Tampilkan postingan dengan label Haji. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Haji. Tampilkan semua postingan

23 Juli, 2017

Mudik sebagai Perjalanan Suci


Tiap kali mendekati pekan mudik nasional, istri saya selalu bercerita tentang sahabatnya. Si sahabat asli Jogja, punya suami orang Lombok. Pasangan tersebut sama-sama kerja di Jogja, dan tiap Lebaran harus mudik ke Lombok. Nah, buat mudik sejauh itu bersama dua anak mereka, ongkos minimal 15 jutaan harus selalu mereka alokasikan. Untuk empat biji tiket pesawat PP, oleh-oleh, juga angpao Lebaran buat para keponakan.

Cerita semacam itu tentu lazim belaka. Namun ia selalu muncul sebagai dalil, sebelum kami memungkasi obrolan dengan mengucap syukur sembari meletakkan keluarga kami sendiri sebagai prototipe keluarga paling beruntung di muka bumi. “Alhamdulillah, kita nggak pernah perlu keluar duit sebanyak itu tiap Lebaran ....”

Kami memang nggak pernah mudik. Buat apa mudik? Lha wong dari kecil sampai beranak satu kami tinggal di udik terus, kok. Rumah kami di Bantul. Kalau mau ke rumah orangtua cukup naik motor 10 menit, mau ke rumah mertua cukup 25 menit. Peknggo saja, kalau istilah Jawa-nya. Ngepek tonggo, alias menikahi anak tetangga. (Tentu saja bukan tetangga beneran. Toh kami dulu kenal di kampus, bukan di pekarangan rumah waktu dia sedang menjemuri sarung bapaknya.)

Dengan situasi geografis seperti itu, momen Lebaran selalu sangat simpel buat kami sekeluarga. Ringkas, dan yang paling penting di atas segalanya: ekonomis.


Namun setelah saya pikir-pikir sambil nyeruput kopi selepas buka puasa, saya jadi malu sendiri. Betapa materialistisnya cara kami memandang sebuah prosesi akbar bernama pulang kampung. Suatu kemudahan hidup yang kami anggap sebagai berkah semata-mata karena kami merasa lebih irit dibanding orang-orang lain.

Padahal, hanya karena kami tak pernah repot mudik, apa lantas artinya tabungan kami tiba-tiba jadi menggelembung bertambah 15 juta? Duh, ternyata enggak hahaha ….

Saya jadi ingat peristiwa dua tahun silam, ketika seorang so-called intelektual melontarkan pandangan yang luar biasa cerdas tentang ibadah haji dan umroh. Dia mengatakan, “Biaya haji dan umroh yang 30 triliun per tahun itu bisa dipakai bikin 600 ribu rumah untuk orang miskin. Makanya mending nggak usah ke Mekah, tapi buat sosial saja.”

Gagasan itu jelas mulia, karena muatannya adalah keinginan untuk menolong fakir miskin. Di titik itu saya sendiri mendukungnya. Sayangnya, ada konstruksi logika yang terlalu matematis di situ. Akibatnya, sang intelektual malah jadi lupa bahwa yang sedang ia bicarakan bukan semata uang, melainkan juga manusia-manusia yang menggerakkan uang.


Begini maksud saya. Pernyataan tersebut mengandaikan bahwa di setiap dompet calon jamaah haji sudah teronggok duit, katakanlah masing-masing 40 juta rupiah. Maka, biar lebih bermanfaat, ibadah haji dihapus saja, sehingga untuk seterusnya setiap onggokan duit 40 juta per orang itu bisa disumbangkan untuk aksi sosial. Begitu, bukan?

Pertanyaan saya, memangnya dari mana datangnya duit 40 juta itu? Apakah waktu bangun tidur tahu-tahu mereka nemu buntelan di bawah bantal, yang isinya duit semua? Atau karena sejenis mukjizat tertentu, 168.000 orang itu (sesuai kuota tahun 2015) mendadak mendapati rekening mereka masing-masing menggembung dengan tambahan 40 juta entah dari mana?

Nah, sisi itu yang dilupakan oleh penggagas ide. Ia lupa bahwa ritual, dalam keyakinan apa pun, bukan sekadar tindakan fisik, namun juga aktivitas batin. Ritual bukan cuma memeras tenaga dan menyerap anggaran, namun juga menyalakan motivasi. Ritual bukan hanya melibatkan nota-nota pembayaran dan barang-barang belanjaan, melainkan juga spirit dan emosi.

Maka tak perlu heran ketika mendapati banyak orang menjadikan haji sebagai cita-cita ultimate mereka dalam hidup. Baju boleh kumal, rumah boleh reyot, tapi kepuasan hidup mereka diraih saat berhasil sowan ke Tanah Suci.

Naif? Irasional? Dari kacamata sekolahan mungkin iya. Tapi andai orang-orang itu tidak punya orientasi hidup untuk berhaji, apa lantas duit 40 juta bisa mereka dapatkan dari hasil kerja? Wo ya belum tentu …. Sebab sangat mungkin pembakar semangat mereka untuk bekerja keras ya impian haji itu!


Pendek kata, logika penghapusan ibadah haji seperti tergambar di atas adalah logika orang yang kepalanya hanya berisi kalkulator. Si so-called intelektual menafikan bahwa dalam hidup yang penuh misteri ini ada banyak sisi di luar kalkulasi rasional-mentahan yang mampu menggerakkan etos manusia.

Malang sekali, ternyata saya sendiri pun tak beda. Otak saya hanya berisi untaian biji-biji sempoa saat memahami ribuan orang yang berbondong-bondong pulang ke kampung halaman mereka. Padahal, mudik tak bedanya dengan haji.

Tunggu, tunggu. Jangan marah dulu dengan kalimat saya barusan. Tentu saya nyeletuk “mudik tak bedanya dengan haji” bukan dalam kerangka menyetarakan keduanya pada dimensi ibadah. Ini semata karena melihat kesamaan karakter pada dua ritual tersebut.

Dalam mudik, citra yang kasat mata adalah orang-orang pulang ke kampung, bertemu ayah-bunda dan sanak saudara. Namun di balik tampilan visual, yang bergerak adalah gairah untuk kembali ke akar, kerinduan, air mata, dan cinta.

Dalam mudik, tersedia momentum. Kita semestinya ingat Tuhan setiap saat, tapi agama menyediakan momentum sembahyang pada waktu-waktu khusus. Kita seharusnya senantiasa mengontrol naluri hewani kita agar menegaskan diri sebagai manusia, tapi agama menyediakan momentum bulan puasa. Begitu pula, kita sepantasnya tak henti mengasihi keluarga dan orang-orang tercinta, tapi ritual mudik menyediakan momentum agung untuk merayakan kerinduan kita.


Dalam mudik, biaya dihamburkan. Namun, tidak sempatkah terpikir bahwa sangat mungkin etos para lebah pekerja di kota-kota besar itu meluap-luap memang karena orientasi mudik? Mereka ingin pulang kampung setahun sekali sambil membawa kelimpahan kejayaan, membuat bangga orangtua mereka, membuat berdecak kagum kawan-kawan masa kecil mereka.

“Itu riya! Tradisi show off berpadu dengan konsumtivisme!”

Hoahmm, saya tidak sedang ingin pusing dengan hal-hal begituan. Memangnya kritik atas itu ngaruh seberapa jauh sih selama ini?

Biarlah soal-soal demikian diurus para ustaz dan pengamat sosial saja. Saya sendiri lebih suka melihat bahwa dalam pemborosan akibat mudik ada berkah bagi banyak orang. Ada anak-anak yang bahagia mendapat uang saku lebih, ada ibu-ibu yang dagangan kue nastar dan kastangelnya laris manis, ada sista-sista olshoper yang stok baju muslimnya ludes, dan entah ada berapa ribu orang lagi yang bahagia dengan perayaan pulang kampung nasional ini.

Akhir kata, selamat siap-siap mudik bagi yang merayakan. Sadari bahwa prosesi mudik Anda adalah rangkaian perjalanan suci. Maka, karena mudik ini sakral adanya, ada satu pesan penting dari saya: waktu syawalan di kampung, jangan merusak suasana dengan mengungkit keributan lama terkait perdebatan politik di grup-grup Whatsapp Anda. Itu.

Iqbal Aji Daryono,
Tinggal sementara di Perth, Australia,
Kadang-kadang mudik ke Bantul, Yogyakarta,
Sehari-hari bekerja sebagai sopir merangkap kurir
di sebuah perusahaan jasa pengiriman
DETIKNEWS, 20 Juni 2017

14 September, 2015

Crawler Crane Maut di Tanah Haram


Jumat, 11 September (Peristiwa Nine One-One atau Nine Eleven), tak hanya dikenang sebagai hari bersejarah bagi masyarakat Amerika yang memperingati insiden runtuhnya gedung WTC, namun juga menjadi kisah pilu bagi seluruh umat muslim di dunia.

Tepat di hari itu, sebuah alat derek (crane) raksasa, jatuh tumbang dan menimpa para jamaah calon haji yang hendak melaksanakan shalat maghrib di Masjidil Haram, Makkah. Akibatnya lebih dari seratus orang jamaah calon haji meninggal dan 10 diantaranya adalah warga negara Indonesia.


Sebuah kebetulan yang menarik, konon crane yang jatuh di Makkah itu tenyata milik perusahaan dari keluarga Bin Laden. Dan kebetulan pula ketika musibah terjadi pada Jumat sore kemarin itu tepat pada tanggal 11 September, persis 14 tahun lalu ketika menara kembar WTC di AS hancur (peristiwa 9-11).

Menurut Daily Mail, crane yang jatuh ternyata adalah milik perusahaan konstruksi dari keluarga Osama bin Laden bernama Bin Ladin Group. Perusahaan itu didirikan ayah Osama, Mohammed, dan kerap mendapatkan proyek-proyek raksasa di Arab Saudi. Perusahaan konstruksi ini adalah yang terbesar kedua di dunia.


Saat itu, hari Jumat sore menjelang maghrib (11/9-2015) waktu Arab Saudi, hujan deras disertai dengan angin yang sangat kencang. Hingga kini, dalam peristiwa tersebut sedikitnya telah menewaskan 107 orang dan belasan lainnya luka-luka.

Menurut Direktur Jenderal Otoritas Pertahanan Sipil Arab Saudi Letnan Sulayman Bin-Abdullah al-Amr, hujan deras disertai angin kencang berkecepatan 83 kilometer per jam merupakan penyebab insiden tersebut.


Hujan badai dan angin kencang yang disertai hujan es di wilayah Makkah sore itu, diduga sebagai penyebab salah satu crane raksasa di tempat itu tak kuat menahan beban dan jatuh terjerembab menimpa salah satu sisi Masjidil Haram.

Seperti diketahui, di seputaran Kakbah di Masjidil Haram Makkah, banyak sekali crane yang memang sedang digunakan untuk pembangunan perluasan Masjidil Haram.


Salah satu jenis crane (mesin derek) yang bernama crawler crane, Jumat kemarin mengejutkan dunia karena jatuh tumbang di area Masjidil Haram. Apa itu crawler crane?

Crawler crane adalah jenis mobile crane, yakni mesin derek besar yang dapat bergerak walaupun lambat. Mesin derek hidrolik ini dijuluki “crawler” karena menggunakan roda tank dari besi baja dengan bantalan lebar. Oleh karena itu, laju crane ini sangat lambat, bagaikan bayi yang sedang merangkak atau “crawl”.


Kelahiran crawler crane bermula sekitar tahun 1920-an di AS. Saat itu perusahaan Northwest Engineering yang pertama kali membuat crawler crane. Namun, saat itu bentuk mesin derek itu masih sederhana, hanya seperti sebuah katrol yang dipasangkan di atas rel.

Crawler crane yang lebih modern lantas di buat oleh Ray & Charles Moore dari Chicago, AS. Mesin tersebut bertenaga uap dan berbobot 15 ton. Versi ini mulai dikembangkan dan dipasarkan secara luas pada tahun 1925.


Dari situlah, banyak perusahaan alat konstruksi mulai mengembangkan crawler crane yang lebih canggih. Salah satu yang terkenal adalah crawler crane dengan tiang hidrolik yang pertama buatan Hymac, perusahaan asal Inggris di tahun 1966.

Mesin derek yang terkenal menggunakan roda ulat (caterpillar tracks) ini biasanya memiliki tinggi total mulai dari 50 meter hingga 120 meter lebih, dengan bobot puluhan hingga ratusan ton.


Crawler crane dengan ukuran raksasa ini bisa mengangkat beban berat antara 40 hingga 3.500 ton. Tak aneh bila majalah Cranes & Access di tahun 2006 menyatakan bila crawler crane adalah alat berat terbaik untuk membangun baling-baling raksasa PLTA (pembangkit listrik tenaga angin) yang ketinggiannya bisa mencapai 100 meter.

Salah satu keuntungan dari crawler crane adalah mobilitasnya di area konstruksi. Mesin ini bisa berjalan meskipun sedang membawa muatan berat. Penggunaan di lokasi dengan tanah tidak stabil pun memiliki resiko yang lebih rendah. Menggunakan roda mirip roda mesin perang tank, crawler crane tidak mudah terjebak di pasir atau tanah yang becek.


Akan tetapi, crawler crane sangat berat. Alat berat ini sangat susah dipindahkan dari satu lokasi proyek ke lokasi lainnya. Bahkan karena beratnya, untuk memindahkan alat ini biasanya harus dibongkar dulu sebelum akhirnya di letakkan di atas truk besar untuk dipindahkan, baru kemudian dipasang kembali.

Akibat bobotnya yang sangat berat itu (ratusan ton), maka saat crane jenis ini jatuh dan tumbang di Masjidil Haram, dampak kerusakannya memang cukup masif.


Proyek perluasan kawasan Masjidil Haram sekarang ini merupakan yang terbesar sepanjang sejarah Arab moderen. Saat ini masjid dengan sembilan menara itu mampu menampung 900 ribu orang. Dan pada musim haji, angka itu meningkat menjadi empat juta orang.

Pemerintah setempat menargetkan proyek pembangunan masjid tersebut selesai pada 2020 agar mampu menampung setidaknya 1,85 juta jemaah. Perluasan mencakup pada bagian halaman, terowongan, dan fasilitas pelayanan jalan lingkar (ring road) pertama.


Selain itu, ada penambahan 680 lift baru bagi jemaah disabilitas, 4.524 speaker untuk sistem suara, 6.635 kamera pemantau (cctv), 2.100 toilet baru, termasuk toilet kaum difabel, dan sistem pembersihan debu ruangan.

Pascajatuhnya derek besar (crane) yang menimpa jemaah haji di Masjidil Haram, Makkah, pemerintah Arab Saudi dikritik karena dianggap lalai. Pendiri Islamic Heritage Research Foundation yang berpusat di Makkah, Irfan al-Alawi, mengomentari insiden yang terjadi pada Jumat petang, 11 September 2015, tersebut.


Irfan mengeluhkan otoritas setempat yang sangat lalai karena membiarkan alat-alat proyek berat, seperti crane raksasa itu, menghadap langsung di Masjidil Haram begitu saja. “Arab Saudi harus berpikir ulang soal strategi keselamatan dan keamanannya,” katanya. “Sebab, ada 800 ribu orang di wilayah Masjidil Haram saat kecelakaan itu.”

Derek atau crane yang jatuh di Masjidil Haram telah menewaskan sedikitnya 107 orang dan melukai 238 lainnya. Crane tersebut merupakan satu dari puluhan derek (crane) di area itu yang digunakan dalam proyek perluasan mesjid terbesar yang menjadi kiblat umat Islam sedunia.

Dari berbagai sumber:
merdeka.com; tempo.co.id; wikipedia.org; brighthubengineering.com, dll.