Tampilkan postingan dengan label Anies Baswedan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anies Baswedan. Tampilkan semua postingan

23 Februari, 2019

Berbohong atau Kalah


Politik di Indonesia sungguh luar biasa. Dalam perdebatan paling prestisius sekalipun, yang melibatkan dua Capres RI, data tidak akurat berhamburan. Data dari BPS, Badan Nasional Penanggulan Bencana (BNPB), dan Ombudsman diabaikan.

Memang menyedihkan, sebab data yang akurat adalah fondasi bagi penyusunan APBN, program pembangunan, dan kebijakan pemerintah di hampir semua bidang. Dengan kata lain, pengabaian terhadap akurasi data, sama saja dengan mengelola negara sambil menutup mata. Kebijakan dan program pembangunan dibuat berdasarkan spekulasi atau insting belaka.

Bisa jadi, hal inilah yang menyebabkan berbagai proyek super mahal setelah rampung dihadapkan pada dua pilihan: disubsidi atau mati. Di antaranya adalah proyek kereta ringan LRT Palembang, kereta api Bandara Cengkareng, jalan tol Trans Jawa, dan Bandara Kertajati yang juga terbesar kedua di Indonesia. Keempatnya di bawah tekanan keuangan yang berat karena biaya operasional jauh lebih tinggi dari pendapatan.

LRT Palembang, melintas disamping jembatan Ampera.

Masalah ini tentu tak akan muncul bila para pemangku kepentingan dilibatkan dalam perencanaan dan proses pembangunan. Pemerintah tampaknya asyik dengan perhitungannya sendiri, yang berbeda bahkan bertolak belakang dengan milik para pemangku kepentingan.

LRT Palembang yang pembangunannya menelan Rp10 triliun, kini membutuhkan subsidi sekitar Rp 9 miliar per bulan. Ini karena biaya operasionalnya sangat fantastis, yaitu Rp 10 miliar per bulan, sedangkan penghasilannya hanya Rp 1 miliar.

Tak jelas kapan LRT ini bisa beroperasi normal karena kota Palembang hanya berpenduduk 1,5 juta jiwa dan tak didera kemacetan.

Kereta api mewah Bandara Cengkareng, yang pembangunannya menelan lebih dari Rp 5 triliun, tak kalah parah. Hanya sekitar 5 sampai 10 penumpang dalam setiap perjalanan. Inilah mengapa presiden Jokowi telah meminta Gubernur DKI, Anies Baswedan, untuk memberi subsidi.

Kereta Mewah Bandara SOETTA, Cengkareng.

Anies belum memberi jawaban. Sedangkan Gubernur Sumatera Selatan telah menyatakan tak bersedia memberi subsidi karena LRT bukan milik Pemda.

Jalan tol Trans Jawa tak lebih baik karena ditinggalkan oleh para pengemudi truk dan bus. Mobil pribadi juga banyak yang lebih suka memakai jalan Pantura. Inilah mengapa, setelah Pejagan dari arah Jakarta, jalan super mahal ini selalu sepi. Alasan mereka para pengguna, termasuk kereta Bandara, sama: Tiketnya terlalu mahal.

Sementara itu Bandara Kertajati hanya melayani 16 penerbangan setiap hari. Padahal Bandara lain yang lebih kecil seperti Juanda dan Kualanamu melayani ratusan penerbangan per hari.

Bagaimanapun juga, dalam debat capres terakhir, penghamburan data yang sangat tidak akurat bisa saja sengaja dilakukan. Sebab debat ini menarik perhatian sangat besar dari rakyat di seluruh pelosok tanah air. Maka tepuk tangan lebih diutamakan ketimbang data yang akurat.

Bandara Internasional Kertajati, Majalengka, Jawa Barat.

Strategi ini tampaknya didasari oleh perhitungan bahwa para penonton sudah sangat fanatik pada idola masing-masing. Sebagaimana umumnya orang fanatik, mereka hanya mau mendegar dan melihat apa yang ingin mereka lihat dan dengar. Seperti dikatakan oleh filsuf Jerman Friedrich Nietzsche, “kadangkala (di Indonesia 'banyak') orang tak mau mendengar kebenaran karena tak mau ilusinya hancur.”

Maka tak mengherankan bila dalam debat capres terakhir, muncul data tak akurat, seperti tak terjadi kebakaran hutan dalam beberapa tahun belakangan, pembangunan 191 ribu kilometer jalan desa, produksi padi surplus 2,8 juta ton, impor jagung hanya 180 ribu ton, hampir tidak ada konflik lahan, dan Prabowo menguasai 340 ribu hektar tanah di Kalimantan Timur dan Aceh.

Ketidakakuratan data di atas bisa saja tak berpengaruh pada elektabilitas karena fanatisme sudah demikian hebat. Namun, hal itu memberi pengetahuan lebih jelas kepada masyarakat kenapa berbagai kebijakan pemerintah meleset dari sasaran. Mereka menjadi lebih paham kenapa rupiah loyo bekepanjangan, defisit neraca perdagangan kian menganga, bayi kerdil akibat kurang gizi meningkat, pangan impor terus membanjir dan sebagainya.


Dalam hal ini, apa yang pernah diungkapkan Friedrich Nietzsche perlu disimak serius oleh politisi agar menjauhkan diri dari data tidak akurat. Ini karena menebarkan data tidak akurat bisa dianggap sebagai kebohongan, dan bisa membuat pendukung setianya kehilangan kepercayaan. “Saya tidak marah karena kamu berbohong kepadaku. Tapi saya marah karena mulai sekarang saya tidak bisa mempercayai dirimu lagi.”

Namun di Indonesia, sebagaimana di negara lain, kebohongan masih dianggap sebagai senjata ampuh oleh para politisi. Maka LOL yang di dunia maya adalah “lough out loud” (tertawa ngakak), di dunia politik bisa diplesetkan menjadi “lie or lose” (berbohong atau kalah).

Sejarah pun diabaikan meski telah terbukti bahwa popularitas seorang politisi bisa rontok karena dianggap pembohong oleh rakyatnya. Salah satu contohnya adalah Presiden Perancis periode 2007-2012, Nicolas Sarkozy.

Presiden Perancis (2007-2012), Nicolas Sarkozy.

Di awal kepresidenannya Sarkozy adalah presiden paling populer setelah Charles de Gaulle. Rakyat Perancis menyambut hangat kemenangannya karena janjinya yang meyakinkan untuk memerangi pengangguran.

Popularitasnya meredup dengan cepat sehingga gagal menjadi presiden dua periode karena dianggap pembohong oleh rakyat Perancis. Biang keladinya adalah meningkatnya angka pengangguran, sementara orang kaya makin kaya akibat pemotongan pajak oleh pemerintah. Kenyataan ini mengingatkan pada kata filsuf Perancis Jean-Paul Sartre, “ketika orang kaya berperang, yang mati adalah kaum miskin.

Hanya saja, seperti dituturkan seorang filsuf Jerman Georg Wilhelm Friedrich Hegel, “kita belajar dari sejarah bahwa kita tidak belajar dari sejarah.” Nah!

Gigin Praginanto
Wartawan Senior,
Pengamat Kebijakan Publik
19 February 2019
https://www.watyutink.com/topik/berpikir-merdeka/Berbohong-atau-Kalah

20 Juni, 2018

Malumologi Sorakan Terhadap Anies


Masih terhanyut suasana saling memaafkan nan indah permai pada hari kedua Idul Fitri, saya terhenyak ketika menyimak dua naskah yang dimuat sebuah media online.

Dua naskah menghenyakkan itu yang satu berjudul “Dimensi Politik Menjijikkan di Istana Bogor, pada Hari Raya” tulisan Pradipa Yoedhanegara dan yang satunya lagi berjudul “Self Defeating Disorder” tulisan Zeng Wei Jian.

Kedua naskah tersebut merupakan ulasan terhadap suatu peristiwa yang terjadi pada acara Open House Idul Fitri di Istana Kepresidenan di Bogor.

Pada saat itu ada sekelompok (tidak semua) masyarakat yang sedang antri mengucapkan Selamat Lebaran kepada Presiden Jokowi, menyoraki Gubernur Anies Baswedan yang juga datang ke Istana Bogor untuk mengucapkan Selamat Lebaran kepada Presiden Jokowi.


Kelas Langitan
Kedua penulis naskah sama-sama mengulas sorakan terhadap Gubernur Anies pada acara Open House Idul Fitri di Istana Bogor. Meski sama sasaran, namun ulasan mereka berdua tak serupa gaya dan sisi. Pradipa mengulas masalah secara lembut dan membelai dari sisi kultural sementara Zeng mengulas masalah secara tajam dan menusuk dari sisi psikologi gangguan mental.

Pradipa menyayangkan peristiwa yang disebutnya dimensi politik menjijikkan sebagai suatu peristiwa yang memalukan sebab merusak keindahan suasana saling memaafkan lahir-batin pada masa Lebaran.

Zeng mengasihani para pendukung Ahok yang menderita gangguan mental sehingga tidak mampu beranjak move on akibat terjebak dendam kesumat akibat junjungan mereka telak dikalahkan Anies pada Pilkada Jakarta gara-gara mayoritas warga Jakarta lebih suka Anies ketimbang Ahok.

Sementara Pradipa mendambakan “Das Sollen” , Zeng menertawakan “Das Sein”. Namun terlepas gaya dan sisi ulasan mereka berdua, saya menghormati dan menghargai Pradipa Yoedhanegara dan Zeng Wei Jian sebagai para penulis kritik sosial kaliber sakti mandraguna kelas langitan.

Pradipa Yoedhanegara (kiri), Anies Rasyid Baswedan (tengah), Zeng Wei Jian (kanan).

Memalukan
Ada dua jenis sorakan yaitu yang melecehkan dan yang memuja. Saya tidak hadir pada saat peristiwa Anies disoraki terjadi di Istana Bogor maka saya tidak mengetahui jenis sorakan tersebut.

Apabila ternyata sorakan terhadap Anies di Istana Bogor bersifat memuja maka berarti Pradipa dan Zen sama-sama keliru tafsir.

Namun andaikata ternyata sorakan terhadap Anies tergolong jenis sorakan yang melecehkan maka saya pribadi sangat berterima kasih kepada para pesorak yang seirama-senada dengan pe-walk out ketika Gubernur Anies pidato atas permintaan panitia perayaan 90 tahun Kolese Kanisius.

Mereka telah berkenan memberikan contoh nyata perilaku memalukan akibat tidak tahu malu. Contoh-contoh perilaku memalukan akibat tidak tahu malu itu sangat berharga demi melengkapi isi buku Malumologi yang sedang saya susun.

Jika ada yang tidak berkenan, maka pada hari kedua Idul Fitri ini saya memberanikan diri untuk memohon maaf lahir dan batin.

Jaya Suprana
Penulis adalah peneliti perasaan yang disebut sebagai malu yang hasilnya akan dimuat di dalam buku MALUMOLOGI
Acara “Menuju Peradaban”
Sabtu, 16 Juni 2018
http://rmol.co/read/2018/06/16/344277/Malumologi-Sorakan-Terhadap-Anies-



Dimensi Politik Menjijikkan di Istana Bogor pada Hari Raya

Open House yang dilakukan oleh Presiden Jokowi pada hari pertama perayaan Idul Fitri 1439 H yang dilaksanankan di Istana Bogor tercoreng, oleh perilaku memalukan dan tidak terpuji para pendukung rezim yang menyoraki kedatangan Gubernur DKI, Anies Rasyid Baswedan yang datang bersilaturahmi kepada Presiden Jokowi.

Momentum Hari Raya seharusnya dijadikan sebagai ajang untuk saling bermaaf-maafan oleh semua pihak karena dengan perayaan Idul Fitri tersebut seluruh umat manusia di muka bumi ini kembali kepada kesucian dirinya yaitu menjadi fitrah kembali seperti bayi yang baru dilahirkan di dunia ini.

Sorakan yang dilakukan oleh para pendukung Presiden Jokowi di Istana Bogor, terhadap Gubernur DKI Anies Rasyid Baswedan, pada Hari Raya Idul Fitri adalah suatu tindakan yang tidak terpuji, sangat memalukan dan mempermalukan kita semua sebagai sebuah bangsa, yang sedang merayakan Hari Kemenangan bagi umat Islam.


Jadi jelaslah kini, perilaku memalukan tersebut sepertinya sudah menjadi budaya bagi para pendukung rezim, sebagai akibat dari kekalahan Ahok pada Pilkada tahun lalu (2017). Dan mungkin juga merupakan bentuk ketakutan para pendukung rezim apabila kelak Anies Rasyid Baswedan berpasangan dengan Prabowo Subianto untuk maju sebagai penantang Presiden Jokowi pada Pilpres tahun 2019.

Perilaku memalukan yang terjadi di Istana Negara tersebut, seharusnya dapat dicegah oleh pihak Paspampres atau pun pihak keamanan lainnya dengan memberikan teguran keras terhadap orang ataupun kelompok yang meneriaki Gubernur Anies. Karena dampak dari cemoohan mereka terhadap Gubernur Anies pada akhirnya semakin membuat Tuan Presiden tergerus citranya di hadapan publik.

Di era digital society seperti saat ini, perilaku seperti itu seharusnya dapat dihindari. Sebab pada akhirnya publik akan menilai para pendukung rezim saat ini bukanlah orang-orang terpuji yang memiliki jiwa dan karakter kenegarawanan. Mereka akan dianggap sebagai manusia pembenci yang selalu menyimpan dendam serta permusuhan. Bahkan di saat umat Muslim di seluruh dunia saling bersilaturahmi dan saling bermaaf-maafan.

Miris sekali perilaku para pendukung rezim yang mengaku paling Pancasilais dan paling mencintai Indonesia, serta merasa paling Bhinneka, tapi ternyata itu semua bohong belaka. Karena jelas sudah perilaku yang mereka pertontonkan di hadapan publik saat Idul Fitri, bukanlah cermin dari sikap seorang Pancasilais yang mencintai NKRI, dan sama sekali tidak menghargai kebhinekaan yang sering mereka suarakan.


Secara pribadi saya ingin menyatakan, perilaku intoleran yang dilakukan oleh pendukung rezim terhadap Gubernur Anies Rasyid Baswedan saat perayaan Hari Kemenangan tersebut, adalah hal paling menjijikkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini. Para pendukung rezim sepertinya tidak tahu bagaimana memaknai Idul Fitri dan menjalin silaturahmi di hari yang dipenuhi rahmat dan karunia dari Sang Khaliq.

Untuk itu sudah selayaknya bila pihak istana membuat pernyataan kepada publik dengan meminta maaf kepada Gubernur Anies, atas sikap konyol yang dilakukan oleh para pendukung Tuan Presiden Jokowi, yang sudah sangat keterlaluan dan berlebihan tersebut. Dan juga telah sangat mencoreng Lembaga Kepresidenan, karena hal tersebut dilakukan di dalam Istana Bogor.

Sebagai pesan penutup, semoga saja agenda open house di acara Hari Raya pada tahun yang akan datang tidak terjadi lagi hal yang memalukan seperti ini. Dan berharap para pendukung maupun relawan #2019GantiPresiden agar tidak mengikuti perilaku tidak terpuji seperti yang dilakukan oleh para pendukung rezim saat ini.

Wallahul Muwaffiq ila aqwami-thoriq,
Wassalamu ‘alaikum Wr, Wb.

Pradipa Yoedhanegara
Sepinggan, 15 Juni 2018
https://pribuminews.co.id/2018/06/15/dimensi-politik-menjijikan-di-istana-bogor-pada-hari-raya/
http://www.swamedium.com/2018/06/15/dimensi-politik-memalukan-di-istana-bogor-pada-hari-raya/2/


Self Defeating Disorder

“Revolusi Mental” itu sukses; soraki Anies-Sandi di Istana Bogor. Clair et distinct (bahasa Prancis, jelas dan terperinci) Tadinya, saya kira “Revolusi Mental” itu berarti makan keong, cabut meteran listrik, tanam cabe sendiri, cacing itu bergizi dan “tawar dong”, sewaktu harga beras meroket.

Tak ubahnya segerombolan simpanse di musim kawin, in tropical jungle, mereka bersuara gaduh. Mereka berbunyi nyaring saat melihat Anies-Sandi memasuki Istana Bogor.

Anies-Sandi datang menghadap Presiden. Bersilaturrahmi kepada Kepala Negara. Sebuah etika pemerintahan. Sebuah adab orang-orang beragama.

Pola tingkah-laku gerombolan “Revolusi Mental” itu persis digambarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-III-R) tahun 1987. Presisi dan akurasinya amazing.

Pola tingkah-laku itu disebut “Self-defeating personality disorder”. Kurang-lebih artinya “kerusakan mental orang-orang yang kalah”.


Ya, mereka kalah dua digit dalam Pilkada Jakarta. Sakitnya tuh di sini. Riset menyatakan amarah menstimulasi bagian-bagian otak. Amygdala mengaktivasi hypothalamus. Akhirnya, pituitary triger sekresi hormon-hormon cortisol, adrenaline dan noradrenaline.

Bila terus-terusan marah, mereka bisa gila permanen. Semuanya bermula dari “Self-defeating personality disorder” itu.

Ada beberapa indikasi; mereka “chooses people and situations that lead to disappointment, failure, or mistreatment” dan “rejects opportunities for pleasure, or is reluctant to acknowledge enjoying themselves (despite having adequate social skills and the capacity for pleasure)”.

Mereka pilih Anies-Sandi sebagai sumber frustrasi kalah di Pilkada. Proyek-proyek dan mimpi mereka musnah.

Gerombolan ini tolak bantuan sosial dan medis. Anies-Sandi merilis Program Rumah DP 0 (Nol) Rupiah. Tapi mereka lebih memilih hidup dalam kegelapan dendam dan amarah. Kasihan sekali orang-orang ini.

The End

by Zeng Wei Jian
https://www.facebook.com/search/top/?q=Zeng%20Wei%20Jian


Terbuat dari Apa Hatimu, Bang Anies?

Kalau yang menghina pejabat di medsos bisa ditangkap, dipenjarakan. Bagaimana kalau yang menghina secara langsung? Tak terbayangkan.

Tapi Anies Baswedan masih bisa tersenyum ramah saat disoraki oleh relawan lawan politiknya. Kalau saja saya yang “dibegitukan”, apakah saya masih bisa tersenyum lepas? Kayanya nggak mungkin. Begitulah kelakuan norak “sejumlah warga” saat Anies ikut hadir dalam open house yang diadakan oleh Presiden Jokowi di Istana Bogor.

Terbuat dari apa hatimu Bang Anies?

Kejadian ini bukan kali pertama. Anies juga disoraki oleh “kaum tempurung” yang norak permanen saat menghadiri pernikahan putri Jokowi, Kahiyang Ayu di Solo. Namun, Anies masih tetap bisa menebar senyum lepas.


Terbuat dari apa hatimu Bang Anies?

Anies juga dipermalukan saat ditahan oleh Paspampres, nggak boleh ikut rombongan pejabat dalam acara Piala Presiden (ketika itu Persija-Jakarta, juara). Tidak nampak ada kemarahan dalam wajahnya, juga tak ada ucapan bernada marah setelahnya.

Terbuat dari apa hatimu Bang Anies?

Ini indikasi permusuhan, yang menjelaskan sebenarnya keterbelahan warga itu bermula dari kelompok sebelah mana!? Nggak heran kalau belakangan ini kelompok “bani sorak” berencana bikin acara Rembuk Nasional sambil memaki, dan menantang kelompok lainnya. Cuma bisa bilang, rembuk ndasmu!

Balya Nur
Penulis adalah pegiat media sosial
http://www.swamedium.com/2018/06/16/terbuat-dari-apa-hatimu-bang-anies/

16 November, 2017

Prahara Kanisius: Sebuah 'Noda' Demokrasi


Di dalam psikoanalisis ada penyakit namanya “prolonged infantilism” yaitu masa kanak-kanak yang kelamaan. Virus ini dapat dikenali pada diri seseorang atau sekelompok orang yang sulit move on. Contoh misalnya, orang yang dari kecil hidup di keluarga kaya, lalu setelah menikah ia miskin.

Jika ia tetap berpola hidup seperti layaknya orang banyak uang, suka makan di restoran dan jalan-jalan ke tempat yang mahal, maka ia telah terjangkit virus “prolonged infantilism.” Orang ini susah beradaptasi terhadap realitas yang dihadapi.

Tidak saja kepada orang kaya yang jatuh miskin, virus ini juga sering menyerang para pejabat yang pensiun, atlet terkenal yang kalah bertanding, artis yang sudah tidak laku di pasaran. Banyak di antara mereka yang tidak mampu beradapatasi dan menerima realitas perubahan hidupnya. Pasalnya, mereka tidak pernah mengantisipasi dan punya kesiapan menghadapi suatu perubahan.

Everett Hagen menyebut orang-orang seperti ini sebagai orang-orang yang berkepribadian otoriter. Orang-orang yang berkepribadian otoriter umumnya tidak bisa menerima nilai-nilai baru dan keadaan yang berbeda dari apa yang dibayangkan oleh otak di kepalanya. Orang-orang macam ini oleh agama (Islam-red) disebut “jahiliyah”.

Ananda Sukarlan (kiri) dan Anies Rasyid Baswedan (kanan).

Dalam politik, penyakit ini sering juga menular kepada mereka yang kalah dalam kompetisi demokratis. Sejumlah kegaduhan pasca Pilpres, Pilkada dan Pileg akibat tidak bisa menerima hasil pemilu adalah indikator bahwa virus “prolonged infaltilism” telah merasuk ke otak mereka. Klinik konstitusional sebagai saluran hukum yang tersedia di MK (Mahkamah Konstitusi) seringkali tidak mampu meyembuhkan penyakit ini.

Keributan di Kemendagri oleh sekelompok orang yang tidak bisa terima hasil Pilkada beberapa waktu lalu adalah salah satu contoh masih terus adanya masyarakat yang terjangkit virus “prolonged infantilism”. Orang-orang seperti ini hampir selalu ada dan kemunculannya semakin banyak sejak pemilu digelar secara langsung.

Mereka mengaku bahwa apa yang mereka lakukan adalah bagian dari proses demokrasi. Mungkin mereka menganggap bahwa demokrasi adalah sarana kebebasan tanpa batas. Ini tentu salah kaprah. Mereka lalai bahwa demokrasi bukan “sarana bebas menghujat dan merusak”, tapi demokrasi adalah “ruang legal untuk berpendapat”. Demokrasi tidak menyediakan sarana menghalalkan semua cara untuk mengejar tujuan.

Banyak orang yang suka klaim dirinya sebagai penganut demokrasi sejati, tapi sikap dan perilakunya jauh dari nilai-nilai yang menunjukkan seorang yang menghormati demokrasi. Apa yang mereka katakan sebagai pejuang demokrasi tidak sesuai dengan apa yang mereka lakukan. Mereka adalah orang-orang “double talk”, ucapan dan sikapnya saling bertentangan. “What they say” berbeda dengan “what they do”.


Peristiwa yang sedang ramai dibicarakan publik di media dan medsos akhir-akhir ini terkait aksi walk out sejumlah orang yang diinisiasi oleh Ananda Sukarlan di acara ultah ke 90 Lembaga Pendidikan Kolese Kanisius juga merupakan “ironi demokrasi”.

Kemarahan terkait keabsahan Anies Baswedan sebagai gubernur mestinya sudah selesai setelah pelantikan. Aturan Pilkada yang mesti jadi acuan, bukan perasaan kecewa dan marah karena kekalahan. Aksi Ananda Sukarlan dan kawan-kawan itu, telah salah waktu dan tempat. Mestinya dilakukan sebelum penetapan KPUD dan di MK.

Secara sosial aksi tersebut sungguh menunjukkan sikap jauh dari etika pendidikan, politik, dan kebangsaan. Apalagi dilakukan di lembaga pendidikan sebesar Kanisius dan kepada tamu yang diundang secara resmi oleh pihak sekolah. Perlakuan secara tidak hormat ini merupakan tindakan anti toleransi dan kontra-demokrasi.

Apakah ini yang disebut sesuai dengan nilai-nilai Kanisius? Pasti tidak! Sekolah adalah tempat orang-orang beradab, bukan panggung kemarahan orang-orang yang sulit beranjak dewasa. Sebaliknya, sikap Ananda Sukarlan justru merupakan bentuk “kekerasaan budaya” kata Eros Djarot.


Aksi walk out saat Anies berpidato setidaknya telah menodai nama besar Kanisius yang selama ini telah berhasil melahirkan orang-orang sukses dan tokoh-tokoh bangsa. Tindakan ini juga telah mempermalukan para alumninya. Peristiwa ini tidak perlu terjadi jika mereka bisa berlapang dada untuk menerima kekalahan sebagai bagian dari “historical necessities”, keniscayaan sejarah.

Dalam sistem demokrasi, menang-kalah itu hal yang lumrah, biasa dan wajar. Menjadi tidak wajar jika pihak yang kalah terus memelihara permusuhan dan sibuk mencari kesalahan lawan. Jika ini yang terpelihara, maka energi bangsa akan banyak terbuang sia-sia.

Anies berhasil mengalahkan Ahok adalah fakta. Saat ini Anies sudah dilantik dan jadi gubernur Jakarta. Sejak dilantik, Anies adalah gubernur seluruh rakyat Jakarta, bukan gubernurnya para pendukung, apalagi timses. Ini suatu keputusan yang sudah ditakdirkan undang-undang. Sepahit apapun, semua pihak mesti terima.

Menyimpan rasa kecewa dan marah tidak akan merubah keputusan politik yang ada. Kecuali hanya akan buang energi. “The past can not be changed” kata Mary Pickford. Akan lebih produktif jika semua energi difokuskan bersama Anies-Sandi untuk membangun kota Jakarta dan bersama-sama menyelesaikan problem Jakarta.


Aksi yang hampir sama juga terjadi sebelumnya, saat Anies Baswedan hadir di acara mantu Presiden Jokowi di Solo. Kehadiran Anies disambut oleh sejumlah tamu undangan dengan ucapan “huuuuu ….” Suara dilontarkan sebagai pesan bahwa mereka belum bisa terima Anies menjadi gubernur DKI. Sikap semacam ini menunjukkan bahwa kita masih harus lebih serius untuk belajar bagaimana cara berdemokrasi yang lebih elegan. Acara pesta agung Presiden Jokowi harus menanggung aib atas ulah segelintir tamu undangan yang terjangkiti virus “prolonged infantilism”. Kata anak muda, mereka masih belum bisa “move on”.

Seorang pemimpin memang harus diuji, termasuk Anies. Peristiwa di atas telah menjadi ujian bagi Anies, sejauh mana ia punya kematangan mental dan kedewasaan bersikap dalam menghadapi dinamika sosial dan politik yang perkembangannya tidak sepenuhnya bisa diduga. Apa jawaban dan reaksi Anies atas “perlakuan kurang terhormat” itu, akan menjadi halaman pertama di mana masyarakat Jakarta siap menuliskan penilaiannya terhadap Anies.

Di satu sisi, sikap mereka memang layak dianggap telah menodai nilai-nilai demokrasi dan pantas mendapat kecaman publik sebagai “social punishment”. Namun di sisi lain, ini justru menjadi bonus politik bagi Anies untuk menunjukkan siapa dirinya.


Menanggapi “suara nyinyir” di pesta mantu presiden Anies terlihat hanya tersenyum. Seolah tidak ada beban di wajahnya, meski telah ditertawakan. Reaksi senyum ini menjadi point penting, sebab ini memberi kesan betapa Anies oleh publik akan dinilai sebagai pemimpin yang memiliki kematangan dalam berdemokrasi. Sikap “dewasa” yang ditunjukkan Anies kelak akan dimengerti sebagai investasi politik yang elegan.

Reaksi Anies ini membuktikan kelasnya sebagai pemimpin yang punya karakter. Pemimpin adalah sosok “eksepsional aktor” atau manusia di atas kemampuan rata-rata (ordinary people). Karena itu seorang pemimpin dituntut punya karakter yang kuat. Menurut Napoleon Bonaparte, tujuh puluh lima persen pengaruh seorang pemimpin ada di karakternya.

Jawaban Anies bahwa aksi walk out sejumlah orang di acara ulang tahun ke-90 Kolese Kanisius adalah hal biasa. Anies menegaskan bahwa tugasnya sebagai gubernur adalah menyapa dan mengayomi semua. Ini jawaban yang menunjukan kelasnya Anies sebagai negarawan, sekaligus menjadi garis tegas yang membedakan dirinya dari gubernur sebelumnya.

Tony Rosyid
Kumparan.com
15 November 2017


Tanggapan Alumni Kanisius Soal Aksi Walk Out Saat Anies Pidato

Aksi walk out oleh musisi Ananda Sukarlan dan beberapa orang lainnya saat Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berpidato menjadi perbincangan. Perhimpunan Alumni Kolese Kanisius memberikan tanggapan resmi terkait aksi itu.

Aksi walk out itu terjadi saat Anies memberikan pidato dalam Perayaan 90 Tahun Kolese Kanisius di Jakarta International Expo Kemayoran. Ananda, merupakan alumni Kanisius, keluar dari ruangan dan diikuti oleh sejumlah orang lainnya.

Setelah aksi walk out usai, Ananda, yang mendapatkan penghargaan, lantas dipersilakan maju ke depan panggung. Dalam sambutannya, Ananda mengkritik panitia karena mengundang pejabat yang menurutnya ‘mendapatkan jabatan dengan cara yang tidak sesuai dengan nilai-nilai integritas yang diajarkan Kanisius’.

Kejadian tersebut lantas disorot. Sedangkan Anies memilih untuk tak mempersoalkannya.


Alumni Kanisius pun angkat bicara. Mereka menyayangkan pidato dan aksi walk out Ananda tersebut. Berikut ini pernyataan alumni Kanisius:

Hari ini Perhimpunan Alumni Kolese Kanisius Jakarta (PAKKJ) mengeluarkan pernyataan resmi mengenai komentar yang disampaikan oleh salah satu alumninya dalam Perayaan 90 Tahun Kolese Kanisius, pada tanggal 11 November 2017.

Kami menghargai kebebasan menyatakan pendapat, namun kami menyayangkan bahwa pernyataan tersebut disampaikan dalam momen yang tidak tepat,” ujar Sharief Natanegara, Ketua Umum PAKKJ.

Ia menjelaskan bahwa kehadiran Gubernur Anies Baswedan dalam acara tersebut justru mendapatkan perhatian dari pihak alumni dan tidak terjadi walk out secara beramai-ramai seperti yang diberitakan di media sosial.

Pesta Raya Kanisius Untuk Indonesia merupakan puncak acara dari rangkaian Perayaan 90 Tahun Kolese Kanisius. Perayaan yang terdiri dari 3 bagian utama: Pesta Anak Bangsa, Doa Bagi Bangsa, dan Simfoni Kanisius Untuk Indonesia, merupakan salah satu bentuk rasa syukur dan ungkapan komitmen dari seluruh Kanisian, Alumni, Para Pater dan Pendidik untuk membentang asa membangun bangsa di tengah keberagaman dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berlandaskan Pancasila.


Kolese Kanisius sudah berdiri dan menjadi bagian dari perjalanan sejarah Indonesia selama 90 tahun dan menghasilkan ribuan alumni dengan spirit “Man for Others” yang telah mendedikasikan karya mereka bagi Bangsa Indonesia tercinta.

Untuk itu Sharief meminta agar seluruh pihak tidak terprovokasi oleh hal-hal yang beredar di media sosial.

Ia juga menjelaskan bahwa pihak sekolah sebagai penyelengara yang mengundang Gubernur telah mengirimkan surat penjelasan kepada Bapak Gubenur.

Salah satu tradisi panjang di Kanisius adalah selalu mengutamakan dan menghargai setiap orang yang hadir di setiap kegiatan yang dilakukan.

Ini sudah menjadi bagian dari nilai-nilai seorang Kanisian yang telah tertanam sejak menjadi siswa di Kolese Kanisius,” tutup Sharief.

Ananda Sukarlan belum bisa dihubungi terkait aksi walk out-nya ini. Telepon dan pesan singkat ke nomor ponsel, yang diberikan langsung oleh Ananda via medsos, belum berbalas.

Repelita Online
14 November 2017
Repelita.com