29 September, 2009

Anak Punya Anak


Remaja 13 Tahun Itu Sudah Jadi Ayah

Alfie Patten tidak pernah mengira hubungan seks yang hanya sekali dengan kekasihnya, Chantelle Steadman, berbuntut panjang. Chantelle yang masih berusia 15 tahun pun hamil, sementara Alfie baru 13 tahun.

Bayi mereka lahir di Eastbourn, Inggris, Senin (9/2/2009). Saat Chantelle hamil sembilan bulan lalu, mereka menolak aborsi. “Saya pikir asyik juga punya bayi,” kata Alfie yang suaranya belum pecah itu. Saat ditanya bagaimana dia bakal menghidupi anak yang diberinya nama Maisie Roxanne itu, Alfie mengaku tidak tahu. “Saya tidak mendapat uang saku. Kadang-kadang saja Ayah memberi saya 10 poundsterling.”

Saya juga tidak tahu caranya menjadi ayah. Tapi saya yakin kok, bisa jadi ayah yang baik dan merawat anak itu,” katanya yakin. Alfie berusaha menunjukkan tanggung jawabnya sebagai ayah dengan menjadi orang pertama yang menggendong bayi berbobot 3,5 kg itu.

“Dia bisa saja tidak peduli dan bermain PlayStation saat Chantelle melahirkan. Namun, Alfie mau menunggui pacarnya di rumah sakit,” ujar Dennis Patten (45), ayah Alfie. Chantelle tahu dirinya hamil saat memeriksakan diri ke dokter karena sakit perut. “Saya diantar Alfie. Dokternya tanya apakah kami berhubungan seks. Saya lalu dites kehamilan. Saya menangis waktu dokter bilang saya positif hamil,” cerita remaja bongsor itu.


Chantelle mengaku takut memberitahu ibunya. “Saya pikir Mama bakal membunuh saya.” Chantelle kini membawa Maisie ke rumah ibunya di Eastbourne. Di rumah itu ia tinggal bersama orangtuanya, Penny dan Steve, serta lima saudara laki-lakinya. Karena Steve menganggur, mereka hidup dari tunjangan pemerintah.

Alfie masih tinggal dengan ayahnya, tetapi setiap hari menengok bayinya. Sikapnya masih seperti anak-anak seusianya. Dia suka bermain komputer, bertinju, dan nonton Manchester United bertanding. Dennis, ayah Alfie, sangat terpukul ketika tahu anaknya yang masih bocah itu juga akan menjadi ayah.

Alfie menangis dan mengaku itu hubungan seks pertamanya dan tidak tahu konsekuensinya. Meski terlambat, saya harus bicara lagi dengannya supaya dia paham benar perbuatannya, dan agar tidak ada bayi lagi,” tandas Dennis yang merupakan ayah sembilan anak itu.

Kistyarini
KOMPAS.com, 14 Februari 2009


Alfie Patten, you are not the father ....

if you remembered the 13-year-old father Alfie Patten and 15 year-old mother Chantelle Steadman?

Now the DNA test show Alfie Patten is not a dad, wow! The 15 year-old Chantelle has cheated him, a poor boy?

"A DNA test showed a 13-year-old boy in Britain is not the father of a baby born to a 15-year-old he had unprotected sex with once.

Chantelle Stedman told Alfie Patten, who was 12 when he slept with her, he was her newborn daughter Maisie's father.


The story caused a worldwide media frenzy after it was first reported by Britain's Sun newspaper, while politicians criticised what they called Britain's declining morals.

At first Stedman said Patten was the only boy she had ever slept with, but soon after other teens came forward saying they too could be the baby's father, because they claimed to have had sex with the girl.

It is still not clear who the baby's father is."

By Ben on Fri Mar 27 2009
http://www.likecool.com/Alfie_Patten_is_not_a_dad--News--Gear.html


DNA Test Reveals Alfie Is Not The Father

When Alfie Patten’s girlfriend of two years, Chantelle Stedman, gave birth to a girl baby early this February, he was proud at the thought of becoming Britain’s youngest father. He seemed devoted to the child, Maisie, promising to leave school as soon as possible so he could be financially responsible for her and even missing days from school to take care of who he though was his daughter. Alfie’s dream of playing father has come crumbling down with the latest revelations.

Alfie didn’t believe it when Tyler Barker claimed to be the father of Maisie just days after her delivery, even adding that Chantelle had slept with five other boys at school, because she had promised Alfie that she was a virgin. Alfie’s belief even prodded him to declare his trust in her by wearing a t-shirt screaming out I’m the Daddy! DNA tests done after six different boys claimed to be the child’s father has now proven that little Alfie is in fact not the real father. 14 year old Tyler Barker can now proudly lay claim to this admirable feat. The tests were done on the boys after child services stepped in due to the disturbing news that Chantelle had sexual relations with other boys in her school.


Tyler’s father claims Chantelle seduced him while he was drunk and that the boy had wept at the idea of being the child’s father. Before the results of the tests were revealed, Tyler said that he had never truly fancied Chantelle and that he hoped he was not the father. With the latest news, though, Tyler insists he would take responsibility for his child. The idea of teenage boys fighting for the baby as they would fight over a rare baseball card is shocking enough, but more shocking is the revelation that Chantelle’s mother was aware that Tyler had slept over at her place regularly but never came forward to admit this. Britain has the highest rate of teenage pregnancies, and yet when Chantelle and Alfie first announced their decision not to abort the child they were lauded by the anti-abortion Christian charity, LIFE.

http://trendsupdates.com/dna-test-reveals-alfie-is-not-the-father/

28 April, 2009

1 Tamparan 3 Pertanyaan


Ada seorang pemuda yang lama sekolah di luar negeri. Kembali ke tanah air, sesampainya di rumah ia meminta kepada orang tuanya untuk dicarikan seorang guru agama, kyai atau siapa saja yang bisa menjawab 3 pertanyaannya. Akhirnya orang tua pemuda itu mendatangkan seorang kyai kepada pemuda tersebut.

Pemuda: Anda siapa? Dan apakah bisa menjawab pertanyaan pertanyaan saya?

Kyai: Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan menjawab pertanyaan anda.
Pemuda: Anda yakin? Sedangkan Profesor dan semua orang yang pintar tidak mampu menjawab pertanyaan saya.

Kyai: Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya.
Pemuda: Saya ada 3 pertanyaan:
Pertama; ”Kalau memang ALLAH itu ada, tunjukan wujud ALLAH kepada saya!”
Kedua; ”Apakah yang dinamakan takdir?”
Ketiga; ”Kalau setan diciptakan dari api kenapa dimasukan ke neraka yang dibuat dari api? Tentu tidak menyakitkan buat setan. Sebab mereka memiliki unsur yang sama. Apakah ALLAH tidak pernah berfikir sejauh itu?”

Tiba-tiba kyai tersebut menampar pipi pemuda itu dengan keras.

Pemuda (sambil menahan sakit): Kenapa anda marah kepada saya?
Kyai: Saya tidak marah.... Tamparan itu adalah jawaban saya atas 3 pertanyaan yang anda ajukan kepada saya.
Pemuda: Saya sungguh-sungguh tidak mengerti.

Kyai: Bagaimana rasanya tamparan saya?
Pemuda: Tentu saja saya merasakan sakit.
Kyai: Jadi anda percaya bahawa sakit itu ada?
Pemuda: Ya!
Kyai: Tunjukan pada saya wujud sakit itu!
Pemuda: Saya tidak bisa.
Kyai: Itulah jawaban pertanyaan pertama.... Kita semua merasakan kewujudan ALLAH tanpa mampu melihat wujudnya.

Kyai: Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya?
Pemuda: Tidak.
Kyai: Apakah pernah terfikir oleh anda akan menerima tamparan dari saya hari ini?
Pemuda: Tidak.
Kyai: Itulah yang dinamakan "TAKDIR".

Kyai: Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar anda?
Pemuda: Kulit.
Kyai: Terbuat dari apa pipi anda?
Pemuda: Kulit.
Kyai: Bagaimana rasanya tamparan saya?
Pemuda: Sakit.
Kyai: Walaupun setan dijadikan dari api dan neraka juga terbuat dari api, jika ALLAH menghendaki maka neraka akan menjadi tempat yang menyakitkan untuk setan.

Sumber: http://kenduricinta.com/serambi.php

11 Desember, 2008

Perlu Langkah-langkah Luar Biasa


Ada dua tantangan besar yang menghadang bangsa Indonesia di pengujung tahun 2008 dan 2009, yakni bagaimana mengelola dampak krisis ekonomi global dan agenda pemilu dalam negeri tahun 2009. Keduanya menuntut respons dan penanganan yang bukan saja antisipatif, tetapi juga cepat, tegas, dan fokus.

Berdasarkan konsensus para panelis pada Diskusi Panel Ahli Ekonomi Kompas, kondisi ekonomi yang kita hadapi ke depan ini sangat serius. Tiga perekonomian terbesar negara maju seluruhnya melambat dan sudah resmi resesi.

Krisis yang dihadapi AS dan negara-negara maju lain sekarang ini ibaratnya sudah paripurna karena yang diserang adalah sektor keuangan sebagai jantung perekonomian yang berfungsi untuk memompakan darah ke seluruh perekonomian. Akibatnya terjadi malafungsi (kelumpuhan) seluruh sistem yang membuat pemerintah harus mem-bailout sektor perekonomian, mulai dari perbankan, keuangan, manufaktur, jasa, produsen, hingga konsumen.

Ibarat virus, krisis ini dengan cepat merembet ke seluruh sektor sehingga ekonomi AS paling cepat diperkirakan baru akan mulai bangkit secara gradual akhir tahun 2009.

Untuk pertama kali sejak tahun 1982, perdagangan global diperkirakan akan mengalami kontraksi. Investasi asing dan arus likuiditas jangka pendek juga mengering. Pasar saham dan nilai tukar mata uang banyak negara kolaps, inflasi di sejumlah negara melonjak.

Realitas baru
Ada beberapa hal yang bisa dicatat dari krisis sekarang ini. Pertama, krisis membuat kita dihadapkan pada suatu realitas baru (facing new realities). Salah satunya, pertumbuhan ekonomi 2009 dan 2010 kemungkinan tidak akan mencapai 6-7 persen seperti diprediksi pemerintah, tetapi hanya 4-5 persen atau paling tinggi 5 persen. Demikian pula, kecil kemungkinan kurs rupiah akan menguat kembali ke level sekitar Rp 9.000 per dollar AS dalam 1-2 tahun ke depan.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengakui, ancaman pelambatan ekonomi itu riil, dengan pertumbuhan tahun 2009 berdasarkan skenario terburuk bisa hanya 4 persen. Dengan pertumbuhan sebesar itu, jelas bukan hanya sulit berharap lapangan kerja baru, tetapi akan semakin banyak pemutusan hubungan kerja terjadi.

Realitas baru ini menuntut pula cara berpikir (mindset) baru, terutama di kalangan pengambil kebijakan, terkait pilihan kebijakan dan urgensi langkah yang akan diambil. Hal yang paling sulit dilakukan sekarang ini adalah mengakui ekonomi dalam kondisi krisis. Belum semua pihak di tataran pemerintahan melihat krisis global ini sebagai sesuatu yang sangat serius.

Hal lainnya, banyak proyek pembangunan, terutama megaproyek infrastruktur, kemungkinan bakal terhambat dan mengakibatkan backlog dan bottleneck yang semakin parah dalam perekonomian, termasuk yang terancam adalah proyek listrik 10.000 megawatt, jalan pelabuhan, dan jalan tol.

Kedua, krisis juga menuntut tindakan cepat dan langkah-langkah yang tidak biasa untuk menggerakkan ekonomi. Beberapa langkah yang diusulkan adalah, pertama, segera menurunkan suku bunga.

Langkah BI menaikkan atau mempertahankan suku bunga yang dibarengi upaya pemerintah menekan defisit (karena mengkhawatirkan pembiayaannya) dianggap tak wajar karena pada kondisi resesi, yang diperlukan adalah pelonggaran kebijakan moneter dan stimulus ekonomi. Negara lain juga berlomba membuat stimulus untuk menggerakkan ekonominya.

Baru awal pekan ini BI akhirnya menurunkan BI Rate. Namun, sejumlah panelis meragukan penurunan BI Rate ini akan segera diikuti penurunan suku bunga kredit. Konservatisme berlebihan menghadapi krisis likuiditas membuat semua bank berusaha mengamankan basis deposito dengan menaikkan suku bunga deposito.

Meski sudah ditempuh beberapa langkah oleh BI untuk memperlonggar dan memperbaiki likuiditas perbankan, likuiditas masih cenderung terkonsentrasi di segelintir bank besar. Untuk mengatasi ini, diusulkan beberapa terobosan.

Selain itu, diusulkan agar bank BUMN menjadi market leader untuk menurunkan suku bunga deposito agar suku bunga kredit juga bisa ikut turun sehingga sektor riil bisa bergerak.

Persoalannya, kita dihadapkan dua kendala: lemahnya efektivitas belanja negara dan birokrasi pemerintahan serta problem sustainabilitas fiskal, terutama membengkaknya utang pemerintah dan menurunnya penerimaan negara (khususnya dari pajak) akibat krisis. Lemahnya efektivitas budget dan birokrasi sebagai pelaksanaannya ini membuat stimulasi fiskal berisiko tak mencapai sasaran seperti yang diharapkan.

Sampai di mana ketegaran perekonomian kita menghadapi tsunami krisis ekonomi global ini? Seperti dikatakan seorang panelis, kita memiliki beberapa faktor yang bisa memperkuat daya tahan. Salah satunya, perekonomian kita tak terlalu terkait erat dengan perekonomian AS dan sektor keuangan AS.

Ditambah upaya menjaga momentum kepercayaan terhadap ekonomi dalam negeri dan konsumsi domestik, keenam faktor itu bisa menjadi modal dasar yang baik untuk bisa bertahan dari krisis kendati ekonomi pasti tetap akan melambat. Yang menjadi persoalan, mampukah kita mengelola dan menjaga momentum kepercayaan ekonomi dalam negeri itu.

Sri Hartati Samhadi
KOMPAS, 11 Desember 2008