Tampilkan postingan dengan label Emha Ainun Nadjib. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Emha Ainun Nadjib. Tampilkan semua postingan

20 Mei, 2017

Seribu Lilin Cinta Persembahan Buat Bangsa


1. Lega hatiku Pilkada Jakarta berlalu tanpa tetesan darah, meskipun masih tetap berlumur kebencian, dendam dan permusuhan. Rumahtangga Bangsa Indonesia sedang penuh hawa panas, demam dan amarah. Begitulah memang yang harus dilewati oleh semua keluarga yang sedang berproses memperbarui nikahnya, agar naik tingkat ke derajat kematangan baru dan kedewasaan yang lebih tangguh.

2. Aku ucapkan selamat kepada rakyat Jakarta yang memiliki Ahok dan Anies, juga kepada bangsa Indonesia yang memiliki Jokowi, Prabowo, Habib Rizieq, Gatot Nurmantyo, Ibu Begawan Megawati dan banyak lagi. Saudara-saudaraku hidup dengan pikiran mantap, hati tenang, mental tangguh dan tekad baja —karena serasa dipimpin langsung oleh “Nabi” mereka, dalam mengabdi kepada Ibu Pertiwi dan Bangsa Indonesia.


3. Saudara-saudaraku berhimpun di belakang idolanya masing-masing, tangan mengacung tinggi dengan teriakan “Merdeka!”. Mereka meyakini Kebenaran masing-masing. Sementara aku tidak berani dan dilarang menyatakan kebenaranku. Sebab Kebenaran adalah bekal masakanku yang letaknya di dapur. Sedangkan hidangan yang harus kusuguhkan adalah Kasih Sayang, Kebaikan, Keamanan dan Pengamanan, Kenyamanan dan Penggembiraan, serta ketepatan Nada dan Irama dalam Keseimbangan hidup bersama.

4. Tetapi aku bergembira saudara-saudaraku punya idola yang dikagumi dan tokoh yang ditakdzimi. Betapa bersinar hati bangsaku yang berpegangan pada Latta hari ini dan Uzza di masa depan. Siapapun pemimpin mereka hari ini, kemarin atau esok lusa, semua adalah representasi kuasa Tuhan buat rakyat Indonesia. Sebab tak ada yang ber-tajalli dan memanifestasi kecuali Dia. Itulah sebabnya hakekat itu dipasang sebagai Sila Pertama, meskipun tak perlu dipersoalkan dari mana pencipta Pancasila dulu kok bisa tahu bahwa Tuhan itu Maha Esa.


5. Sementara aku masih sibuk karena belum merdeka dari diriku sendiri. Aku sedih tidak memiliki mereka semua idola-idola itu. Aku juga punya Tuhan dan Nabi, tapi alamatnya nun jauh di seberang kerinduanku. Habis waktuku utuk bertengkar melawan kebenaran di dalam diriku sendiri, sebab kami berdua sama-sama tidak mutlak. Tuhan Yang Maha Absolut bilang “Sampaikan kebenaran dari-Ku, biarkan yang mau percaya, silahkan yang mau membangkang!” Sesekali aku menyampaikan Kebenaran dari Tuhan, tetapi tak kuat hatiku untuk dipercaya, dan masih muncul amarah di batinku jika aku diingkari dan dinista.

6. Aku turut berbahagia karena saudara-saudaraku aman sandaran dan harapan masa depannya. Aman hartanya dari korupsi, aman martabatnya dari penghinaan, dan aman nyawanya dari pembunuhan. Bahkan sinar cakrawala Demokrasi membuat siapa saja bisa menjadi apa saja. Setiap warga bisa menyiapkan biaya, persiapan jenis mental tertentu, serta mengemis kendaraan (politik), untuk berjuang menjadi Presiden, Menteri, Gubernur, Penguasa atau apapun. Sementara aku adalah penakut yang berjuang menjadi diri sendiripun belum pernah jelas hasilnya. Nabiku bilang “kalau engkau yang berinisiatif menjadi pemimpin, Allah tidak akan melindungimu dan tidak akan membantu mempertanggungjawabkan langkah-langkahmu”.


7. Puji Tuhan bangsaku bergelimang modernisme dan kemerdekaan, berlaga dalam kompetisi karier, persaingan jabatan, lomba kekayaan, turnamen pencitraan dan pertandingan keunggulan. Bangsaku sangat mampu menikmati kemegahan dunia, mengenyam kesementaraan dari hologram-hologram kemewahan. Sedangkan hidupku dirundung rasa takut untuk kalah, sekaligus tidak berani untuk menang, sebab diriku sendiri yang sangat rewel ini belum benar-benar mampu kukalahkan. Kami belum pernah benar-benar siap untuk memasuki babak berikut sesudah kehidupan yang ini. Kami sangat sibuk berlatih dan mensimulasi untuk bersiaga menjalani hidup kekal abadi, yang kami yakini tidak mungkin mengelak sama sekali.

8. Maha Esa Tuhan yang telah memperkenalkan bangsaku meneguhkan Bhinneka Tunggal Ika, pengakuan dan penerimaan bersama atas siapa saja penghuni Negeri Nusantara. Aku merasa aman, karena pasti termasuk di dalamnya, meskipun andaikan aku memeluk Agama yang tidak begitu disukai. Atau aku tidak sama dengan siapapun. Atau tidak bertempat tinggal di koordinat nilai manapun. Bahkan aku dilindungi oleh Bhinneka Tunggal Ika meskipun andaikan aku hanya seonggok batu, sehelai daun, setetes embun, Jin, Setan, Hantu, air ataupun angin.


9. Aku bersyukur saudara-saudaraku berjaya dengan kariernya masing-masing, duduk di kursi-kursi sejarah. Mereka adalah pejuang-pejuang nasional dan patriot-patriot bangsa. Sementara skala perjuanganku sangat sempit dan di dataran yang rendah, hanya berkaitan dengan sejumlah orang di seputarku. Aku mewajibkan diriku sekedar untuk mampu membesarkan hati siapapun di sekitarku, menjadi ruang kemerdekaan dari mereka, menyebarkan rasa nyaman dan teduh, dan bersama-sama berlatih untuk memiliki mental, akal dan batin yang tidak keder atau guncang ditimpa oleh keadaan macam apapun.

10. Hatiku berbinar-benar menyaksikan saudara-saudaraku hidup kokoh dengan kebenarannya masing-masing. Sementara aku mengalami Bumi adalah suatu tempat di mana kebenaran kabur wajahnya. Dunia adalah suatu bangunan kimia nilai-nilai di mana kebenaran bisa berwajah kebatilan, dan kebatilan sangat mudah menyamar tampil sebagai kebenaran. Di Dunia ini Sorga seseorang adalah Neraka bagi lainnya, sehingga batal fungsinya sebagai Sorga. Maka tak pernah berani aku mensorgakan diriku, karena khawatir menerakakan orang lainnya. Yang berani kulakukan hanyalah sedikit mencipratkan komponen-komponen kecil yang membuat orang di sekitarku merasakan Sorga Dunia dan bergerak menuju Sorga Sejati.


11. Lega hatiku saudara-saudaraku meneguhkan keyakinan bahwa “Ini Negara Pancasila, bukan Negara Agama”, “Ini Indonesia, bukan Jawa, Batak, Bugis, Sunda atau Madura.” Berdebar hatiku menantikan jalannya zaman di mana Indonesia akan menguburkan Agama, menumpas Jawa dan bukan-bukan yang lainnya. Kusimpan di lubuk hati kebenaran yang kudapatkan, bahwa Indonesia itu ya Bugis ya Tolaki ya Dayak dan semua kandungan sejarah yang membuat Indonesia ada. Bahwa Pancasila itu ya Hindu ya Budha ya Gatholoco ya Darmogandhul ya Islam ya Kristen dan semua yang menjadi sumber nilai sehingga Pancasila menjadi wujud nyata.

12. Aku persembahkan seribu lilin cinta kepada bangsa Indonesia di seluruh Nusantara. Aku sangat mencintai kalian, bukan sekedar cinta. Cinta hanya kondisi batin, tetapi Mencintai adalah komitmen, pembuktian dalam kerja, serta ketulusan dan kesetiaan. Jika kalian bergembira, aku meneteskan airmata bahagia. Apabila kalian menderita, sangat berat menusuk hatiku dan seluruh jiwaku dipenuhi rasa tidak tega. Sedemikian tunainya cintaku kepadamu, sehingga jika kalian sakit, aku tak berani mengemukakannya, sebab khawatir membuatmu lebih terluka.

Muhammad Ainun Nadjib
Tajuk CakNun.com
Yogyakarta, 19 Mei 2017

22 Agustus, 2014

Pusaka Satria: Borobudur Karya Agung Bangsa Nusantara

Candi Borobudur yang menyembul di hamparan lembah pada suatu pagi berselimut kabut.

1. Lantip dan Waskito
Mohon maaf tulisan ini sangat panjang, meskipun aslinya atau seharusnya jauh lebih panjang lagi. Saya coba telusuri interval atau jarak dan hubungan nilai di antara Borobudur – Pusaka – Kebudayaan – Pariwisata – Bangsa – Manusia – Negara.

Saya gembira menuliskannya oleh tiga sebab. Pertama, karena kebanggaan kepada Pusaka Borobudur hasil karya Bangsa Nusantara yang mustahil ditandingi oleh bangsa-bangsa lainnya di muka bumi, bahkan yang dilakukan oleh bangsa yang sekarang atas Borobudur adalah di seputar memanfaatkannya untuk tambahan devisa dan mencari nafkah penghidupan.

Kedua, apresiasi dan empati saya kepada para pengelolanya. Saya terkejut oleh keterbukaan mereka, oleh kesungguhan kreatif mereka dalam mengelola Borobudur, juga oleh kerendah-hatian yang dewasa untuk terus menerus belajar, tidak sebagaimana umumnya rekan-rekannya sebangsa pada posisi yang semacamnya.

Dan ketiga, ini mungkin peluang terakhir bagi saya untuk mungkin sedikit bisa berguna. Karena sesudah hari ini, 22 Agustus 2014, besar kemungkinan tidak ada lagi yang saya bisa persembahkan kepada beliau-beliau. Kabarnya di Jakarta ada matahari baru yang terbit. Matahari yang bukan matahari biasanya, namun yang lama diidam-idamkan oleh bangsa yang sudah terlalu lama hidup dalam kegelapan, sehingga diturunkan oleh Tuhan langsung dari langit, bagaikan cahaya Nabi di jaman dahulu. Maka segala sesuatu bagi bangsa ini akan tersedia jauh lebih baik dan melimpah terbitnya matahari itu. Saya sangat lega dan mulai sore nanti saya memasuki hari-hari merdeka yang sangat luang untuk keluarga dan masyarakat saya sendiri.

Meskipun demikian saya pastikan tidak ada yang istimewa dari yang coba saya tuliskan ini, tetapi mudah-mudahan ada yang bisa menjadi ‘file’ manfaat bagi yang bersangkutan dan siapa saja yang membacanya.

Namun apabila ada uraian dalam tulisan ‘Pusaka Satria’ (di Seminar “200 Tahun Ditemukannya Borobudur”) ini terdapat hal-hal yang berbeda atau bertentangan dengan pandangan siapapun yang membacanya atau mendengarnya, saya nyatakan bahwa semua itu saya ungkapkan tanpa menyalahkan siapapun saja kecuali diri saya sendiri.

Mohon juga mafhum andaikan ternyata saya tidak diberi Tuhan kemampuan untuk mampu menjelaskan apa yang sesungguhnya saya maksudkan. Tulisan ini tetap saya bikin, karena pasti di forum ini saya berhadapan dengan sekumpulan pakar dan penggiat yang cerdas, yang lantip dan waskito, sehingga mampu memegang sesuatu dalam pikiran saya yang tulisan ini sendiri tidak mampu mengemukakannya.

Gerbang di kompleks Candi Boko, Prambanan.

2. Ora Usum
Menciptakan Dan Meningkatkan Peran Budaya & Seni Dalam Kemajuan Industri Pariwisata”, demikian judul dan lingkup tema yang diamanatkan kepada saya untuk menguraikannya.

Tema ini aslinya sangat menyedihkan saya. Tetapi, sekali lagi, saya tidak menyalahkan siapa-siapa. Itu kesedihan saya sendiri. Bersumber mungkin dari ‘anomali’ berpikir saya sendiri di tengah arus-utama berpikir Pemerintah bangsa ini dan mungkin kebanyakan rakyat juga. Bisa juga karena saya ‘over-sensitif’ terhadap huruf, kata, kalimat, rangkaian pemikiran, apalagi terhadap landasan filosofi berpikir, Akar Ilmu, Ibu Pengetahuan, cara pandang, sudut pandang, sisi pandang, jarak pandang, serta dinamika pandang.

Struktur otak saya, cara kerja akal saya, juga keseluruhan hidup saya ini tergolong “ora usum”. Sedangkan bagi semua manusia di muka bumi ini “hidup adalah musim”.

Maka yang paling utama saya kemukakan di sini bukan agar Anda memahami atau apalagi menerima pikiran saya, melainkan saya berterima kasih telah diberi peluang untuk mengemukakan pikiran saya. Tetapi untuk itu saya memohon maaf kepada semuanya karena Anda terpaksa mendengarkan pikiran-pikiran yang “ora usum”, tidak populer, tidak marketable, tidak menawarkan keuntungan apa-apa bagi siapapun, serta tidak berguna bagi Negara, Bangsa, dan Agama.

Candi Prambanan pada suatu senja yang temaram.

3. Gudel ngroso Kebo
“Menciptakan Dan Meningkatkan Peran Budaya & Seni Dalam Kemajuan Industri Pariwisata” ini pada view saya tergambar sebagai “gudel nyusu kebo, nanging gudele ngroso kebo, lan nganggep kebone kuwi gudel”.

Kebo kebudayaan dan kesenian, disuruh meningkatkan perannya oleh gudel industri pariwisata. Industri Pariwisata berani menyuruh karena dia merasa dirinya adalah kebo, dan kebudayaan juga manut saja dianggap dan diperlakukan sebagai gudel —sampai akhirnya dalam regulasi policy kepemerintahan bangsa ini, kebudayaan benar-benar percaya bahwa ia adalah gudel.

Gudel menjadi gemedhe karena merasa dirinya kebo, dan kebo semakin terancam untuk menjadi benar-benar kerdil karena tidak pernah waspada dan menolak diperlakukan sebagai gudel.

Andaikan ada yang ‘iseng’ memakai metafora ini sebagai landasan berpikir, atau menjadi salah satu rujukan untuk memahami sangkan-paran pengelolaan pariwisata dalam kaitannya dengan kebudayan, siapa tahu mungkin akan terlihat sejumlah gejala atau mungkin fakta tentang dismanajemen yang berlangsung, karena sejak awal mungkin terjadi disidentifikasi, dislokasi dan disorientasi terhadap landasan dari setiap perangkat kebudayaan dan pariwisata.

Kerancuan kebo-gudel ini berlangsung tidak hanya di dunia pariwisata, tapi hampir menyeluruh.

Maaf seribu maaf setiap Pemerintah yang diupah untuk mengurusi bangsa ini belum pernah ada yang punya kesadaran bahwa mereka hanya gudel yang merupakan anaknya kebo rakyat. Setiap Presiden bangsa ini tidak menyadari patrap-nya sebagai gudel, meskipun tidak selalu berarti ia besar kepala sebagai ‘kebo’. Setiap tokoh sangat ingin menjadi Presiden bangsa ini dan kehilangan malu untuk memamer-mamerkan kebaikannya, karena mereka pikir Presiden adalah ndas-ndasane kebo. Padahal Presiden itu tenaga-kerja yang dibayar rakyat untuk mengepalai kumpulan tenaga-tenaga kerja lainnya yang digaji oleh kebo dan bekerja demi kesejahteraan kebo.

Belum pernah ada Presiden, Menteri atau pejabat pengurus kehidupan bangsa ini yang perilakunya menunjukkan bahwa ia buruh, bukan majikan. Dulu Raja-raja adalah majikan, karena merekalah yang memiliki tanah dan seluruh asset wilayah kekuasaanya. Tapi sejak dipakai konsep Republik dan Demokrasi, para pejabat di atas sungguh-sungguh adalah PRT rakyat. Sebab seluruh tanah dan air dan segala isinya ini milik rakyat.

Sawah, lembah, sekawanan kerbau dan anak-anak petani.

Kerancuan berpikir tentang kebo-gudel ini tercermin pada semua sisi ketata-negaraan, birokrasi, pasal-pasal hukum dan aturan-aturan. Belum pernah ada Presiden atau Menteri yang perilakunya mencerminkan bahwa ia mengerti beda antara Negara dengan Pemerintah, sehingga seluruh aplikasi governance-nya juga jungkir-walik dan pating gedabyah. Kepala Negara disamakan dengan Kepala Pemerintahan, Ketua Lembaga Negara dilantik oleh Kepala Pemerintahan. Uang Keluarga langsung masuk ke Kas Rumah-tangga, karena tidak mengerti beda antara Keluarga dengan Rumah-tangga. Maka dari Istana Negara sampai Kelurahan hingga gubuk-gubuk rakyat juga tidak ada organisasi dan organisme yang tidak pethal-pethal, mur-nya tidak kompak dengan baut, setir mengarah ke kanan, roda kiri ke depan terus, roda kanan belakang mandeg, sementara businya masuk penjara dan bensinnya pindah ke kendaraan lain tanpa juntrungan yang jelas.

Aslinya sudah tidak ada denotasi atau padatan parameter pada setiap kata yang populer sehari-hari: Nasionalisme, Negara Kesatuan, Keutuhan Bangsa dan Negara, Pileg, Pemilukada, Pilpres, Parpol, Ormas, pembangunan, standar ekonomi, persatuan dan kesatuan, atau apapun saja, karena sudah berposisi ‘najis mugholladhoh’ secara akal.

Pasti Seminar ini bukan forum yang tepat dan cukup untuk membicarakan dan memperdebatkan itu. Tetapi saya memakainya sebagai rujukan makro, karena saya menemukan nuansa dan spirit bahwa para penggiat industri pariwisata, minimal di Borobudur Nusantara ini, memiliki iktikad maksimal untuk melakukan reproporsionalisasi kebo-gudel-nya, serta menemukan akurasi kinerja dan ketepatan pasarnya.

Para penggiat pariwisata tidak bisa menunggu “revolusi nasional” untuk lebih bangkit kinerjanya, life must go on. Sekarang juga beliau-beliau harus mengkreatifi, mencerdasi, mengarifi kinerjanya dalam prinsip otonomi-relatif, teguh namun tetap dengan keluwesan di tengah ‘syubhat’ sistem dan tatanan bernegara.

Dan terus terang, puji Tuhan, Alhamdulillah, khususnya pada pengelolaan Borobudur ini, saya bersyukur menemukan bahwa para penggiatnya sesungguhnya sudah secara naluriah menyadari “kekhilafan nasional kebo-gudel” itu dan sudah berlaku sebagai gudel yang dinamis, sangat membuka diri, serta punya kerendahan hati untuk belajar.

Sepasang boneka pengantin "Loro-Blonyo", simbol keharmonisan hidup orang Jawa.

4. Buntut Sapi dan Hidung Mancung
Di seantero permukaan bumi ini tidak ada wilayah yang kekayaan kebudayaannya menyamai, apalagi melampaui, kepulauan yang sementara ini ditata sebagai Negara Kesatuan. Akan tetapi industri pariwisata bangsa ini jauh kalah berkilau dibanding misalnya Malaysia yang relatif tidak punya apa-apa. Malaysia hanya salah satu ‘provinsi kebudayaan’ Nusantara, apalagi Singapura adalah sebuah kecamatan ‘rancu budaya’ di tengah sorga Nusantara.

Diperlukan 100 disertasi tebal para doktor dan 500 seminar untuk memaparkan kekayaan Kebudayaan Nusantara. Tetapi ada satu aksentuasi substansial yang dari wacana di atas bisa saya ambil: Negara Kesatuan ini menjadi wilayah ‘inferior’ di tengah peta dunia, dalam hal politik, kebudayaan dan pariwisata.

Dalam konteks saya, hal itu saya tuliskan, antara lain disebabkan karena kebo-nya di-gudel-kan. Lebih kontra-produktif lagi karena gudel-nya meyakini bahwa dirinya adalah kebo.

Andaikan pandangan dan filosofi dasar kebo-gudel ini thok saja bisa kita jadikan ‘file’ bersama untuk direnungi pada sejumlah rentang waktu, siapa tahu bisa menjadi benih yang menyemaikan pepohonan karya yang berhamparan buah-buahnya di masa depan.

Oleh gudel industri pariwisata Negara Kesatuan, kebo kebudayaan Nusantara di-pletheth-plethet, diodot-odot, dicuil-cuil, diteknokrasi menjadi sobekan-sobekan, agar ‘manak duwit’, padahal tidak ada gudel yang manak.

Atau industri pariwisata berlaku seperti warung sop buntut: dari keseluruhan badan sapi hanya diambil buntutnya saja. Padahal buntut itu laku kalau ia adalah buntut sapi.

Maka yang primer harus dipelihara oleh warung sop buntut, terutama apalagi oleh ‘Pemerintahan Pariwisata’: adalah kehidupan sapi. Sebab, pertama, tidak mungkin beternak buntut. Kedua, kalau sapi yang diprimerkan, buntutnya otomatis akan menjadi ‘anak ekonomi’ yang produktif.

Aneka ragam keris pusaka yang biasanya berupa sepasang "curiga" dan "warangka".

Kata orang-orang tua, kalau berdagang jangan sibuk cari uang. Konsentrasilah menjadi manusia pedagang yang bisa dipercaya oleh para rekanan dan konsumen. Yang bikin mereka merasa aman dan nyaman bekerjasama denganmu. Yang membuat setiap orang bersyukur ada engkau. Yang membuat semua orang percaya dan bergembira membeli sesuatu dari atau berurusan apa saja dengan engkau. Yang melayani semua partner dan konsumen tidak dengan konsep untuk mengeruk dan menguras duit mereka –melainkan untuk supaya mereka merasa engkau hormati sebagai sesama manusia– sehingga merekapun murah hati kepadamu.

Kalau engkau nguwongke (bukan nduwitke) mereka, maka dengan sendirinya pada diri mereka tumbuh kelapangan batin, sehingga tidak terlalu menghitung-hitung pengeluarannya –kecuali beberapa manusia jenis hewan rakus. Bahkan Tuhanpun pakai logika “kalau engkau menghitung-hitung kemurahan-Ku, maka Aku pun akan menghitung-hitung dosamu”.

Itulah yang disebut “uang mengejar kita”. Sebab kalau “kita mengejar-ngejar uang”, menjadi rendahlah martabat kemakhlukan kita. Dalam jangka panjang hati setiap orang akan menggerundal dan pelit kepada kita –sehingga hanya sedikit duit juga yang sudi mampir di kantong kita. Tentu saja ini tidak berlaku kalau patrap kita adalah meniati berdagang sebagai penipuan, kelicikan, keculasan yang tampil halus, pencurian yang tersembunyi dan keserakahan yang penuh sopan santun.

Maka wahai Borobudur, Prambanan, Bali, Yogya dan semua, tampillah tidak sebagai penggalan barang jualan, tapi sebagai bagian dari Kepribadian Kebudayaan Nusantara. Semancung-mancung hidung, seindah-indah bola mata, semanis-manis bibir, tak akan ditemukan orang, indahnya, mancungnya, dan manisnya kalau tidak menyatu dalam keutuhan wajah.

Topi perang, baju perang, senjata perang hasil karya Budaya Nusantara.

5. Pusaka Nusantara
Minimal untuk teman-teman Borobudur, secara khusus saya menyampaikan semacam ‘bonus perhatian’, yakni berupa permohonan agar sahabat-sahabat Borobudur itu tidak hanya mendasari pengelolaan pariwisata Borobudur dengan kesadaran kebudayaan dengan keutuhan dan kemenyeluruhannya, tetapi juga memahami Borobudur sebagai Pusaka.

Kita mulai sedikit membuka pintu ruang remang-remang yang berisi Pusaka-pusaka Nusantara, yakni Pusaka-pusaka Para Satria. Borobudur adalah salah satu Pusaka Utama Nusantara, yang membuat dunia menyadari bahwa Bangsa yang mampu membangun Pusaka Utama sedahsyat itu adalah Bangsa Satria.

Bangsa yang hilang Satria dari kepribadiannya, jangankan menjaga miliknya, menjaga dirinya sendiri pun semakin tak bisa: sehingga kemungkinannya tinggal menyerah kepada Sekutu Penjajah yang merupakan ‘lelaki’ pelacur dunia yang mem-Polisi-i dunia dengan wajah Malaikat —asal pemuka-pemukanya bisa makan enak, sehingga nyaman dipekerjakan untuk memelihara ketidaktahuan rakyatnya bahwa mereka sesungguhnya sedang dijajah.

Pusaka adalah suatu benda, peristiwa atau nilai-nilai, yang sudah menyatu dengan atau menjadi bagian sakral dari jiwa kehidupan manusia, karena keterikatan sejarahnya atau karena fungsi dan makna kualitatifnya. Ia berposisi sangat mendalam, bermakna sangat meluas, bersifat abadi dan tidak boleh tidak ada.

Demikian pulalah salah satu sisi makna Borobudur. Ia adalah salah satu Pusaka utama Bangsa Nusantara, berdampingan dengan sejumlah Pusaka lain yang juga sama pentingnya.

Jiwa tanpa pusaka, adalah kematian dalam kehidupan. Pusaka bisa ‘rupadatu’ bisa juga ‘arupadatu’. Bisa kasat mata, bisa tidak kasat mata. Bisa dipandang dengan mata jasad, atau hanya bisa direnungi dengan mata jiwa.

Kita semua mengetahui yang ‘rupadatu’ pasti menyimpan dimensi ‘arupadatu’, sementara yang ‘arupadatu’ bisa tidak mewujud pada ‘rupadatu’ apapun.

Kalau diparalelkan dengan peta pengetahuan Agama Islam umpamanya, tidak ada Syariat yang hidup tanpa Hakekat, tetapi bisa saja ada Hakekat yang tanpa Syariat. Jika orang menjalani Agama tanpa manajemen pemahaman yang dewasa terhadap kedua dimensi tersebut, maka akan terjadi kekacauan individu dan kekisruhan sosial sampai ke level hancurnya sebuah Negara bahkan Perang Dunia.

Borobudur bisa saja laku, tapi sangat murah, kalau yang disosialisasikan hanya ‘syariat’nya. Borobudur akan meluas ‘pasar’nya (wilayah apresiasi atasnya) kalau penduduk Bumi engkau kabari tentang dimensi-dimensi ‘hakekat’nya. Dan jalan untuk itu adalah meletakkan Borobudur sebagai bagian yang utuh dari sejarah Kebudayaan dan Peradaban Nusantara, tidak sekedar menawarkan ‘close up jasad’ Borobudur plus sejarah ‘teknis’nya belaka.

Lukisan Candi Borobudur karya Maestro Pelukis Indonesia, Affandi.

6. Pusaka Satria
Sejak abad 16-17 Masehi, mulai merapuh watak Satria di Bumi Nusantara, yakni sejak persentuhan dengan para perompak Portugis dan kemudian masuknya VOC. Ini kisah agak berlipat, yang tidak ada ruang untuk saya analisis di sini. Tetapi yang penting, akibat logisnya adalah semakin rendah mutu pemahaman bangsa penghuninya tentang Pusaka. Sebab Satria dan Pusaka adalah dua wujud kehidupan yang bersuami-istri. Bahkan bangsa ini bangga menyebut dirinya sebagaimana Tuan Penjajah memberinya nama.

Saya menganjurkan agar sedikit meluangkan waktu untuk mempelajari kembali sejumlah khasanah ‘kasepuhan’ Nusantara, misalnya idiom ‘Satria’, ‘Brahmana’, ‘Sudra’, di samping ‘Kawulo’, ‘Gusti’ dlsb tetapi tanpa ‘sentimen’ Agama atau cara pandang subyektif-linier dari institusi keyakinan apapun. Dipelajari secara murni dengan ilmu kejujuran dan kesejatian pengetahuan.

Tengoklah umpamanya kenapa di abad 7-8 Masehi, masuknya Islam tidak banyak diterima oleh Bangsa Nusantara? Karena yang membawa adalah golongan manusia yang dipandang terendah. Tetapi pada abad 13-14 Masehi, Islam diterima beramai-ramai karena yang membawanya adalah kaum ‘Brahmana’, suatu kualitas kepribadian manusia yang oleh bangsa Nusantara dijunjung paling tinggi.

Bandingkan dengan pandangan umum bangsa yang sekarang ini, dimana yang dipandang tertinggi sehingga dicita-citakan dan diupayakan dengan segala kejahatan dan keculasan oleh sangat banyak orang adalah: menjadi Orang Kaya. Baru kemudian ada urutan di bawahnya: Orang Berkuasa, kemudian Orang Berkekuatan, kemudian Orang Terkenal, kemudian Orang Pandai, dan akhirnya, yang terendah: Orang Baik. ‘Brahmana’ itu asor, paling rendah. Orang suci, orang baik, itu dihina. Kalaupun massa menjunjung ‘orang baik’, itupun hasil tipudaya nasional dan global.

Bangsa ini, di zaman yang ini, berhubungan dengan Tuhan (siapapun nama-Nya dan apapun konsep tentang-Nya) hanya dalam soal penambahan uang dan kekayaan, yang mereka sebut rizki. Tuhan ‘dikasih jabatan’ sebagai Kepala Dinas Penambah Keuntungan Keduniaan di bidang Harta dan Jabatan. Tuhan diperlukan untuk meningkatkan laba, sehingga kalau manusia rugi ia menyimpulkan Tuhan tidak adil. Ketika berangkat melakukan sesuatu atas nafsunya sendiri, orang tidak ingat dan tidak melibatkan Tuhan –nanti ketika mendapat ancaman, mendadak Tuhan yang dimintai tolong.

Candi Borobudur yang dilihat dari atas merupakan simbol Mandala Sambhara Budhara.

Secara pribadi selama puluhan tahun saya bersama masyarakat saya melakukan ‘sesaji’ kepada Tuhan agar dengan seluruh situasi dan sikap durhaka bangsa ini —Tuhan tidak lantas mencabut Pusaka Nusantara dari kita semua. Tetapi sampai hari ini orang-orang terus ‘pringisan’ dan ‘cengengas-cengenges’ seolah-olah besok, lusa, bulan dan tahun sesudah sekarang segala sesuatunya akan baik-baik saja. Bangsa ini sungguh-sungguh tidak menyadari apa yang dihadapinya di kegelapan waktu yang mereka songsong.

Maka dari Borobudur hari ini sahabat-sahabat saya ‘eling lan waspodo’ kembali, mengingat dan menyadari bahwa bangsanya sungguh-sungguh jangan sampai kehilangan Pusaka secara total. Bangsa ini menjalani hidup tanpa ‘orangtua’, sejarahnya tanpa ‘sesepuh’, Pemerintahannya tanpa Negarawan, Kepemimpinannya tanpa Begawan.

Bangsa ini sibuk dengan ‘Pisau Dapur’, karena sudah tidak mengerti “Keris”, bahkan bersikap kejam dan lalim kepada makna Pusaka. Sementara sebenarnya ‘Pedang’-pun mereka sudah tidak benar-benar punya. Bangsa ini tidak punya pertahanan intelektual, pertahanan mental, pertahanan kultural, juga tidak punya pertahanan politik dan militer.

Tinggal satu daya tahan, yakni rahasia energi sisa peradaban batin di kandungan jiwa mereka, yang Dunia belum benar-benar menemukan dan memahaminya, meskipun bangsa ini sendiri di permukaan kesadarannya pun tak percaya kepada rahasia pertahanannya sendiri. Bangsa ini masih memendam Pusaka di lubuk jiwanya. Pusaka itu belum benar-benar sirna, meskipun mereka sendiri tidak menyadarinya.

Pusaka bisa merupakan hadiah dari Tuhan kepada manusia atau suatu bangsa, yang manusia dan bangsa lain dihadiahi pusaka yang berbeda. Sewaktu-waktu, dengan pertimbangan-Nya yang Maha Lembut dan Adil, Dia berhak mencabut Pusaka rahasia itu dari kehidupan Bangsa Nusantara.

Pusaka bisa juga merupakan hasil atau buah dari budi-daya manusia atau bangsa, individu maupun kolektif, hasil kreativitas, ijtihad, uthak-uthek dan iguh-pertikel yang kelak menjadi wajah Peradaban. Bisa juga pusaka merupakan gabungan atau harmoni antara hadiah Tuhan dengan kecerdasan dan keindahan budi manusia yang mengupayakan perwujudannya. Tetapi sebagaimana Otak, ia tidak bisa berfungsi sebagai pikiran jika Tuhan tidak memancarkan Gelombang Akal di ubun-ubun kepala setiap manusia. Manusia bisa bikin ‘Pusaka’, tapi ia baru benar-benar bermakna dan berfungsi sebagai Pusaka (tanpa tanda petik) kalau Tuhan merestui, minimal mengizinkan dan melantiknya.

Candi Plaosan dengan Arca Gupala di sebelahnya.

7. Peradaban, Kebudayaan dan Negara
Bangsa ini, terutama kaum elite dan kelas menengahnya dari bidang apapun, terutama bidang keagamaan, semakin tidak mengerti kebudayaan. Tidak mau memahami apa itu kebudayaan, asal-usulnya, sangkan-paran-nya, letaknya, konteksnya, nuansanya, serta segala dinamika kepastian dan kemungkinannya.

Apalagi Pusaka. Dan sia-sia kalau engkau mencoba menjelaskan Kebudayaan dan Pusaka kepada siapapun yang tidak mengerti, apalagi tidak mau mengerti Kebudayaan dan Pusaka. Tidak rasional untuk menjelaskan merah hijau biru kepada orang yang bukan hanya buta warna, tapi juga meyakini bahwa dalam hidup ini hanya ada hitam dan putih.

Akan tetapi pada saat yang sama kalau orang yang tidak paham Kebudayaan dan Pusaka engkau tuntut untuk mempedulikan apalagi menghormati Kebudayaan dan Pusaka, itu tindakan yang tidak relevan juga. Mudah-mudahan di antara bangsa ini masih cukup banyak orang-orang melek yang belajar kepada orang buta, serta orang-orang buta yang belajar kepada orang melek.

Bangsa ini hidup dan menjadi bagian dari Negara tanpa Pusaka. Pemerintahan tanpa Negarawan. Perundingan hanya oleh Perwakilan, sedangkan ‘Permusyawaratan Rakyat’ dimandulkan. Bangsa Nusantara gugup dan tergesa-gesa membikin Negara. Sehingga Negara bukan merupakan akselerasi historis Kebudayaan dan Peradabannya. Seperti orang bikin buah-buah dari plastik: Negara ini dibikin dengan landasan berpikir, akar filosofi dan sistem, bahkan tata-hukumnya, yang diimport dari bangsa lain yang Peradabannya jauh lebih muda dibanding ‘kasepuhan’ Bangsa Nusantara, tidak empan-papan akar nilai-nilainya, bahkan serta merta Negara ini berdiri dengan membuang kekayaan nilai masa silamnya secara bertahap.

Bangsa ini merasa baru lahir pada tahun 1945. Berposisi di muka Bumi seperti anak hilang yang terbuang di jalan, kemudian disantuni oleh dunia, dan sekarang berkembang menjadi remaja yang inferior mentalnya, tidak percaya kepada dirinya sendiri, tidak mengenal asal-usulnya, meyakini segala yang dari Luar Negeri adalah kemajuan dan segala yang dari masa silamnya sebagai ‘masa silam’, sebagai ‘tradisi’ yang harus ditinggalkan karena rendah, primitif dan serba penuh keterbelakangan.

Demikian.

Ini semua hanyalah sebuah awal dari tulisan yang sangat panjang, suatu penelitian yang pasti melelahkan dan perenungan yang sangat mendalam –dan tidak mungkin saya meneruskannya di sini. Dan lebih tidak mungkin lagi saya sosialisasikan ini semua (kecuali buat anak cucu dan masyarakat saya sendiri) karena tampaknya bangsa ini memang sudah puas dengan keterbudakan dan keterjajahannya seperti yang semakin menyempurna sejak hari ini.

Yogyakarta, jam 00.36 WIB, 22 Agustus 2014

Muhammad Ainun Nadjib
http://kenduricinta.com/v4/pusaka-satria/

29 Juli, 2013

Baina Bugisan Wa Berlin


Bagaimana proses pendewasaan, antara lain yang menyangkut soal pemikiran keislaman kelompok mahasiswa Muslim di Berlin Barat serta beberapa tempat lain di Eropa Barat, sampai saat ini saya terus menempuh kemungkinan untuk karib dengan mereka: tulisan ini merupakan kesan-kesan yang besok pagi mungkin bisa berkembang atau berubah.

Orang sudah berada di antara bintang-bintang, cita-citanya tak tinggi lagi. Tapi kini, umat Islam berada justru di awal kebangkitan dari suatu kejatuhan yang panjang dalam sejarahnya. Keadaan ini menentukan psikologi kita untuk selalu berharap terlalu banyak dari setiap gejala. Psikologisme semacam ini, juga yang menghinggapi saya kapan saja berhadapan dengan kegiatan kelompok Muslimin. Kita adalah fuqoro, yang memimpikan Allah al-ghoniy, al-mughniy, bisa dibuktikan betul oleh kreativitas pemikiran dan gerak kaum Muslimin. Barangkali, secara pribadi saya bukan Muslimin yang cukup baik, maka idaman saya akan hal tersebut justru amat tinggi dan mewah serta meningkat terus-menerus.

Banyak kegembiraan, namun juga kecemasan dan kengerian, bertemu dengan pelarian-pelarian bekas Muslimin Iran, atau para pekerja keluarga Turki dan Maroko di Eropa Barat namun juga bergaul dengan kelompok Muslimin dari Indonesia menyodorkan kegelisahan tersendiri.


Ketika datang di Berlin, saya sebenarnya diundang oleh Kelompok non-agama, yang dikenal sebagai “kiri-progresif”. Segera saya mengalami ketegangan dan kekisruhan hubungan antara kelompok mahasiswa kita di Berlin itu: suatu cermin khas dari heterogenitas ideologi masyarakat Indonesia. Masing-masing bilang ‘kita’ dan ‘mereka’. Masing-masing mengecam masing-masing lainnya. Yang satu menganggap lainnya musuh –dan saya adalah teman dari semuanya yang ‘diminta’ untuk memusuhi kelompok lain.

Itu suatu kisah tersendiri. Yang penting, dalam waktu sebulan di kota itu saya berdiskusi, pengajian dan ‘rapat’ sebanyak empat kali dengan kelompok mahasiswa Muslimin. Disertai banyak ketegangan, lirik-lirikan, pelotot-pelototan di tengah konstelasi Indonesia kecil yang memang ruwet itu –toh saya mencatat suatu perkembangan yang menggembirakan pada kelompok Muslimin tersebut.

Perjuangan mereka –sesungguhnya– bagaimana syari’at Islam bisa survive dalam kehidupan mereka di tengah kota metropolit itu. Mereka mengadakan pengajian rutin, belajar baca Quran, kemudian menata etik-akhlaq keislaman diantara mereka. Sedemikian rupa sehingga belum bisa diharapkan integritas yang lebih luas dengan lingkungannya yang multi nilai, atau bagaimana mereka mengembangkan pemikiran Islam, mereka menanggapi tata nilai lingkungan yang amat menantang itu. Maka bisa dimaklumi kalau keagamaan mereka cenderung formalistik. Waktu tak banyak, sibuk kuliah dan memikirkan hal-hal yang teknologis sifatnya.

Maka sesungguhnya, saya telah salah duga. Islam belum tampil dalam percaturan nilai: kaum Muslimin kita itu sangat defensif dan baru berjuang untuk survive.


Teringat saya sehabis menulis tentang kecenderungan paternalistik di kalangan umat Islam Indonesia, saya memperoleh undangan mengejutkan dari anak-anak muda kampung Bugisan Yogya –untuk mendengarkan ceramah rutin yang mereka selenggarakan. Itu ceritanya di awal tahun 1984.

Saya datang, dan menjumpai sesuatu yang amat mengharukan hati dan merangsang rasa syukur kepada Allah. Di malam Minggu, anak-anak muda, gondrong, berkumpul di sebuah rumah kecil, bersama-sama meniti secara sistematis nilai-nilai Islam. Mereka menguliti kembali dasar-dasar nilai Islam serta memotretnya pada manusia dan masyarakat, dalam suatu skema dan kronologi yang rapih. Di tengah galau zaman, di tengah tekanan-tekanan ekonomis, politis dan ideologis di negeri ini, mereka kembali ke al-Quran dan as-Sunnah. Mereka dengan tekun dan sabar membangun diri dan mengembangkan kreativitas pikiran keislaman, karena menyadari betapa problem-problem sejarah masa kini membutuhkan jawaban kongkrit. Suatu kerja yang panjang, amat panjang, namun ketekunan semacam itu yang memang sekarang kita butuhkan –ketka lembaga persekolahan tidak mengajarkannya, ketika struktur kekuasaan negara membimbing ke yang sebaliknya, dan ketika udara lingkungan kemasyarakatan abad ini makin berbau Abu Jahal.

Pertumbuhan semacam itu, anak-anak muda yang mandiri mempelajari Islam, ternyata cukup gencar di Indonesia. Mereka tak tinggal frustasi oleh krisis kepemimpinan di kalangan umat Islam. Mereka mendidik diri, mungkin tidak untuk menjadi pemimpin, tapi setidaknya mengisi aspirasi-aspirasi kepemimpinan Kaum Muslimin. Bersamaan dengan itu, perkembangan pemikiran Islam menaik dengan pasti di Indonesia, meskipun memang masih semrawut dan belum ‘terkoordinasi’ –tanpa diketahui oleh mass media, karena mass media kita terlalu sibuk dengan isu semu tentang ‘semangat negara Islam’, ‘Islam sempalan’, atau kebodohan untuk mentransfer revolusi Khomeini secara verbal.


Dari wawasan ini, dari tanah air saya ke Berlin, tentu saja dengan mimpi yang muluk dan penasaran. Tetapi, toh saya melihat perkembangan yang bagus. Sehabis berdiskusi melebarkan proyeksi nilai-nilai Islam ke masalah-masalah sosial, berulangkali, sehabis menatap dharuroh problem masyarakat Indonesia dan menatapnya dari kacamata Islam –perlahan-lahan mereka mulai membuka pintu dan jendela.

Dari kotak formalistik mereka mulai melihat keluar dan menyadari bahwa dunia begitu luas, dimensi gejala begitu multi, tantangan terhadap Islam jauh lebih kompleks dibanding menyembelih ayam tanpa Bismillah.

Mereka mulai melihat jarak antara ‘negara’ dan ‘bangsa’. Mulai menginsyafi bahwa Quran, Hadits bukan hanya mengurus doa, berwudlu dan berapa derajat ke tenggara arah kiblat. Namun, nilai Islam sangat berkaitan juga dengan ke mana larinya kilang minyak, mengapa hutan seluas itu terbakar, atau kenapa harga semangkok soto di Kecamatan Rejosari hanya 75 perak, tapi di Surabaya bisa sampai 250 perak.

Terakhir, saya terlibat dengan mereka dalam diskusi tentang pengemis. Menguliti problem itu secara struktural, dan merencanakan untuk bikin organisasi kecil buat ikut menolong orang-orang malang itu.

Emha Ainun Nadjib
Den Haag, 16 Desember 1984