di Astra adalah bentuk tanggung jawab William Soeryadjaya yang sulit ditemukan Sandi pada pengusaha lain. Integritas dan tanggung jawab bisnis seperti William Soeryadjaya itulah yang kemudian jadi patokan moral bagi Sandi dalam mengelola bisnisnya.

Sandi menolak dirinya disebut sebagai Investor “Burung Bangkai” yaitu investor yang sengaja membeli perusahaan sakit, yang bangkrut untuk kemudian diperbaiki dan lalu dijual kembali. Sebagai salah satu Dealmaker terbaik di Indonesia, dalam setiap aksi beli perusahaan, Sandi senantiasa berpatokan pada kebutuhan jangka menengah dan jangka panjang. Tidak semua perusahaan yang berhasil diperbaiki dijual kembali oleh Sandi. Sebagian perusahaan tetap dipertahankan, tidak dijual karena memberikan keuntungan jangka panjang.

Dalam melakukan restrukturisasi perusahan-perusahaan bermasalah, Sandi berprinsip sedapat mungkin untuk tidak mengorbankan kepentingan para karyawan hanya demi menyelamatkan pemilik modal. Itu sebabnya hampir tidak pernah terdengar gejolak karyawan dari perusahaan-perusahaan yang diambil alih olehnya.


Sandi memandang kewirausahaan sebagai pola pikir, bukan sekedar tindakan ekonomi. Kreatifitas dan inovasi adalah dorongan utama untuk berwirausaha. Kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas dan kerja ikhlas merupakan “Etos Kerja 4 As” yang harus dibangun untuk mencapai keberhasilan dalam berbagai bidang kehidupan. Untuk membangun landasan dan etos kerja itu dibutuhkan pendidikan formal yang memadai. Dalam hal ini Sandi berseberang pandangan dengan Bob Sadino yang menganggap sekolah tidak penting dalam membentuk seorang wirausaha. Sandi tidak percaya kenekatan yang berujung keberuntungan bagi pemula. Dia lebih percaya pada kerja keras yang didukung oleh kapasitas intelektual yang memadai sebagai hasil dari pendidikan formal.

Energi besar yang dicurahkannya pada UMKM bersumber pada keyakinan Sandi bahwa sektor ini terbukti mampu bertahan melawan krisis dan jadi pintu masuk bagi sebagian besar wirausahawan pemula dalam mengawali bisnis. Masalah utama yang dihadapi oleh UMKM adalah akses modal, akses pasar dan ketersediaan sumber daya manusia. Sandi rajin menggali pemikiran UMKM dari tokoh-tokoh seperti Muhammad Yunus, penggagas Grameen Bank dari Bangladesh, Bambang Ismawan tokoh LSM Bina Swadaya, Tri Mumpuni, penggagas pembangkit listrik mikro hidro dan banyak tokoh lainnya.


Gagasan Politik
Buku Man of The House karya Tip O’Neill banyak berpengaruh dalam membentuk cara pandang Sandi terhadap politik. Memoir politik Thomas Philip “Tip” O’Neill Jr yang pernah menjabat Speaker of US House Representatives itu menginspirasi Sandi dalam banyak hal. Beberapa poin penting yang didapatkan dari buku setebal lebih dari 800 halaman itu antara lain: Actually everything we do, we will always dance with the one who bring us in. (Sebenarnya semua yang kami lakukan, kami akan selalu menari dengan orang yang membawa kami masuk). Bagi Sandi itu erat kaitannya dengan loyalitas, nilai yang sepanjang hidup selalu dipertahankannya. Dia tidak akan melupakan peran Andreas Tjahyadi yang mempertemukannya kembali dengan Edwin atau peran Muhammad Lutfi yang “memaksa”-nya bergabung dalam HIPMI. Sayangnya realitas politik praktis di Indonesia lebih banyak diwarnai oleh manuver-manuver pengkhianatan para Brutus dan atau perilaku menusuk dari belakang.

Dalam bukunya, Tip O’Neill juga menyinggung soal Lyndon Johnson yang dianggap sebagai presiden paling gagal dalam sejarah Amerika hingga saat itu, akan tetapi sebagai politisi dia adalah tokoh yang dianggap paling berhasil. Dari situ Sandi menyadari, politisi yang cemerlang tidak selamanya akan mampu jadi negarawan yang berhasil. Atau negarawan yang berhasil tidak selamanya harus dikenal sebagai seorang politisi yang cemerlang. Dan hal terakhir yang selalu diingat Sandi dari buku Tip O’Neill adalah bahwa politik itu senantiasa bersifat retail dan lokal. Artinya sebesar apapun dana kampanye untuk iklan dan lain-lain apabila tidak diimbangi dengan upaya mendatangi konstituen satu persatu maka akan jadi usaha yang sia-sia. Sandi langsung mempraktekkan gagasan ini ketika maju sebagai kandidat Ketua Umum HIPMI 2005 dan Ketua Umum KADIN 2010.

Walaupun aliran politik di Indonesia tidak pernah jelas karena senantiasa terkait figur, Sandi memiliki kecenderungan Sosial Demokrat dan ini konsisten dengan gagasan dan tindakan yang dilakukannya selama ini. Dia mengakui peran negara diperlukan dalam rangka menegakkan keadilan sosial dan distribusi ekonomi. Tetapi di sisi lain, negara juga harus memberi ruang gerak yang luas kepada setiap individu untuk mewujudkan kesejahteraan masing-masing dalam struktur masyarakat kapitalis. Dalam tatanan sejarah politik Indonesia, pemikiran Sandi lebih condong cocok dengan Bung Hatta ketimbang Bung Karno. Munculnya visi Indonesia Setara sedikit banyak dipengaruhi oleh kecenderungan politik di atas.


Pengaruh Lainnya
Sandi mendapat predikat “Indonesian entrepreneur of the year” pada tahun 2008 dan tercatat sebagai Asia 21 fellow dari Asia Society tahun 2009. Kecintaannya pada olah raga lari jarak jauh, membawanya keliling dunia dan berpartisipasi di 6 world major marathons, New York (2011), Berlin (2012), Tokyo (2014), Chicago (2014), Boston (2015) dan London (2015) untuk mengumpulkan dana sosial di bawah gerakan “Berlari untuk Berbagi.”

Tahun 2005 Sandi ditunjuk menjadi Manajer Tim Nasional Basket Putri Indonesia untuk SEA Games Manila. Tahun 2015, Sandi diangkat sebagai Ketua Umum Persatuan Renang Seluruh Indonesia menggantikan Hilmi Panigoro.

Di bawah naungan Mien R Uno Foundation, Yayasan Inotek dan Yayasan Indonesia Setara, Sandi Uno terus konsisten menggarap dan mensosialisasikan pentingnya inovasi dan kreativitas dalam upaya mencetak wirausaha-wirausaha baru di Indonesia. Kegiatan yang dilakukan oleh yayasan-yayasan di atas antara lain: pelatihan, bantuan modal, dukungan produk inovasi, beasiswa hingga ceramah di kampus-kampus dan komunitas.

Pada tahun 2015, Sandi diangkat menjadi Ketua Umum Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) menggantikan Prabowo Subianto. Organisasi ini menghimpun para pedagang di pasar-pasar tradisional yang terdapat di seluruh Indonesia.

Setelah memutuskan maju bersama Anies Baswedan pada Pilkada DKI 2017. Anies-Sandi berhasil memenangkan pemilihan dan memimpin DKI Jakarta periode 2017-2022 dengan diusung oleh dua partai politik, Gerindra dan PKS. Mulai saat itu, Sandi menjabat sebagai Wakil Gubernur mendampingi Anies Baswedan sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Di kepengurusan Gerindra, Sandi menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Pembina. Kini, setelah hampir 10 bulan menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandi digandeng Prabowo Subianto sebagai cawapres untuk Pilpres 2019.

Sebagai penutup, pada tahun 2013, Sandi telah dinobatkan sebagai Orang No. 47 Terkaya di Indonesia oleh majalah Forbes. Tapi bagi Sandiaga Uno, predikat sebagai orang terkaya itu tak memberikan pengaruh apa-apa bagi dirinya. Ia mengatakan bahwa itu hanya memberi inspirasi saja bagi para pengusaha untuk memacu usahanya, hanya itu saja.

Sumber:
http://inspirasi-sandii.blogspot.com/2016/06/profil-sandiaga-salahuddin-uno.html
http://biodatakubiografiku.blogspot.com/2016/09/biodata-dan-biografi-sandiaga-uno.html
https://nasional.kompas.com/read/2018/08/09/23583031/infografik-profil-sandiaga-uno
https://id.wikipedia.org/wiki/Sandiaga_Uno

25 September, 2018

Mengenal Sandiaga Salahuddin Uno (Bagian I)


Nama Sandi Uno selama ini dikenal sebagai pengusaha muda yang cukup sukses dengan berbagai lini bisnisnya. Ia semakin dikenal sebagai pejabat publik setelah memenangkan Pilkada DKI Jakarta tahun 2017 yang lalu sebagai Wakil Gubernur bersama Anies Rasyid Baswedan yang menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Pria bernama lengkap Sandiaga Salahuddin Uno ini dinilai sebagai sosok muda yang dinamis sekaligus relijius. Kursi DKI 2 merupakan awal karier Sandi di kancah perpolitikan. Kini, ia semakin menancapkan jejaknya di ranah politik setelah digandeng oleh Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto sebagai bakal calon Wakil Presiden Republik Indonesia yang akan bertarung pada Pilpres 2019.

Sandiaga Salahuddin Uno, B.B.A., M.B.A., lahir di Rumbai, Riau, pada tanggal 28 Juni 1969 (kini berusia 49 tahun) adalah seorang wirausahawan muda nasional dan juga politisi Indonesia.
Sandi adalah bungsu dari dua bersaudara, putra dari pasangan Razif Halik Uno (Henk) dan Rachmini Rachman (Mien). Sandi memiliki seorang kakak, namanya Indra Cahya Uno yang lahir dua tahun sebelum Sandi.

Ibunda Sandi, Rachmini Rachman atau lebih dikenal dengan nama Mien Uno adalah lulusan IKIP Bandung. Dia berasal dari keluarga pendidik di Cirebon. Sementara Sang Ayah, Henk Uno adalah insinyur lulusan ITB Bandung dan berasal dari keluarga relijius di Gorontalo, Sulawesi.

Rumbai adalah sebuah lokasi penambangan minyak di Riau, Sumatera. Saat itu ayahanda Sandi, Henk Uno bekerja di perusahaan minyak Amerika Caltex. Perumahan pegawai Caltex, biasa disebut Camp diisi oleh para pegawai lokal dan ekspatriat dari Amerika. Mengenang masa kecilnya Sandi pernah mengungkapkan, bahwa mereka biasa mengundang para ekspatriat ketika mengadakan acara di rumahnya walaupun para ekspatriat sangat jarang mengundang pekerja lokal.

Sandiaga Uno dan teman-temannya saat kuliah di Amerika. Nampak diantaranya adalah Erick Thohir (kini jadi Ketua Timses Jokowi-Ma'ruf), Nur Asiah (akhirnya jadi istrinya), dkk.

Masa Kecil Sandiaga Uno
Sejak kelahiran kedua putra mereka, Henk dan Mien Uno bertekad untuk menjadikan anak-anak mereka sebagai generasi yang lebih baik. Henk meletakkan gagasan, Mien memastikan gagasan itu terinternalisasi setiap hari. Mien Uno menegakkan disiplin dengan cara yang keras di rumah. Hukuman fisik, sebagaimana kehidupan anak-anak pada masa itu, rutin diterima oleh Sandi.

Kesuksesan Sandiaga Uno saat ini sepertinya memang telah dipersiapkan oleh orangtuanya. Sosok ibundanya yaitu ibu Mien Uno adalah ibu yang sangat disiplin pada anaknya, bahkan cenderung keras. Sandiaga dan sang kakak sejak kecil sudah dibiasakan untuk membuat jadwal sehari-hari dan harus mematuhinya.

Misalkan jadwal bangun jam berapa, mandi, ke sekolah, belajar, bermain dan lain-lain. Jika Sandiaga dan sang kakak melanggar jadwal yang sudah dibuat, tak segan-segan ia mendapat hukuman dari ibunda. Tak tanggung-tanggung hukumannya bisa berupa ikat pinggang (gasper) yang mendarat di pantat.

Ketika Sandiaga ditanya, bagaimana seorang Ibunda Mien Uno mendidik Sandi kecil. Sandiaga Uno menjawab dengan diplomatis, jika itu diceritakan saat ini maka akan masuk kategori KDRT, begitu jawabannya. Namun hasil didikan orangtuanya terutama ibundanya itulah yang saat ini dirasakan manfaatnya oleh Sandiaga Uno. Ia benar-benar telah ditempa menjadi pribadi yang disiplin, tangguh dan pantang menyerah.

Sandiaga Salahuddin Uno (paling kanan), bersama Indra Cahya Uno (kakak Sandi), Razif Halik "Henk" Uno (ayah) dan Rachmini Rachman "Mien" Uno (ibu).

Anak Sumatera
Dalam tahun-tahun pertama kehidupannya, Sandi tumbuh sebagai anak Sumatera. Tinggal di kompleks pertambangan, dididik dengan disiplin yang keras serta tumbuh, belajar dan bermain bersama-sama anak Sumatera.

Henk Uno menjelaskan bahwa kepindahan mereka ke Jakarta dilatarbelakangi oleh keinginan Mien Uno untuk menekuni karir di dunia pendidikan. Hal ini wajar mengingat latar belakang pendidikan keguruannya dan kenyataan bahwa kedua puteranya sudah mulai tumbuh besar. Henk yang tidak ingin terpisah dengan keluarga, mencoba segala cara untuk bisa ikut pindah ke Jakarta termasuk diam-diam melamar ke perusahaan lain. Atasannya di Caltex akhirnya bisa mencarikan satu posisi di kantor Caltex Jakarta untuk Henk Uno.

Saat keluarga Henk Uno pindah ke Jakarta, rumah mereka di daerah Kebayoran Baru masih dalam proses pembangunan. Oleh sebab itu Caltex memberikan fasilitas pada keluarga kecil itu untuk tinggal selama tiga bulan di Hotel Indonesia, sambil menunggu selesainya rumah mereka. Saat itu, di pertengahan tahun 1970-an Hotel Indonesia masih merupakan hotel yang paling prestisius di Jakarta.


SD PSKD dan Basket
Mien Uno punya prinsip sederhana dalam memilih sekolah untuk anak-anaknya. Sekolah harus dekat dengan rumah. Itu sebabnya Sandi dimasukkan ke SD PSKD Bulungan yang tidak jauh dari Kebayoran baru. PSKD adalah singkatan dari Perkumpulan Sekolah Kristen Djakarta.

Sandi mengenang, prestasi belajarnya pada waktu itu biasa-biasa saja. Sebagai siswa baru yang berasal dari daerah dia lebih banyak fokus dalam menyesuaikan diri dengan teman-teman barunya di Jakarta.

Saat kelas lima SD Sandi mulai menekuni olahraga bola basket. Sebelum menekuni basket sebenarnya Henk Uno sudah mengenalkan olahraga renang kepada putranya itu. Namun, Sandi ternyata lebih menekuni bola basket dan bergabung dengan klub basket Chirasthyta (Citra Satria Tunas).

Setelah lulus SD, Sandi melanjutkan pendidikan di SMPN 12 Wijaya yang terletak juga tidak jauh dari rumahnya. Karena lokasi rumah yang dekat dengan sekolah itu maka rumah Sandi jadi basecamp bagi teman-temannya, bahkan ada yang sampai sebulan menginap di rumahnya.

Nur Asiah dengan background gedung sekolah SMP Islam Al-Azhar.

Hal ini bertolak belakang dengan kakak Sandi, Indra Uno yang pada saat itu cenderung sedikit lebih tertutup. Indra Uno bercerita bahwa kecenderungan sifat yang bertolak belakang antara dia dan Sandi pada saat itu sebenarnya bawaan dari kedua orang tua mereka. Mien Uno lahir di tengah-tengah keluarga besar delapan bersaudara yang senang berkumpul. Sementara dalam keluarga besar Henk Uno, mereka bersifat independen satu sama lain dan hidup sendiri-sendiri.

Prestasi dan kepemimpinan Sandi mulai muncul saat SMP ini. Dia ditunjuk sebagai Kapten Tim basket SMPN 12 dan kemudian memimpin tim itu menjuarai kejuaraan basket antar SMP se Jakarta. Di bidang akademik, Sandi juga mengalami peningkatan luar biasa. Kelas satu dia mulai masuk lima besar dan selanjutnya kelas dua dan tiga selalu jadi juara kelas.

Tidak hanya itu, pada saat SMP itu pula lewat temannya Achmad Jaelani dia berkenalan dengan adik dari teman mereka bernama Ali. Gadis itu bernama Nur Asiah yang saat itu sekolah di SMP Al-Azhar. Nur Asiah pun jadi pacar pertama dan satu-satunya yang kelak menjadi istri yang mendampingi Sandi Uno sepanjang hidupnya.

Rosan Perkasa Roeslani, teman sebangku Sandiaga Salahuddin Uno ketika sama-sama bersekolah di SMA Pangudi Luhur, Jakarta.

SMA Pangudi Luhur
Pangudi Luhur (PL) adalah salah satu SMA Katholik terbaik di Jakarta. Banyak lulusan dari SMA tersebut yang menjadi birokrat dan pengusaha sukses, termasuk beberapa orang menteri. Sandi yang cemerlang pada saat sekolah di SMP Negeri terpaksa harus menyesuaikan diri lagi dengan pendidikan di sekolah Katholik itu. Tidak mudah untuk meraih lima besar apalagi juara kelas.

Di SMA PL, Sandi memiliki dua orang sahabat Rosan dan Panji. Rosan, putra dari seorang dokter Betawi jadi teman sebangku Sandi selama tiga tahun. Buah dari persahabatan panjang mereka akan terlihat nantinya dengan lahirnya PT Recapital. Selama tiga tahun SMA itu, Rosan senantiasa kukuh mendukung Sandi. Bahkan untuk hal yang paling tidak masuk akal, seperti ketika Rosan mencalonkan Sandi untuk jadi Ketua Persatuan Pelajar Sekolah Katholik PL. Sandi tidak terpilih karena hanya dapat satu suara dan itu dari Rosan.

Di dunia basket, Sandi mengalami puncak sekaligus titik balik karir olahraganya. Sandi akhirnya bergabung dengan klub semi profesional Citra Satria yang bermain di kompetisi Pra Kobatama. Saat SMA, Sandi masih mengangankan kuliah di Universitas Indonesia dan melanjutkan karir basket di kompetisi mahasiswa. Sayangnya dua impian itu tidak tercapai. Karir basket Sandi terhenti karena cedera engkel yang dialaminya. Sementara dia juga tidak jadi melanjutkan kuliah di Universitas Indonesia.

Nilai akademik Sandi di SMA membaik setelah dia berhenti total dari basket. Pada saat penjurusan, gurunya memasukkan Sandi ke jurusan IPA. Sandi menyadari dia tidak begitu menyukai pelajaran Matematika dan Eksakta lainnya dan cenderung menyenangi pelajaran Ekonomi dan Ilmu Sosial. Dia meminta izin untuk memilih sendiri jurusan IPS. Pilihan itulah yang kemudian jadi jalan hidup Sandiaga Uno.


Wichita State University
Pendidikan kedua anaknya adalah prioritas utama Henk dan Mien Uno. Indra yang bersekolah SMA di Australia telah melanjutkan pendidikan Aeronautical di Wichita State University lewat program beasiswa Habibie (IPTN). Saat lulus SMA, Sandi sempat mengikuti Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (Sipenmaru) dengan pilihan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Tetapi sebelum pengumuman kelulusan keluar, Henk sudah menawarkan tiket ke Amerika. Sandi diminta menyusul kakaknya, kuliah di Wichita State University (WSU). Baru kemudian ketika sudah mulai kuliah di sana, Sandi menerima kabar bahwa dia diterima di Fakultas Ekonomi UI.

Konsisten dengan ketertarikannya pada Ekonomi, Sandi mengambil jurusan Akuntansi di W Frank Barton School of Business, Wichita State University. Karena alokasi budget orang tua dan beasiswa yang terbatas, Sandi berusaha keras agar dia bisa lulus tepat waktu.

Selain nilai akademisnya yang di atas rata-rata, banyak hal lain yang didapatkan Sandi selama kuliah di sana. Salah satunya, di kampus WSU lah Sandi pertama kali mengenal kata Enterpreneurship.

Saat Sandi kuliah, di kampus WSU tengah dibangun gedung Devlin Hall yang diperuntukkan sebagai Center for Enterpreneurship WSU. Sandi juga terlatih menulis karena saat itu hubungan paling murah dengan orang-orang di tanah air adalah lewat surat menyurat. Rosan, sahabat Sandi kemudian juga kuliah di Stillwater Oklahoma. Begitu juga dengan Nur Asiah yang setahun kemudian juga melanjutkan kuliah di Stillwater. Restoran Eskimo Joes di Stillwater jadi tempat kencan Favorit Sandi dan Nur Asiah.

Ketika kuliah di WSU, Amerika Serikat itulah, Sandiaga sangat merasakan manfaat disiplin yang dulu telah ditanamkan sang ibunda, Mien Uno. Bangun pagi dan membaca materi kuliah seminggu sebelum kuliah berlangsung sudah jadi kebiasaannya di sana.

Tak pelak lagi, Sandi tidak hanya lulus tepat waktu di WSU tetapi juga lulus dengan predikat Summa Cumlaude. Dunia Entrepreneurship masih jauh dari pikiran Sandi pada saat itu. Dengan titel sarjana, Sandi pulang ke tanah air dan ingin memulai karir di dunia profesional.


Bank Summa
Sejak menekuni karirnya di bidang pendidikan karakter, nama Mien Uno meroket di Jakarta. Mulai pertengahan tahun 1970-an, Mien punya program di TVRI, menekuni berbagai organisasi hingga kemudian mendirikan sekolah kepribadian Duta Bangsa. Mien Uno pun memiliki jaringan yang luas termasuk dengan orang-orang di dunia bisnis seperti keluarga Soeryadjaya pemilik Astra.

Jelang tahun 1990-an PT Astra Internasional tumbuh jadi raksasa lokal. Tidak hanya itu, Astra juga jadi tempat menempa profesional muda yang menghasilkan eksekutif dan entrepreneur hebat. Lewat hubungan baik Mien Uno, Sandi dikenalkan kepada keluarga Soeryadjaya. Edward, anak sulung William Soeryadjaya menawari Sandi untuk bergabung dengan Bank Summa.

Bank Summa pada saat itu merupakan salah satu bank swasta yang tengah tumbuh dengan pesat. Sandi menempati posisi finance and accounting officer di Bank Summa. Layaknya seorang pekerja junior di bank, Sandi mengikuti keseluruhan proses kerja sesuai dengan posisinya. Mulai dari pelatihan, bimbingan dari senior hingga melakukan pekerjaan remeh temeh seperti foto copy dokumen dan lain sebagainya.

Proses belajar dari bawah ini membuat Sandi jadi seorang yang teliti, penuh perhitungan dan loyal terhadap apapun bidang yang dikerjakannya. Tidak lama setelah bekerja, Bank Summa menawari Sandi beasiswa S2 di Amerika.


George Washington University
Sandi melanjutkan pendidikan Master of Business Administration di George Washington University (GWU), Washington DC. Suasana DC jauh lebih nyaman dibanding Wichita karena lebih banyak pemukim Indonesia tinggal di sana. Satu tahun pertama pendidikan di GWU berjalan dengan lancar. Sandi mulai aktif dalam perkumpulan mahasiswa Indonesia di Amerika (PERMIAS).

Tiba-tiba Bank Summa mengalami kesulitan likuiditas yang berujung pada kasus kredit macet. William Soeryadjaya turun tangan mengambil alih kepemilikan Bank Summa hingga kemudian menjaminkan kepemilikan sahamnya di aset paling berharga keluarga Soeryadjaya, Astra. Tetapi semua usaha yang dilakukan oleh William Soeryadjaya, yang akhirnya bahkan kehilangan kepemilikan di Astra, tidak bisa menyelamatkan Bank Summa.

Dampaknya, beasiswa S2 Sandi pun berhenti di tengah jalan. Sandi mengakui, saat itu dia enggan untuk menanyakan kelanjutan beasiswanya karena merasa tidak etis apabila dilakukan di tengah krisis itu. Dia juga tidak mau berbagi dengan siapapun soal beasiswa yang terhenti itu. Sementara tabungannya dari hasil bekerja di Bank Summa pun tidak banyak.

Untunglah, dengan prestasi akademik di atas rata-rata pada saat itu, Sandi bisa melamar pekerjaan menjadi asisten lab di GWU dengan bayaran US$ 3 perjam. Pekerjaan itu tidak lama  ditekuninya, karena kemudian terbuka kesempatan untuk pekerjaan dengan gaji lebih tinggi menjadi Tutor dengan gaji US$ 6 perjam. Akhirnya Sandi tidak sekedar berhasil menyelesaikan studi di GWU, tetapi kembali lulus dengan predikat Summa Cumlaude.


Puncak Karir Profesional
Di tengah krisis yang menimpa Bank Summa, banyak tawaran kerja di luar negeri kepada Sandi. Tetapi Sandi memutuskan untuk kembali ke Indonesia, tetap dengan status sebagai karyawan Bank Summa. Pada tanggal 14 Desember 1992, Bank Summa dilikuidasi oleh Bank Indonesia. Sandi kehilangan pekerjaan. Walaupun begitu, loyalitas Sandi membuat dia semakin dekat dengan William Soeryadjaya. Dalam banyak kesempatan, Sandi mengakui bahwa William Soeryadjaya adalah mentor bisnisnya. Saat itulah Sandi melihat langsung bagaimana William Soeryadjaya mengelola krisis, bertanggung jawab dengan semua yang terjadi dan bahkan kemudian kehilangan Astra Internasional.

Sandi Uno dari kecil memang bercita-cita ingin jadi professional, ia ingin hasil yang sempurna di bidang akademis dan kemudian bekerja di perusahaan multinasional yang bonafide dan merintis jenjang karier di sana. Bagi Sandi yang memiliki prestasi akademis demikian cemerlang, untuk mendapatkan pekerjaan yang ia impikan tidaklah sulit.

Edward Soeryadjaya kemudian mengajak Sandi untuk pindah bekerja ke Singapura. Sandi bekerja sebagai finance and investment analist di Seapower Asia Investment Limited. Setahun kemudian, karirnya menanjak ketika bergabung dengan MP Holding Limited Group sebagai Investment Manager. Pada tahun 1995, ketika menginjak usia dua puluh enam tahun, Sandi bergabung dengan NTI Resources Ltd, Kanada sebagai Executive Vice President. Pekerjaan ini membawanya kembali ke tanah Amerika Utara, tepatnya di Calgary Canada. Di usia yang masih muda itu, Sandi sudah bisa menghasilkan satu juta dollar. Saat sedang mendaki puncak karir itulah Sandi memutuskan untuk menikahi Nur Asiah.


Pernikahan
Melalui Achmad Jaelani, teman saat SMP, Sandi dikenalkan kepada Nur Asiah. Nur bersekolah di SMP Al-Azhar, saat itu satu tahun di bawah Sandi. Seperti halnya hobby dan pekerjaan, Sandi juga loyal dengan satu perempuan saja yang sudah dikenalnya sejak usia belia.

Menurut cerita temannya, Rosan, selama tiga tahun di SMA, hubungan Sandi dan Nur sering putus sambung. Beberapa kali Rosan berusaha mengenalkan Sandi kepada gadis-gadis lain pada saat putus itu tetapi tidak pernah berhasil. Akhirnya Rosan pun terlibat membantu Sandi untuk memperbaiki hubungan Sandi dengan Nur kembali.

Cerita berlanjut saat berada di Amerika, diawali dengan surat-suratan hingga akhirnya Nur juga kuliah di Amerika. Tepatnya di Stillwater Oklahoma yang berjarak sekitar dua jam perjalanan dari Wichita. Setiap akhir pekan, Sandi meluangkan waktunya pergi ke Stillwater untuk bertemu dengan Nur Asiah.

Sandi bersama istri (Nur Asiah) dan ketiga anaknya, Amyra Atheefa Uno, Sulaiman Saladdin Uno, dan Aneesha Atheera Uno.

Nur Asiah adalah putri dari Haji Abdul Azis Marzuki, asli keluarga Betawi yang menguasai tanah luas di daerah Jakarta Selatan. Seiring perkembangan Jakarta yang pesat, kebutuhan lahan untuk perkantoran dan lain-lain yang meningkat, keluarga Haji Abdul Azis Marzuki menikmati harga tanah yang terus membubung tinggi. Sehingga Nur Asiah sudah terlebih dahulu menikmati kehidupan yang sangat berkecukupan sebelum menikah dengan Sandi.

Menurut Sandi, dia nyaris tidak memiliki persamaan dengan Nur. Kepribadian mereka banyak yang bertolak belakang. Nur cenderung bicara apa adanya, terkadang ceplas ceplos. Sementara Sandi suka menahan diri, senantiasa berusaha terlihat tenang tanpa emosi. Dalam mengambil keputusan, Sandi selalu mengedepankan logika dan rasionalitas sementara Nur banyak menggunakan perasaan dan intuisi. Perbedaan-perbedaan ini menurut Sandi, justru merupakan hal yang sangat mengikat erat dirinya dengan Nur. Terbukti kemudian dalam banyak keputusan penting dalam hidupnya, termasuk keputusan bisnis, intuisi Nur banyak membantu Sandi.

Sandi dan Nur Asiah menikah di Singapura pada tahun 1996 dengan mengundang keluarga dan sahabat dekat. Tidak ada acara mewah berlebihan sebagaimana pernikahan keluarga-keluarga pesohor lainnya pada saat itu. Pasangan muda itu kemudian tinggal di Singapura mengikuti karir Sandi yang tengah menapaki puncak kesuksesan. Kebahagiaan bertambah karena tidak lama kemudian, Nur Asiah hamil dan melahirkan putri pertama mereka Aneesha Atheera Uno pada tahun 1997. Kini (tahun 2018), keluarga Sandi telah dikaruniai 3 buah hati, 2 putri bernama Aneesha Atheera Uno dan Amyra Atheefa Uno, serta 1 putra bernama Sulaiman Saladdin Uno.


Recapital
Sebagai manajer investasi yang karirnya melesat tinggi, Sandi pun kadang terlalu percaya diri dalam mengambil keputusan-keputusan investasi. Termasuk ketika menginvestasikan sebagian besar tabungannya. Saat krisis moneter melanda negara Asia, perusahaan tempat Sandi bekerja ikut terkena dampak yang buruk. Selama beberapa bulan Sandi bekerja tanpa digaji. Lebih buruk lagi, dia nyaris tidak punya tabungan lagi, sebab semua uangnya sudah diinvestasikan. Sementara Atheera baru saja lahir. Tanpa gaji dan tabungan, Sandi memutuskan untuk pulang bersama keluarga kecilnya ke Jakarta.

Sejak kecil Sandi terbiasa independen, hampir tidak pernah minta bantuan pada orang lain. Bahkan dalam keadaan paling sulit pun dia tidak mau orang lain mengetahui kesulitannya. Tetapi kali ini, Sandi tidak punya pilihan lain. Tanpa tabungan dan tempat tinggal di Jakarta, akhirnya Sandi membawa Nur dan Atheera tinggal bersama orang tuanya.

Saat itu, Indonesia mengalami dampak terparah dari krisis moneter (krismon). Banyak perusahaan yang gulung tikar dan PHK massal pun terjadi. Gagasan Entrepreneurship yang dulu hanya selintas dilihat Sandi pada bangunan Devlin Hall yang belum jadi, sekarang jadi satu-satunya pilihan untuk bertahan hidup. Kebetulan pada tahun 1997 itu, Rosan juga baru saja berhenti dari pekerjaannya. Maka, keduanya sepakat untuk mendirikan perusahaan yang bergerak di bidang konsultasi keuangan.

Sandi dan Rosan mengenang kenekatan mereka itu. Dua anak muda berusia 28 tahun dengan pengalaman singkat di dunia keuangan menawarkan jasa konsultan keuangan di tengah-tengah krisis ekonomi yang hebat. Kenekatan itu jadi cikal bakal berdirinya PT Recapital.


Di tengah kekacauan akibat krismon itu, Sandiaga akhirnya memutuskan untuk berbisnis sendiri bersama teman SMA nya yaitu Rosan Perkasa Roeslani. Sandi berpikir, saat itu ada banyak sekali perusahaan yang gulung tikar karena krismon, tentu banyak pula dari perusahaan itu yang memerlukan konsultan keuangan demi untuk menyelamatkan perusahaan mereka.

Sandi dan Rosan kemudian mendirikan PT Recapital Advisor, yaitu perusahaan jasa konsultasi bisnis dan keuangan. Sandi harus berusaha mendapatkan klien untuk bisnisnya. Sangat susah sekali mendapat klien saat itu, karena mereka semua menganggap Sandi masih belum berpengalaman dan masih terlalu muda untuk menjadi konsultan bisnis.

Kantor pertama mereka adalah sebuah ruangan bekas salon dengan cat warna pink. Tidak nyaman dengan kantor itu, Sandi dan Rosan selalu bertemu dengan klien di luar kantor dengan beragam alasan yang mereka kemukakan pada klien.

Untuk menunjang operasional, keduanya menggunakan mobil Suzuki Katana pinjaman dari orang tua yang sedapat mungkin juga kalau bisa, tidak dilihat oleh klien yang high profile. Bukan pekerjaan yang mudah untuk mendapatkan klien. Bolak-balik meeting hingga uang di kantong pun menipis. Pernah suatu kali Sandi hendak meminjam uang untuk beli susu anaknya pada Rosan tapi ternyata pada saat yang sama, Rosan juga sedang tidak punya uang dan juga berniat hendak meminjam uang pada Sandi.

Di tengah-tengah krisis yang semakin hebat itulah, dua sahabat itu, Sandi dan Rosan, memulai Recapital sebagai perusahaan konsultan bisnis dan keuangan.


Klien pertama Rosan adalah Ramako. Dan klien pertama Sandi adalah Jawa Pos Group. Pengalaman berkesan menangani Jawa Pos Group adalah ketika Sandi harus menunggu Dahlan Iskan (CEO Jawa Pos Group) selama berjam-jam di lobby. Namun ketika Dahlan keluar ruangan, ternyata dia tidak punya cukup waktu untuk mendengar penawaran Sandi secara lengkap. Maka jadilah Sandi menyampaikan penawarannya secara singkat di dalam elevator (The power of elevator pitch) selama tidak lebih dari tiga menit, yang hebatnya, penawaran Sandi tersebut akhirnya disetujui oleh Dahlan Iskan.

Sandi akhirnya sukses dengan klien pertamanya, Jawa Pos Group, dan mendapatkan uang jasa Rp 10 juta. Saking gembiranya, ia sampai melaminating invoice-nya itu. Jika ia mengalami kendala dalam bisnisnya, maka ia pandangi invoice dari hasil pendapatan pertama bisnisnya itu agar tak berputus asa.

Karena memang tidak mudah untuk mendapatkan klien, Sandi akhirnya memutuskan untuk menggratiskan advice yang diberikan jika restrukturisasi yang dilakukan perusahaan kliennya gagal. Padahal kebiasaan saat itu seorang konsultan sudah dibayar sebelum melakukan kerja. Jadi, Sandi memiliki pola pikir yang dibalik, ia hanya mengirim invoice penagihan apabila jasa konsultasinya telah berhasil merestrukturisasi perusahaan yang menjadi kliennya.

(Bersambung ....)

Sumber:
http://inspirasi-sandii.blogspot.com/2016/06/profil-sandiaga-salahuddin-uno.html
http://biodatakubiografiku.blogspot.com/2016/09/biodata-dan-biografi-sandiaga-uno.html
https://nasional.kompas.com/read/2018/08/09/23583031/infografik-profil-sandiaga-uno
https://id.wikipedia.org/wiki/Sandiaga_Uno