Tampilkan postingan dengan label Komaruddin Hidayat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Komaruddin Hidayat. Tampilkan semua postingan

22 November, 2015

Jembatan


Setiap melakukan perjalanan melihat kota-kota besar dunia yang memiliki sungai dan jembatan yang indah dan kokoh, saya selalu terhenyak kagum dan iri.

Ketika mengunjungi Kota Budapest pertengahan November 2015, misalnya, Sungai Danube yang panjangnya 2.850 km dan melintasi 10 negara itu membuat Budapest menyajikan kehidupan dan keindahan yang amat mengesankan. Begitu pula Sungai Vitava yang menghiasi Kota Praha. Danube yang legendaris itu bak kalung mutiara yang mempercantik Budapest.

Atau bagaikan ibu yang selalu memberikan sumber kehidupan ekonomi bagi penduduk setempat serta sumber inspirasi bagi para seniman dan perancang kota sehingga bermunculan bangunan-bangunan indah menjulang, baik yang kuno maupun modern. Hubungan antara sungai, kreasi arsitektur jembatan, dan bangunan-bangunan megah nan indah akan ditemukan diberbagai kota dunia semisal Paris, San Fransisco, Sydney, Kairo, dll.


Yang fantastis tentu jembatan Selat Bosporus di Istanbul yang menghubungkan daratan Eropa dan Asia. Atau jembatan dan bendungan raksasa Sungai Yangtze yang digunakan untuk menjinakkan banjir yang merendam ribuan desa dan kini jadi sumber penggerak tenaga listrik. Saya iri karena Indonesia memiliki banyak sungai tetapi tidak dirawat dengan cerdas sehingga menjadi indah. Padahal di berbagai negara sungai itu menjadi sumber rezeki, tempat wisata warganya, dan ornamen kota dengan arsitektur jembatannya yang ikonik.

Setiap orang pasti senang melihat sungai dengan airnya yang jernih dengan ikan-ikannya yang berseliweran. Sikap masyarakat terhadap sungai dan jembatan sangat mungkin memiliki keterkaitan dengan budaya masyarakatnya. Mungkin karena kita adalah penduduk kepulauan. Bahkan di kampung-kampung, sungai itu bagaikan WC umum. Dan ketika urbanisasi ke kota, gaya hidup kampung masih terbawa.

Mereka tidak memiliki visi bahwa sungai itu bisa difungsikan sebagai hiasan kota, tempat rekreasi, dan pusat ekonomi. Di Jakarta sungai semakin sempit, dangkal, dan kotor oleh tingkah warganya yang tidak bisa merawat fungsi sungai dengan baik. Faktor lain karena masyarakat punya mental serobot dan selalu ingin jalan pintas, enggan melewati jembatan yang tersedia.

Jembatan Suramadu, penghubung Surabaya dan Madura.

Lebih dari itu, desain jembatan yang dibuat kurang memperhitungkan aspek estetika dan rekreatifnya. Di dekat kampus saya, UIN Syarif Hidayatullah yang berlokasi di Ciputat, jembatan penyeberangan dibangun hanya untuk melayani pemasang iklan. Sehingga tak pernah ada warga atau mahasiswa yang melintasinya karena letaknya yang sangat tidak familier.

Untuk meraih karier dan prestasi hidup yang otentik, setiap orang juga memerlukan jembatan, terutama pendidikan dan pelatihan diri agar tahan banting menghadapi ujian, apa pun bentuknya. Anak sekolah yang senang mencontek dan berburu bocoran soal ujian adalah awal dari tindakan main serobot dan suap pada perjalanan hidup selanjutnya. Baik dikala melamar kerja maupun mengejar jabatan, termasuk dalam kasus pilkada dan pemilu.

Alhasil, mereka miskin estetika dan etika dalam membangun kehidupannya. Tidak indah dan mengundang respek ketika catatan kariernya dibaca ulang. Kita sering lupa bahwa perjalanan hidup tak pernah lepas dari jembatan yang mesti kita seberangi. Ungkapan Inggris crossover atau abara dalam bahasa Arab berkembang menjadi i’tibar dan ibarat. Untuk menggapai tujuan dan makna yang benar, kita mesti menyeberang mengatasi rintangan.

Kalau ingin menikmati daging kelapa, mesti memecahkan dulu batoknya yang keras. Jika ingin berburu tambang emas atau minyak di perut bumi mesti melewati dulu bebatuan yang menutupinya. Dalam komunikasi dan pergaulan sehari-hari kita juga mesti mampu menangkap pesan dan makna sejati di balik ungkapan verbal yang disusun dengan kata-kata.

Anak-anak sekolah ini harus berjuang keras melalui jembatan lapuk yang hampir putus.

Inilah yang dimaksud dengan kata ibarat dan isyarat. Hanya mereka yang cerdas dan bijak yang mampu menangkap pesan yang tersembunyi di seberang jembatan kata dan isyarat. Oleh karenanya dalam studi keagamaan ada disiplin ilmu tafsir untuk menggali makna tersembunyi di dalam kitab suci.

Dalam narasi kitab suci banyak ditemukan perumpamaan, misal, ibarat, isyarat, serta kiasan sehingga hanya mereka yang bisa menyeberang, menggali, dan menangkap makna di baliknya yang akan paham. Bukan mereka yang berhenti dan terpenjara oleh jembatan penyeberangan berupa kata-kata verbal dan literal.

Sebab kalau makna mesti selalu melekat di permukaan kata, maka tak akan ada sastra. Tak akan ada puisi. Bahasa jadi datar, kering dan miskin imajinasi. Bukankah setiap saat kita berdiri dan berjalan di atas jembatan? Bukankah kehidupan dunia ini juga merupakan jembatan untuk meraih kehidupan yang lebih tinggi, lebih abadi dan lebih membahagiakan?

Jadi jangan pernah berhenti untuk menyeberang!

Komaruddin Hidayat,
Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN)
Syarif Hidayatullah @komar_hidayat

KORAN SINDO, 20 November 2015

04 Juni, 2015

Komunitas Batu Akik


Saya tidak ahli dan tidak pula hobi mengumpulkan batu akik, tetapi senang mendengar cerita dan obrolan seputar batu akik mulai dari kalangan sopir-sopir sampai artis dan politisi. Bahkan juga teman dosen. Faktor pertama yang saya nilai positif adalah menciptakan lapangan kerja, melahirkan pusaran ekonomi baru, serta menambah pengetahuan betapa kayanya ragam bebatuan di bumi Nusantara ini.

Tampaknya terjadi pergeseran sikap masyarakat terhadap batu akik. Dulu batu akik sering diasosiasikan dengan pandangan mistis. Batu akik mengandung kekuatan gaib, misalnya saja kesaktian atau pengasihan. Orang berburu batu akik yang bisa mendatangkan aura agar orang lain terpikat atau takluk pada pemakainya. Makanya batu akik dikategorikan sebagai jimat.

Sampai sekarang pun masih banyak orang memitoskan batu akik khususnya jenis batu yang dianggap memiliki khasiat mendatangkan keberuntungan. Meski begitu yang saat ini mengemuka dan heboh di masyarakat cenderung sekadar mode.

Artinya batu akik sebagai perhiasan dan koleksi. Harganya pun berkisar mulai puluhan ribu, ratusan ribu sampai jutaan rupiah. Beberapa daerah asal yang batu akiknya diperebutkan misalnya saja dari Ambon, Garut, Aceh, Bengkulu, dan Kalimantan.


Pusat-pusat perajin batu akik pun bermunculan. Bahkan dijual juga gerinda alat pemotongan dan penghalusan batu untuk dijadikan mata cincin dengan ukuran yang dikehendaki. Tak pelak lagi maraknya jual beli batu akik ini telah menciptakan karya seni dan ekonomi kreatif bagi rakyat. Saya sendiri sering mendengar cerita jual beli akik yang dilakukan sopir saya, Toni. Keuntungan tidak seberapa, tetapi lumayan untuk menambah penghasilan dan punya topik obrolan baru, katanya. Daripada ngegosip.

Kita tidak tahu sampai kapan batu akik naik daun dan meramaikan pasar. Semoga saja berlangsung terus. Kalau saja kalangan selebritas ikut mempromosikan dengan mengenakan cincin berbatu akik secara berganti-ganti, pasti rakyat akan ikut-ikutan.

Adanya batu akik yang bisa menyembuhkan penyakit, secara rasional, mudah dijelaskan. Mungkin sekali ada bebatuan yang mengandung zat kimia tertentu dan punya daya medis yang menyembuhkan bagi pemakainya. Kebetulan saja cocok dengan penyakit yang diderita. Jadi itu semata interaksi alami, tak ada faktor magisnya. Berbagai obat itu pun asalnya dari bumi. Bebatuan itu juga dari bumi. Sangat mungkin terdapat jenis bebatuan yang mengandung obat melalui sentuhan kulit manusia. Atau mengeluarkan energi penyembuh ketika memperoleh cahaya matahari.


Naiknya posisi batu akik ini konon ceritanya bermula dari hadiah Pak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kepada Presiden Amerika Serikat Barack Obama berupa batu akik jenis bacan berwarna hijau berasal dari Maluku dan ketika dipakai telah mengundang perhatian para wartawan foto. Sejak itu batu akik menjadi booming. Bahkan ketika diselenggarakan Konferensi Asia Afrika (KAA) belum lama ini, para delegasi KKA masing-masing diberi cendera mata berupa batu akik Indonesia.

Yang pasti sekarang bermunculan perajin dan pedagang batu akik karbitan sekalipun dalam batas skala ekonomi kecil. Meski begitu denyutnya telah meramaikan wacana dalam komunitas pencinta batu akik berkat dukungan media massa.

Orang bilang, kita kembali ke zaman batu, tapi tidak sembarang batu karena batu akik yang heboh sekarang ini telah mendapat sentuhan seni dan teknologi modern. Namun ada juga suara lain, mencuatnya batu akik ini merupakan sindiran alam bahwa hati kita telah membatu. Tak lagi memiliki getaran kepekaan terhadap berbagai penyimpangan dan kerusakan moral yang terjadi di sekeliling kita.

Komaruddin Hidayat,
Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
KORAN SINDO, 29 Mei 2015

20 Oktober, 2014

Sisi Gelap Demokrasi


Salah satu formula demokrasi yang populer adalah: kekuasaan berasal dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Mengingat yang bernama rakyat jumlahnya semakin banyak, maka dibentuklah lembaga yang menyalurkan aspirasi rakyat, yaitu partai politik (parpol).

Salah satu fungsi parpol adalah memfasilitasi pemilihan wakil rakyat sehingga bisa duduk di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), baik di tingkat pusat maupun daerah. Jadi, di situ sudah terjadi dua jenjang penyambung lidah rakyat, yaitu parpol dan lembaga DPR. Oleh karenanya, sangat mungkin terjadi penyimpangan pada tingkat parpol. Yang pertama misalnya, bahwa agenda yang diperjuangkan elite parpol ternyata tak lagi sejalan dengan aspirasi rakyat. Kedua, ketika wakil parpol duduk di DPR, mungkin saja yang disuarakan wakil tersebut berbeda dari aspirasi asal parpolnya, karena banyaknya lobi dan tekanan dari kanan-kiri.

Dengan mengikuti pemberitaan dinamika politik dan demokrasi yang berlangsung, rupanya aspirasi dan perilaku kalangan DPR sering dipandang asing, bahkan menjengkelkan bagi rakyat yang merasa telah mempercayakan aspirasi politik mereka kepada para wakil mereka itu. Di sini terjadi inkonsistensi dan deviasi hubungan antara rakyat dan wakilnya. Kedaulatan berasal dari rakyat, dilimpahkan ke parpol, lalu oleh parpol diwakilkan lagi ke anggota DPR, dan ketika sampai di DPR sering kali hubungan antara anggota DPR dengan parpol dan rakyat semakin renggang dan jauh.

Datang nggak datang, duduk nggak duduk, yang penting duit.

Sampai di sini, kedaulatan bukan lagi di tangan rakyat, melainkan berada di tangan anggota DPR. Disinilah sisi dan lorong gelap demokrasi mulai muncul. Mengingat jumlah rakyat Indonesia lebih dari 200 juta, tentu saja tidak mungkin semua rakyat ikut sidang demi menjaga kedaulatan rakyat secara penuh dan utuh. Oleh sebab itu timbullah parpol dan sistem perwakilan. Dan untuk memilih pun jalannya cukup panjang dan biayanya mahal. Beda sekali dari gagasan dan praktik awal demokrasi di zaman Yunani kuno dulu. Rakyat masih sedikit sehingga mereka memiliki kedekatan hubungan antara yang diwakili (rakyat) dan yang mewakili (anggota dewan).

Tetapi karena rakyat Indonesia yang demikian banyak dan tersebar di ribuan pulau, maka pasti banyak diantara rakyat yang tidak tahu siapa calon wakil mereka. Ketika pemilu hanya disuruh masuk bilik suara untuk nyoblos gambar, dan foto yang dicoblos pun sesuai dengan pesanan juru bayar, maka pada praktiknya demokrasi yang punya klaim sebagai manifestasi kedaulatan rakyat, di sana bisa saja terjadi pembajakan kedaulatan rakyat oleh parpol, kemudian kedaulatan parpol diambil alih oleh wakilnya di DPR, dan kedaulatan anggota DPR diambil alih oleh fraksi.


Sehingga, pada urutannya, yang menentukan kebijakan undang-undang dan anggaran negara, sebenarnya hanyalah segelintir orang yang terang-terangan mengatasnamakan rakyat dan parpol. Itulah salah satu konsekuensi demokrasi. Apa yang disebut Majelis Permusyawaratan Rakyat, bisa saja tak lebih dari Majelis Permusyawaratan dari beberapa wakil parpol yang belum tentu mewakili aspirasi anggotanya. Demokrasi yang mengejar kemenangan hanya dengan formula suara 50% + 1 akan terjatuh pada demokrasi prosedural, tetapi melupakan substansinya. Atau dalam bahasa Pancasila, demokrasi yang tak lagi menghargai hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan.

Dalam kaitan ini, manifestasi hak rakyat untuk bersuara, hanyalah sebatas mencoblos suara sewaktu diadakan pemilu dalam lima tahun sekali, yang berlangsung sekitar lima menit, setelahnya sudah beralih ke tangan politisi yang tak mudah lagi bagi siapa pun untuk mengontrolnya. Jika demokrasi ibarat benih pohon besar yang menjanjikan daun yang rindang dan buahnya yang lezat, maka kebesarannya tak akan terwujud ketika tanahnya tidak gembur. Dan bila air dan sinar matahari tidak mendukung.

Demikianlah, makanya demokrasi akan sehat dan tumbuh kokoh serta mendatangkan kemakmuran jika rakyatnya memiliki pendidikan yang bagus dan merata, tingkat ekonominya sudah sejahtera, serta terwujudnya ketegasan dan keadilan hukum. Dalam masyarakat yang demikian, rakyat justru akan rela mengeluarkan uang untuk membantu perjuangan para calon wakil rakyat dan calon presiden karena rakyat yakin mereka akan memperjuangkan nasibnya. Tetapi menjadi suatu ironi dan memilukan ketika yang terjadi justru politisi mengeluarkan uang miliaran untuk membeli suara rakyat.


Logika awam pun bertanya, para politisi yang telah mengeluarkan miliaran uang untuk membeli suara rakyat itu, apakah karena dorongan hati untuk bersedekah secara ikhlas, karena telah kelebihan uang, ataukah karena ada agenda lain, misal karena melulu mengejar jabatan untuk mengeruk kekayaan materi? Jika yang terjadi adalah yang terakhir, maka bisa dipastikan setelah mereka berkuasa niscaya akan korupsi dan menyalahgunakan jabatan demi untuk mengembalikan modal yang telah dikeluarkan pada saat kampanye dan sedapat mungkin, sambil mencari keuntungan sebanyak-banyaknya.

Demikian burukkah demokrasi? Tentu saja sampai hari ini sistem demokrasi masih diyakini sebagai sistem yang terbaik selama syarat-syaratnya yang standar terpenuhi. Prasyarat demokrasi yang sehat, tentu kita semua sudah tahu. Jika tak terpenuhi, maka panggung demokrasi bisa berubah jadi panggung dagang sapi yang sangat miskin dari sikap politisi-negarawan, dan hanya menyajikan tontonan yang sangat menyebalkan.

Akhirnya, Pemilu lalu menjadi lembaga dan mekanisme pembelian dan pembajakan suara rakyat sebagai modal untuk berburu kekuasaan, jabatan, dan keuntungan materi.

Komaruddin Hidayat,
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
KORAN SINDO, 10 Oktober 2014

24 Mei, 2014

Perennial Wisdom


Kapan pun diterbitkan, semua buku terasa baru ketika pertama kali dijumpai dan dibaca. Sebagaimana juga setiap anak manusia yang baru terlahir seakan bumi ini baru tercipta untuknya, padahal sudah lama dihuni oleh nenek moyangnya.

Ketika kita membaca buku, seringkali merasakan di sana tak ada gagasan baru. Banyak informasi dan pernyataan klasik yang diulang-ulang kembali. Ini amat terasakan ketika kita membahas pesan moral, misalnya tentang kejujuran, keberanian, kasih sayang, semangat saling tolong-menolong serta melayani, dan sebagainya. Bukankah sejak zaman Yunani Kuno sampai sekarang gagasan tentang kejujuran tak pernah berubah? Begitu pun teks kandungan kitab suci justru selalu dijaga keasliannya.

Meski diwahyukan ratusan atau ribuan tahun silam, kitab suci masih tetap menarik dibaca dan direnungkan karena apa yang disajikan merupakan perennial and timeless wisdom atau al-hikmah al-khalidah. Sebuah ajaran dan pesan kebaikan abadi yang tak pernah lekang oleh waktu. Dalam ajaran Islam, misalnya, tata cara dan adegan shalat memiliki bacaan baku yang wajib dibaca berulang kali tanpa perubahan, dan itu sudah berlangsung sejak belasan abad lalu. Meski diulang-ulang pesan dan kandungannya senantiasa aktual dan relevan. Artinya, tidak semua yang klasik dan lama berarti buruk dan mesti diganti.


Jika kita perhatikan sejarah peradaban manusia, pada masa klasik antara Abad V sebelum dan setelah Masehi, di berbagai belahan bumi muncul guru-guru peradaban yang telah meletakkan dasar kebajikan moral dan ajaran ketuhanan dengan bahasa dan latar budaya yang berbeda. Zaman itu ada yang menyebutnya sebagai axial age. Abad poros bagi peletakan fondasi moral dan ketuhanan bagi manusia. Pada abad-abad itu lahir para nabi dan orang-orang suci yang menyuarakan pesan langit sebagai pedoman hidup bagi penduduk bumi.

Prinsip-prinsip moral dan paham ketuhanan yang disebarkan oleh para rasul Tuhan itu berkembang sampai tingkat kematangan jauh mendahului abad kelahiran sains dan teknologi modern. Menariknya lagi, setelah Nabi Muhammad tak ada lagi sosok nabi. Kalaupun ada yang mengaku dirinya nabi utusan Tuhan, ajaran dan pengaruhnya tak mampu menyaingi para nabi-nabi sebelumnya yang oleh umat Islam Nabi Muhammad diyakini sebagai pamungkasnya.

Dengan mengamati ulang evolusi peradaban manusia, tampaknya Tuhan ingin menyampaikan sebuah pesan bahwa silakan manusia melakukan eksplorasi dan pengembangan sains serta ilmu pengetahuan dan teknologi ultramodern dengan anugerah nalar yang telah diberikan, tetapi jangan sampai melepaskan landasan moral yang sudah ditanamkan oleh para rasul-Nya. Kalau itu terjadi, prestasi iptek modern tak akan menjamin mampu membawa kebaikan dan kebahagiaan. Sementara itu jauh-jauh sebelumnya, Tuhan telah mengingatkan melalui para rasul-Nya agar nilai kebertuhanan dan moralitas harus menjadi fondasi kehidupan dan peradaban.

Karenanya, kita melihat dua orientasi pemikiran manusia. Dalam hal kreasi dan inovasi bidang sains, para ilmuwan mesti menatap dan melangkah ke depan. Bahkan sains cenderung dan bisa bersifat ahistoris. Namun dalam bidang agama dan humaniora, kita diajak menghubungkan diri ke sumber masa lalu yang menyediakan pesan wisdom of life . Sumber masa lalu itu jika ditelusuri dan didalami akan memperkenalkan kita pada guru-guru peradaban agung yang ajarannya pasti sejalan dengan bisikan nurani kita yang terdalam.


Orang beragama selalu ingin terhubung dengan sosok nabi pembawa ajaran suci yang hidup ratusan atau ribuan tahun yang lalu. Membayangkan ingin hidup sezaman dan berada di dekatnya. Sebaliknya, para ilmuwan sains melakukan eksplorasi dan pengembaraan ke masa depan bagaikan mengejar kaki langit. Ilmuwan selalu menatap dan melangkah ke depan, sementara agamawan selalu menengok dan mencari akar otentisitas ke belakang. Namun setelah pencari kebajikan abadi menemukan apa yang dicari di belakang, mereka harus kembali lagi memasuki percaturan hidup hari ini dan berjalan menuju hari esok untuk mendampingi gerak laju para ilmuwan.

Dengan demikian, apa yang disebut perennial wisdom dan formula sains sesungguhnya saling isi mengisi, saling bergandengan tangan, tidak boleh keduanya berpisah atau bahkan bermusuhan. Kalau itu terjadi, maka bangunan peradaban dan kebudayaan akan keropos, lumpuh dan ambruk. Dengan ungkapan lain, ajaran moral tanpa dukungan sains tak akan mampu menyelenggarakan kehidupan yang nyaman dan sejahtera. Sebaliknya, sains tanpa prinsip moral dan ketuhanan akan kehilangan dimensi transenden, kehidupan menjadi mekanistis dan dangkal.

Iptek sebagai aplikasi dari sains memang mampu menawarkan fasilitas hidup secara teknis agar terasa nyaman dan mudah dijalani. Tetapi iptek tak bisa mengambil alih ajaran moralitas agama yang menawarkan makna dan tujuan hidup transenden sehingga kehidupan tidak berhenti pada nihilisme, meaninglessness, dan absurditas.

Komaruddin Hidayat,
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
KORAN SINDO, 23 Mei 2014

02 Februari, 2013

The Busy Generation


Busy, busy, busy, busy, busy, busy. Busy … dead !

Menurut kalender, dalam seminggu yang disebut hari kerja (workdays) ada lima hari, lalu hari libur (holidays) dua hari. Mengapa jumlah hari kerja lebih banyak ketimbang hari libur?

Karena bekerja itu sehat, melegakan dan membahagiakan, sedangkan diam menganggur itu melelahkan dan bahkan menyiksa. Tidak percaya? Coba saja sendiri selama setahun jadi pengangguran, pasti tersiksa. Di dalam bekerja seseorang menemukan keasyikan, sebuah aktualisasi diri sebagai pribadi yang produktif dan berharga bagi sesamanya. Pohon pisang saja tidak mau mati sebelum mempersembahkan buah dan keturunan dari kehadirannya.


Terlebih manusia yang dibekali potensi hidup dan kreativitas yang sampai sekarang belum diketahui secara persis batas akhir kemampuannya. Oleh karenanya manusia juga disebut homo faber. Makhluk yang senantiasa mencipta berbagai produk baru untuk menyalurkan imajinasinya dan memenuhi kebutuhan hidupnya. Saking kreatifnya, sangat mungkin para ilmuwan di masa depan akan menciptakan produk-produk baru yang sesungguhnya tidak diperlukan oleh masyarakat, padahal biayanya amat mahal, semata untuk menyalurkan daya kreatifnya.

Dalam kehidupan sehari-hari, sekarang pun anomali dan deviasi sosial sudah terjadi, yaitu orang terjerat pada gaya hidup yang supersibuk. Sibuk seakan menjadi identitas dan gaya hidup kalangan eksekutif. Padahal ide besar yang menjanjikan sukses besar justru muncul saat orang dalam suasana santai, rileks, meditatif. Makanya banyak inspirasi dan peristiwa besar yang terjadi di malam hari seperti yang dialami para nabi. Mereka mendapatkan pencerahan hati dan pikiran di malam hari, di tempat yang sunyi, seperti yang dialami Nabi Muhammad di Gua Hira.

Peristiwa Isra’-Mi’raj pun juga di malam hari. Dengan bantuan teknologi modern, seseorang dapat melakukan multi-tasking dalam jam dan tempat yang sama. Artinya, bisa saja seseorang semakin sibuk dibuatnya ataupun sebaliknya, bisa lebih rileks karena rapat jarak jauh pun dapat dilakukan. Jadi, godaan dan peluang untuk menjadi sibuk dan supersibuk pun semakin terbuka. Namun perlu disadari bahwa sukses tidak selalu identik dengan sibuk. Para inovator bidang ilmu selalu memerlukan suasana rileks untuk mencari ilham.


Terlebih mereka yang selalu sibuk dengan dalih demi memenuhi kebutuhan keluarga sesungguhnya perlu diingatkan dan dipertanyakan keabsahan dalihnya. Bagi mereka yang secara ekonomi sudah cukup, yang diperlukan anak-anak dan anggota keluarga adalah kebersamaan berkualitas yang tidak dapat ditukar dengan materi. Banyak keluarga yang hidupnya tidak bahagia, suami-isteri cerai bukan karena tidak punya uang, tetapi tidak punya waktu senggang dan nyaman untuk berbagi hati dan pikiran dalam rangka menjaga kehangatan keluarga.

Ketika panggung politik terasa pengap, kondisi lalu lintas macet dan membuat stres, sementara kejahatan dan konflik sosial bermunculan tak berkesudahan, pasti semua itu berpengaruh secara negatif pada suasana hati warga bangsa ini. Situasi demikian mesti diimbangi dengan pencerahan hati dan pikiran agar kita tidak menjadi orang yang reaktif, melainkan menjadi pribadi yang kreatif. Menjadi pribadi yang sabar sekaligus penyebar damai dengan pikiran-pikiran alternatif yang mendatangkan aura optimistis-konstruktif.

Ketika yang terjadi adalah akumulasi stres, marah, pesimistis, dan sikap egoistis, sesungguhnya kita telah mempersempit dan membuat gelap dunia kita sendiri. Ketika kita memandang dunia, tanpa disadari yang muncul dan terlihat sebenarnya adalah proyeksi dari keyakinan, ideologi, dan endapan emosi serta pikiran tentang hidup yang kita inginkan. Kita akan selalu mengejar hal-hal yang kita bayangkan menyenangkan dan selalu berusaha menghindari hal-hal yang kita bayangkan menyakitkan.


Padahal, pada kenyataannya, bayangan, keinginan, dan pikiran yang menyenangkan itu tidak mudah diwujudkan dan apa yang kita bayangkan menyenangkan adakalanya justru sebaliknya yang terjadi. Kita seringkali terlalu sibuk sehingga tidak bisa mengambil jarak dari kehidupan praktis mekanistis sehingga tidak bisa merenung dan membuat refleksi tentang makna dan tujuan hidup, tak ubahnya seperti pesawat terbang yang kehilangan peta titik koordinat dan tujuan akhir untuk mendarat. Seperti kasus yang pernah menimpa pesawat terbang Adam-Air beberapa tahun lalu yang akhirnya nyasar ke lautan.

Tragedi serupa banyak terjadi pada kehidupan kita semua. Bukankah perjalanan hidup ini tak ubahnya pesawat yang melaju kencang ke depan? Apa yang terjadi kalau kehilangan peta yang menjadi petunjuk jalan? Oleh karena itu fenomena munculnya busy generation mesti diwaspadai karena akan mendorong seseorang hidup bagaikan mesin berputar. Selalu sibuk bahkan super sibuk tapi kehilangan sense of meaning of life. Kesibukan tanpa pemahaman dan penghayatan yang mendalam, untuk apa dan siapa hidup ini dijalani. Kesibukan yang tanpa makna apa-apa dan sia-sia belaka.


Ada sindiran Dalai Lama yang sangat populer. Katanya; "Saya heran dengan perilaku manusia, mereka sibuk mengumpulkan uang sampai-sampai mengorbankan kesehatan dan waktu senggang untuk memelihara hubungan sosial. Anehnya, setelah uang terkumpul, semuanya habis terkuras untuk biaya berobat akibat gaya hidup yang tidak sehat." Mereka hidup pada hari ini, tapi pikiran dan emosinya meloncat jauh ke depan sehingga tidak bisa menikmati keindahan hari ini. Sementara ketika memasuki hari tua yang dijumpai ternyata tidak seindah yang dibayangkannya.

Sibuk seakan menjadi mantra baru. Ketika bertemu teman, dulu orang masih sempat ngobrol tentang kehidupan keluarga dan cerita hobi masing-masing. Sekarang hal itu telah berubah, pertanyaan yang muncul biasanya adalah: “Sekarang lagi sibuk apa?” 

Busy, busy, busy, busy, busy, busy. Busy … dead !

Komaruddin Hidayat
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
SINDO, 14 Desember 2012