Tampilkan postingan dengan label Napoleon Bonaparte. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Napoleon Bonaparte. Tampilkan semua postingan

20 Januari, 2020

Mesir Terkesima Melihat Sophia dan Napoleon


Penampilan hebat Sophia membuat terperangah para pemuda dari Arab dan mancanegara yang hadir dalam forum konferensi pemuda internasional di kota wisata Sharm el-Sheikh, Mesir, pada 14-17 Desember 2019.

Forum konferensi dihadiri sekitar 7.000 delegasi pemuda dan pemudi dari 196 negara di muka bumi ini. Sophia menjadi salah satu pembicara dalam forum konferensi pemuda tersebut.

Sophia bisa berbicara dengan fasih dan menjawab pertanyaan para hadirin dengan tangkas dan tepat. Ia pun bisa bergerak dengan lincah yang semakin memukau para penonton dalam forum konferensi itu. Kisah Sophia segera menjadi isu dan ulasan menarik berhari-hari di berbagai media Mesir.


Kolumnis harian Al Ahram, Youssef al-Kayed, dalam artikelnya pada 23 Desember berjudul "Masa Depan Dimulai dari Sekarang" menyampaikan, ia seperti tidak percaya ketika melihat Sophia bisa berbicara dengan fasih di forum pemuda internasional di Sharm el-Sheikh itu.

Akan tetapi, tulis al-Kayed, fenomena Sophia sudah menjadi kenyataan yang akan menjadi bagian kehidupan manusia, cepat atau lambat. Siapakah Sophia?

Alkisah, Sophia adalah manusia robotik yang sengaja didatangkan ke forum pemuda internasional di kota Sharm el-Sheikh dan dipertontonkan di depan pemuda Arab dan asing agar mereka segera sadar bahwa era kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) sudah di depan mata.

Sophia adalah robot buatan pabrikan Hanson Robotics yang berbasis di Hong Kong. Manusia robot Sophia dirancang dengan segala teknologi canggihnya oleh David Hanson yang merupakan pendiri Hanson Robotics. Robot Sophia juga pernah berkunjung ke Indonesia.


Kolumnis harian Al Ahram, Abdel Munim Said, menyebut, robot-robot yang berbasis teknologi kecerdasan buatan kini sudah mudah ditemukan di tempat-tempat yang menerapkan teknologi modern, seperti bandar udara internasional di Abu Dhabi, Dubai, New York, dan Houston.‎

Abdel Munim Said memuji forum konferensi pemuda di Sharm el-Sheikh yang sukses menghadirkan Sophia dan diharapkan menjadi titik balik para pemuda Arab dan bangsa lain untuk semakin bertekad menguasai teknologi, terutama teknologi kecerdasan buatan.

Menurut Said, teknologi kecerdasan buatan adalah teknologi saat ini dan masa depan yang akan mempengaruhi cara hidup manusia secara signifikan.

Adapun Pemerintah Mesir secara khusus ingin memberi pesan kepada para pemuda Arab melalui kehadiran Sophia dalam forum pemuda internasional itu agar mereka segera bangkit untuk meraih dan menguasai teknologi jika mereka tidak ingin digilas zaman. Para pemuda Arab hendaknya melek terhadap kemajuan yang dicapai bangsa lain dengan representasi fenomena lahirnya Sophia itu.

Napoleon Bonaparte di atas kuda berhadap-hadapan dengan patung Sphinx.

Sejarah berulang
Bahkan, beberapa pengamat di Mesir melukiskan, sejarah kini berulang kembali di Mesir dan dunia Arab. Pengamat tersebut membandingkan kehadiran Sophia di Mesir tahun 2019 itu dengan datangnya Napoleon Bonaparte di Mesir pada tahun 1798 yang lalu, sehingga menyebut sejarah berulang kembali.

Kedatangan pemimpin ekspedisi Perancis, Napoleon Bonaparte, dengan membawa bala tentara dan ilmuwan ke Mesir tahun 1798 membuat terperangah penguasa dan rakyat Mesir saat itu. Penguasa dan rakyat Mesir terkesima melihat kemajuan teknologi militer ataupun sipil yang dibawa Napoleon.

Tim ilmuwan Perancis saat itu disebut untuk pertama kalinya memperkenalkan teknologi pertanian dan percetakan kepada rakyat Mesir. Perancis berharap, Mesir yang kaya ilmuwan dan kaya lahan subur berkat Sungai Nil bisa terpikat dengan teknologi pertanian dan percetakan Perancis. Peralatan militer canggih bala tentara Napoleon juga dipertontonkan di jalanan kota Alexandria dan Kairo.

Pamer kemajuan teknologi Perancis saat itu membuat sadar penguasa dan rakyat Mesir bahwa mereka adalah bangsa yang telah tertinggal jauh dari bangsa Eropa yang sudah sangat maju.


Akibat ekspedisi Perancis pimpinan Napoleon itu, penguasa Mesir, Muhammad Ali Pasha (1805-1848), melakukan modernisasi di Mesir dengan mengirim pemuda-pemuda terbaik Mesir ke Perancis untuk menimba ilmu-ilmu modern.

Setelah beberapa abad dari ekspedisi Napoleon itu, kini rakyat Mesir dan dunia Arab kembali terkesima dengan kemajuan teknologi kecerdasan buatan yang direpresentasikan melalui kehadiran Sophia di kota Sharm el-Sheikh.

Presiden Mesir saat ini, Abdel Fatah el-Sisi, dan pemimpin Arab lain tentu akan memiliki pekerjaan rumah besar untuk bisa mengikuti jejak penguasa Mesir Muhammad Ali Pasha pada awal abad ke-19 dengan segera melakukan modernisasi. Apalagi, Sisi adalah inisiator dan mengontrol langsung jalannya forum konferensi pemuda internasional itu.

Rekomendasi dari forum konferensi pemuda itu, terlihat memang ada tekad dari Sisi agar Mesir segera bersentuhan dan memasuki era kecerdasan buatan. Di antara rekomendasi itu, agar segera dimulai proses pembangunan pusat regional untuk proyek penerapan teknologi kecerdasan buatan yang akan bermarkas di Mesir.


Presiden Sisi juga mengumumkan pembentukan generasi baru mulai tahun ajaran 2020-2021 dengan cara membuat kurikulum baru yang modern. Hal itu bertujuan untuk mempersiapkan pemuda Mesir agar siap memasuki pasar kerja berbasis teknologi modern, khususnya teknologi kecerdasan buatan.

Presiden Mesir itu menegaskan, masa depan Mesir untuk bisa bersaing dengan negara-negara lain akan tergantung sejauh mana pemuda Mesir bisa menguasai teknologi modern.

Sisi juga mengungkapkan, Mesir akan segera memiliki ibu kota baru (sekitar 60 kilometer arah timur kota Kairo), yang akan menerapkan teknologi kota cerdas (smart city) dan akan menjadi titik balik peradaban di Mesir. Dijadwalkan kantor-kantor pemerintah akan pindah ke ibu kota baru itu secara bertahap mulai Juni 2020.

Mesir diharapkan kembali menjadi lokomotif pembaruan di dunia Arab saat ini, seperti halnya peran Mesir yang memimpin gerakan pembaruan Arab pada abad ke-19.

Musthafa Abd Rahman,
Wartawan Senior Kompas
KOMPAS, ‎3 Januari 2020

25 September, 2016

Gubernur DKI dan Keputusan Seorang Mayor


Pada kesempatan terakhir dari batas waktu pendaftaran bagi calon gubernur DKI, muncul nama seorang Mayor lulusan Akademi Militer. Sebuah keputusan yang terlihat sebagai sebuah keputusan yang “last minute”.

Pada umumnya keputusan yang diketahui sebagai sebuah keputusan yang “last minute” pasti  ada sebabnya.  Mengapa baru atau harus muncul pada “last minute”?

Itu pula sebabnya maka sebuah keputusan yang muncul di “last-minute” akan mengundang banyak sekali pertanyaan yang menuntut jawaban.

Dan pada setiap pertanyaan yang menuntut jawaban, menjadi biasa sekali pula untuk munculnya sekian banyak komentar, tanggapan serta jawaban-jawaban dari pertanyaan tadi yang terkadang spekulatif sifatnya.

Dalam kepemimpinan militer banyak sekali diajarkan tentang keteladanan. Tidak hanya diajarkan sejak dari awal seseorang memasuki dinas ketentaraan, akan tetapi dapat dikatakan dalam hampir setiap kegiatan sehari-hari.


Contoh dan teladan
Maka, inti sari dari sebuah kepemimpinan di militer akan selalu bergumul dengan bagaimana mekanisme “memberi contoh” yang baik terlebih dahulu.

Sudah menjadi sebuah nilai yang universal bagi dunia militer di mana saja di permukaan bumi ini hal yang utama dan pertama yang diberikan kepada calon tentara adalah “memberi contoh” yang baik.

Sebuah langkah wajar sekali dan sangat logis bagi seseorang yang masuk ke bidang kehidupan baru adalah mulai sejak awal harus segera menyesuaikan diri tentang bagaimana harus bersikap.

Bagaimana menyesuaikan diri, itulah yang membutuhkan “contoh”.


Contoh yang baik yang diberikan pada saat paling dini tentu saja akan sia-sia bila tidak berlanjut pada kegiatan harian yang membentuk sebuah keteladanan.

Berangkat dari hal-hal yang sederhana sifatnya, belajar baris berbaris, belajar bagaimana melaksanakan penghormatan sebagai tentara, belajar cara berdiri sikap sempurna dan sikap istirahat dalam barisan.

Kesemua itu membutuhkan “contoh yang baik”, contoh yang seharusnya standar, contoh yang baku.


Selanjutnya dalam pendidikan dan latihan, terutama sekali pada awal-awal perjalanan karier seorang anggota militer, sulit sekali mengesampingkan faktor keteladanan dalam konteks kepemimpinan.

Dalam bahasa yang agak berbeda, namun memberikan pengertian yang sangat jelas tentang hal tersebut, Jenderal Colin Powell menguraikan intisari dari pengalaman panjangnya sebagai komandan dan atau panglima.

The most important thing I learned is that soldiers watch their leader do. You can give them classes and lecture them forever, but it is your personal example they will follow.

Kiranya menjadi jelas sekali bahwa seorang Mayor yang sudah banyak sekali dibekali tidak sedikit classes dan lecture bahkan sampai pada strata yang cukup tinggi, tetap saja dan ternyata Sang Mayor will follow personal example. Mengikuti jejak personel yang jadi contoh.


Militer yang sukses
Meski representasinya hanya sedikit, bagi para lulusan akademi militer, contoh tentang lulusan yang sukses dan populer adalah mereka yang menjadi politikus dan pengusaha.

Banyak sekali lulusan akademi militer yang tampil sebagai tokoh-tokoh penting, mulai dari presiden, menteri, dirjen, sekjen, gubernur, bupati dan lain sebagainya. Demikian pula dengan tokoh-tokoh besar yang muncul sebagai pengusaha yang sukses.

Dengan demikian fenomena gubernur DKI dan sebuah keputusan seorang berpangkat Mayor menjadi tidak begitu aneh sebagai sebuah gejala yang akan bergulir selanjutnya ke depan.

Sebuah fenomena yang will follow personal example, seperti dikatakan Colin Powell. Sebuah fenomena yang memang berujud gejala mengikuti keteladanan yang tampak terang benderang di depan mata mereka.

Robert Waldinger, seorang pendeta yang juga seorang psikiater dan analis psikologi, dalam penjelasan dari hasil penelitian tentang tujuan hidup seseorang yang telah berlangsung dua generasi, mengatakan, sudah menjadi tujuan hidup setiap orang untuk mencapai sukses.

Apa itu sukses? Ukurannya adalah menjadi seseorang yang populer selain untuk menjadi orang kaya.


Pemimpin sejati
Sebenarnya dalam teori kepemimpinan cukup banyak pula yang mengutarakan tentang apa dan siapa pemimpin sejati.

Diskusi mengenai pemimpin sejati, sayangnya sering berakhir pada beberapa kesimpulan yang kadang tidak mudah untuk dimengerti dengan baik.

Kerap disebut bahwa seorang pemimpin sejati adalah dia yang memiliki kepercayaan diri yang kokoh untuk berdiri sendiri, berani untuk mengambil keputusan-keputusan yang sulit dan mengandung risiko, sekaligus memiliki rasa kasih sayang dalam konteks peduli dengan kebutuhan orang lain.

Dikatakan pula, pemimpin juga tidaklah berujud seseorang yang selalu berusaha mengajukan dirinya untuk menjadi pemimpin, akan tetapi seseorang yang kualitas tampilan sosok dan karakter pribadinya terlihat menonjol sehingga banyak orang lain yang justru memintanya untuk menjadi pemimpin mereka.


Dia adalah sosok seorang dengan integritas yang terlihat menonjol dalam keseharian dibanding orang-orang lain di sekitarnya.

Pemimpin laksana seekor elang yang tidak pernah terbang berkelompok, tetapi terbang seorang diri sebagai pemberani, jauh dari kepura-puraan yang tentu saja kemudian hanya akan dapat dijumpai atau muncul pada saat-saat tertentu saja.

Lalu bagaimana kita bisa berharap untuk dapat melihat banyak generasi muda tentara Indonesia berkompetisi dengan sehat dan penuh antusias untuk menjadi jenderal, laksamana dan marsekal.

Memberikan banyak pelajaran kepada para perwira tentang perang dan peperangan, tentang strategi dan taktik militer, tentang semua hal yang merupakan tugas pokok sebuah organisasi yang memang didesain untuk perang adalah sangat penting dalam pembinaan perwira.


Mungkin tidak cukup hanya diberikan pada sekolah staf dan komando saja, tetapi kebiasaan mempelajari, membahas dan mendiskusikan semua aspek tentang perang-perang yang pernah terjadi, seharusnya lebih diberikan kesempatan pada seluruh perwira.

Mempelajari apa yang diperbuat oleh para panglima-panglima perang kenamaan yang sukses memenangkan perang harus dapat disajikan dengan menarik kepada para calon komandan dan panglima.

Membaca literatur dari para suhu dan jagoan perang juga akan sangat bermanfaat dalam keseluruhan pembinaan perwira militer.

Kesemua itu dapat sedikit banyak membantu turut membentuk karakter perwira sebagai ksatria penjaga bangsa dan ibu Pertiwi yang tidak mudah tergoda dengan sekedar popularitas dan kekayaan.


Napoleon Bonaparte bahkan menyerukannya dengan spesifik, “Read over and over again the campaigns of Alexander, Hannibal, Caesar, Gustavus, Turenne, Eugene and Frederic…..this is the only way to become a great general and master the secrets of the arts of war.

Saya menerjemahkan dengan bebas, baca, baca dan bacalah lagi! Sayangnya, membaca adalah justru kelemahan terbesar dari banyak para perwira kita.

Negeri ini membutuhkan tentara sejati, anak-anak muda pemberani, para perwira ksatria yang senantiasa siap mengabdikan dirinya kepada negara dan bangsa yang dicintainya dan tidak kenal menyerah.

Berpulang juga tanggung jawab ini kepada kita semua untuk saling bahu membahu agar negeri ini dapat menghasilkan para perwira sejati yang tidak mudah tergoda kepada hal-hal selain bagi kejayaan Indonesia.

Chappy Hakim
Kepala Staf Angkatan Udara Republik Indonesia 2002-2005,
Ketua Tim Nasional Evaluasi Keselamatan Keamanan Transportasi 2007,
Juga seorang penulis buku
KOMPAS, 24 September 2016